Ini adalah akhir dari perjalanan reguler saya ke Bandung. Mungkin akan ke Bandung lagi, tapi tak sereguler setahun ini. Kereta Lodaya, Mutiara Selatan dan lainnya menjadi kawan setia menemani setiap cerita perjalanan.
Kali ini saya memilih kereta bisnis, yang duduknya cuma berdua. Saya memesan seat sebelah jendela. Tak diyana, kursi di samping saya diisi oleh seorang bapak-bapak usia baya. Ya bagaimana lagi bukan kereta pribadi, hehe
Sepanjang perjalanan, belum ada percakapan apapun sejak pertama kami duduk sekursi. Saat subuh tadi, saat saya selesai sholat 2 rokaat di atas kursi kereta, eh, bapak itu pertama kali menyapa saya, bukan dari mana mbak, atau akan kemana. Tapi, pertanyaan yang membuat saya terkesima. Kalimat pertama yang terlontar dari mulut beliau adalah, "Mbak, ajari saya sholat subuh di kereta. Caranya bagaimana ya mbak?,"
MashaAllah
Saya kembali tertegun. Tak kenal, tak bersapa, tapi beliau dengan ikhlas, belajar kepada orang asing. Saya mengangguk sopan dan mencontohkan setiap gerakan.
Selesai belajar kilat, beliau langsung sholat subuh di kereta, sesuai yang baru dipelajari barusan. Kami tidak bercakap-cakap kembali. Satu-satunya interaksi saya adalah menunjukkan gerakan sholat tadi.
Saya kembali terharu, saya belajar banyak dari sang bapak. Tidak malu bertanya dan belajar, meski pada orang yang tak dikenal dan jauh lebih muda.
Ah, jadi malu semalu-malunya, sudahkah semangat belajar kita selevel itu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Ngemil Makna
Non-Fiction[Rank #1-Makna] For the meaning of life differs from man to man, from day to day and from hour to hour. What matters, therefore, is not the meaning of life in general but rather the specific meaning of a person's life at a given moment. (Viktor E...
