5 ~ Cinderella Gagal

105 9 1
                                        

Teman-teman terdekat saya pada masa SMA pasti tahu perjuangan saya menjadi orang lain. Masa yang disebut orang sebagai masa pencarian jati diri. Saat itu saya baru gemar-gemarnya belajar Islam. Lalu, tibalah pada masa dimana saya melihat mbak-mbak itu kok gamisnya lebar-lebar, kerudungnya panjang-panjang, mereka pada lembut-lembut ya. Sementara saya? Duh boro-boro.

Maka, masa saya belajar Islam atau siapapun yang sedang berusaha mempelajari Islam pasti akan mengalami benturan-benturan antara kehidupan lama dengan kehidupan baru yang sedang dipelajarinya. Pada fase ini saya belajar untuk 'peka dan lembut'. Karena saya baru sadar bahwa Islam menuntut kita jadi orang yang peka sekaligus lembut pada sesama muslim.

Saya ingat pada fase itu saya berusaha untuk tidak banyak bicara, ramah, dan what so called, peka.

Kalau saya bertanya ke orang lain, "gimana sih caranya saya bisa peka,"

Mereka akan menjawab, "Banyak-banyakin observasi lingkungan sekitar kita,"

Pada saat itu saya nggak paham. Apa sih yang dimaksud dengan observasi. Apakah ngelihatin orang terus, atau kayak gimana. Saya pada saat itu bener-bener desperate buat langsung berubah jadi cinderella. Jadi mbak-mbak yang kalem itu. Cling.

Saya ingat saya punya jurnal observasi pada saat itu. Isinya pengamatan-pengamatan saya pada orang lain. Sukanya apa dan ga sukanya apa. Tapi, untuk mengumpulkan hal-hal itu saya dipenuhi dengan perasaan "duh kok nggak bisa-bisa, sih".

Saya sempat marah pada diri saya nggak bisa-bisa jadi kayak gitu. Patah. Lalu saya kembali lagi menjadi orang yang keras.

Begitu saya semakin bertambah usia, saya semakin paham, bahwa hijrah itu tidak harus menjadi orang lain. Tapi, bagaimana kita bermain dengan modal yang Allah kasih ke kita dan mengolah modal itu.

Bagi yang kenal saya, saya orangnya sebenarnya keras dan anti kompromis terhadap diri saya. Saya orangnya susah senyum. Saya keras dan nggak peka. Makanya, saat Islam menuntut pemeluknya menjadi orang yang punya kepekaan terhadap sosial saya merasa 'duh, mati gue, bukan gue banget,'.

Dalam perjalanan saya, saya menemukan banyak fakta mereka yang sama-sama beriktikad untuk hijrah. Banyak terjadi dilema-dilema internal disamping juga ada dilema-dilema eksternal. Dilema internal seringkali dari diri yang merasa bahwa sosok yang ideal itu seperti si A, si B, dan si C. Pertanyaan-pertanyaan ini sering muncul di para cewek, "Mbak, saya pengen jadi lembut, pengen deh" atau "Duh, gimana ya caranya jadi kayak mbak itu, kalem banget,"

Sejatinya ada hal-hal yang harus kita petakan, yaitu, memaknai diri sesuai dengan koridorNya. Apa sih artinya lembut, apa sih artinya peka, apa sih artinya tolong menolong itu. Kata Allah dalam Alquran, orang yang lembut hatinya adalah orang yang ketika mendengar ayat-ayat Alquran ia merasa tersentuh (wajilat quluubuhum) sekalipun dia orang yang terkenal bermarga dari suku yang keras baik karakter maupu logatnya. Tapi, begitu denger ayat Al-Quran, langsung tunduk, Allah katakan ia peka. Sebaliknya, kalau misal ia terlihat mempunyai karakter lembut, tapi, begitu diseru dengan Al-Quran ia menolak, maka bergeserlah makna lembut itu.

Soal kita lahir dimana, misal suku yang lembut atau yang lebih lembut lagi, dan diberi Allah karakter seperti apa, itu adalah modalitas yang kudu kita terima sebagai bagian dari keimanan. Ya iyalah, itu qadha Allah.

Tapi, mungkin kita sempat lupa, bahwa Allah dengan keagungannya sudah memberi kita contoh sedemikian rupa empat karakter berbeda dalam kepemimpinan Islam di masa Khulafaur rasyidun. Ada Abu Bakar yang terkenal mampu menempatkan diri, ada Umar yang terkenal garang, ada Utsman yang kalem dan ada Ali yang cerdas. Di tubuh para shahabiyyah juga ada, misalnya Ummul Mukminin Khadijah yang tenang, Aisyah r.a yang cerdas lagi menggebu-nggebu, ada Ummu Sa'diyah yang dermawan lagi lemah lembut, dan banyak lainnya.

Seiring bertambahnya waktu, saya paham bahwa Islam itu indah dan sesuai fitrah. Bukan menjadi orang lain. Tapi, menjadi versi setingkat lebih baik dari diri kita yang lama. Saya berkarakter keras. Boleh banget. Karakter keras itu boleh dalam Islam as long as in a good way. Antri kompromis sama kemaksiatan. Ada Umar, yang bahkan setan aja takut sama umar karena ketegasan beliau. Sebaliknya, ada yang berkarakter lembut, tapi begitu ada kemaksiatan didiemin aja, eh, mungkin perlu ditempatkan kembali makna lembutnya.

Akhirnya, saya berhenti fokus pada kelemahan saya, tapi saya fokus pada apa yang saya bisa, sambil sedikit-sedikit saya mengurangi apa yang kurang tepat dari diri saya. Saya fokus mengelola kemampuan analisis saya, saya fokus pada karakter serba ingin tahu, menyukai tantangan dan sebagainya.

Bagi yang terkenal lucu dan kocak, nggak perlu menjadi pendiam. Bisa jadi guyonannya jadi lahan dakwah. Bagi yang pembawaannya kalem nggak perlu ngiri sama yang energic, semua punya hikmahnya masing-masing. Semua punya perannya masing-masing. Nggak usah khawatir. Kita tinggal fokus mengupgrade apa yang bisa diupgrade.

Percayalah, Islam itu sesuai fitrah dan hambaNya. Cocok untuk karakter apa aja.

Ngemil MaknaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang