Pernah tidak secara terus menerus merasa mengambil keputusan yang salah. Aku sedang mengalaminya lho. Dan beberapa diantara pilihannya fatal dampaknya.
Akhir-akhir ini, dua tahun terakhir, aku ngerasa banyak sekali salah dlm mengambil keputusan.
Bertubi2, penyesalan datang menghantui. Apalagi jika efek keputusan itu tidak hanya berimbas pada diri sendiri. Melibatkan orang lain.
Kata2 seperti, "Fakhi, bodoh banget sih, stupid, kok bisa siih," terus menerus menggerayangi dan masuk ke bawah menggerogoti banyak hal, seperti produktivitas (kalau kalian melihat aku masih bisa beraktivitas seperti biasa di siang hari, kalian tidak tahu betapa aku berjuang untuk sanggup bertahan di malam hari utk terus bekerja, dengan energi yang seringkali habis di siang hari, anhedonia hadir, segala sesuatu yang menyenangkan tidak lagi terasa menyenangkan).
Yang paling mengganggu tentu menurunnya produktivitas. Akal sehatku berkata, masih banyak hal baik yang bisa dilakukan, masih ada sisa2 yg masih bisa diperbaiki. Tetapi, pengendalian rasa bersalah yang jelek menghijack semua semangat dan rasa ingin maju.
Setiap hari, doaku sederhana, Ya Allah kuatkan hamba untuk memperbaiki apa2 yang telah salah hamba ambil dlm masa muda ini.
Suatu hari, saya berdialog dg seorang kawan, dia berkata, "Karena kamu berjiwa penakluk, coba jadikan semua kesalahanmu sebagai tantangan. Orang yang hebat adl dia yang bisa meningkatkan laba perusahaan dari yang minus, penuh hutang jadi surplus. Allah jadikan kondisi ini sebagai salah satu achievementmu kelak, kamu pernah di posisi sangat minus, tapi setelah itu, jika kamu mau, kamu bisa surplus. Kekang ego dan emosimu. Kontrol. Play the game."
Pikiran itu terus hadir, hingga satu hal yang terus saya ucap berulang "Fine, let's play the game. Throw me challenge, i will fight it. Try me. I am strong," dan saya hingga detik ini berjuang untuk melalui tantangan demi tantangan. Meski kadang saya pernah sampai sangat ingin muntah menghadapi sesuatu, saking saya memaksakan diri menyelesaikannya. Saya break sejenak dan lanjut lagi. Ingin muntah, break lagi, lanjut lagi. Nangis di akhir hari, lebam, besoknya berangkat lagi, jalani lagi.
"Selesaikan, ayo selesaikan. Tanggungjawab ayo tanggung jawab,"
Semoga kamupun demikian. Bagaimanapun keadaannya, kita tetap memutuskan untuk berjalan, diam tidak membawa perubahan apa-apa. Semoga kamu pun memutuskan untuk terus berjalan, sembari terus menyemat doa2 ke haribanNya.
Kita semua berjuang, kamu tidak sendirian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ngemil Makna
Nonfiksi[Rank #1-Makna] For the meaning of life differs from man to man, from day to day and from hour to hour. What matters, therefore, is not the meaning of life in general but rather the specific meaning of a person's life at a given moment. (Viktor E...
