12 ~ Ruang Interogasi yang Bebas Gue Masuki

48 2 0
                                        

Pak Kas, Bang Jul, dan Bu Han. Begitulah saya memanggil mereka. Sebab, saya tidak tahu mereka dipanggil apa oleh yang lain. Itupun saya curi-curi dengar. Saya bertemu mereka di sebuah ruangan, sekitar empat kali lima. Untuk masuk ke ruangan ini dibatasi jeruji besi. Di dalam ruangan ini ada papan grafik narapidana. Satu meja dengan dua kursi berhadapa di kanan kirinya. Sisanya kursi-kursi duduk diletakkan sepanjang dinding. Dindingnya putih, layaknya ruangan lain di dalam penjara. Jerujinya warna abu-abu. Ada lampu yang menyala di tengah-tengah ruangan. Kesannya tidak terlalu menakutkan tapi tidak pula memberi kesan aman.

Pak Kas ini, asumsi saya memiliki perawakan yang tegap. Mengapa asumsi? Sebab saya belum melihat ia berdiri. Saya bertemu dan berpisah dengannya saat ia masih dalam keadaan duduk. Ada satu dua uban yang menghiasi kepalanya, agaknya sudah tampak menua, ada kumisnya juga, bajunya kemeja yang dipadukan dengan celana jeans. Sepatunya kasual, sepatu para pekerja lapangan. Rambutnya tampak tidak tersisir dengan baik. Ada lingkar mata hitam di waahnya. Kurang tidur.

Pak Kas menghadap laptop. Ia menulis sebelas jari, iya, satu telunjuk milik tangan kiri, dan satu telunjuk tangan kanan. Pada saat itu rasanya saya ingin membantu Pak Kas mengetik, jika saja saya dianggap tidak sopan. Di sela-sela jari jemari tangan kanannya terselip sebatang benda panjang, bulat, berwarna putih dengan ujung yang terbakar. Benda itu mengeluarkan asap. Asapnya memenuhi ruangan. Ruangannya menjadi penuh asap. Asapnya rokok. Sesekali ia menghentikan aktivitas menulis heroiknya untuk mengisap benda itu. Lalu, melanjutkan mengetik sambil menginterogasi. Pak Kas adalah penyidik kejaksaan. Di depannya ada seorang ibu. Yang kemudian, Ibu ini saya panggil Bu Han.

Bu Han. Perempuan yang bekerja sebagai PNS ini sudah punya anak. Begitulah curi dengar saya. Tubuhnya tambun, mukanya bulat, mengenakan seragam biru khas terpidana, lengan pendek, oleh karena itu saya bisa melihat lipat lemaknya di daerah tangan dan siku. Kerudungnya saya lupa warna apa, yang jelas itu kerudung langsung tanpa pakai kemiti. Ia di depan Pak Kas. Sedang diinterogasi. Dari nada bicaranya bukan orang Jawa. Lama kelamaan saya tahu, ia dari sebuah tempat di luar Jawa. Atas delik, penipuan tiket promo ia dilemparkan ke Kejari Yogya.

Saya paham kasusnya saat, Pak Kas mulai garuk-garuk kepala. Wajahnya serius bertanya, mengetik, dan mengecek laporan serta mendesak orang di depannya bicara. Tapi, pada suatu titik ia berubah eksperesi menjadi agak geli. Orang di depannya Bu Han, yang di tanya-tanya memandang heran.

"Kok, bisa beli tiket dengan harga normal, dijual promo? Logikanya darimana? Hahaha," Lalu tiba-tiba, ia bertanya ke Bang Jul tak habis pikir. Ceritanya sang ibu membeli tiket normal seharga 500 juta sekian. Tapi, dijual promo yang hanya kembali 400 juta sekian.

"Hahaha, duh, gimana ini logika bisnisnya," Bang Jul tertawa setelah sebelumnya terkantuk-kantuk menunggu momen ia bicara di ruang interogasi. "Lha, iya. Kok bisa?" Tanyanya geli. Sudah bangun.

Saya yang mendengarnya pun geli. Saya nggak habis pikir pula seperti Pak Kas dan Bang Jul. Itu kan jelas merugi, bukan untung. Tapi saya diam saja.

"Oh, paling ingin dapat uang cash secepatnya aja kan?" simpul Bang Jul.

Bang Jul ini pakaiannya rapi. Yang paling saya ingat sepatunya. Sepatu mahal. Pakaiannya batik, tapi batik yang tidak asal batik. Ia duduk tepat di depan saya. Ia duduk di sebuah kursi besi yang panjang, tangannya di rentangkan di seluruh sandaran kursi, dan sempat tertidur. Di sisi kirinya ada printer dan kertas HVS satu pack. Awalnya saya tidak tahu untuk apa Bang Jul di ruang ini, nama Bang Jul juga saya ketahui dari curi-curi dengar. Tapi wajahnya tidak menyeramkan. Bang Jul ini kemudian yang lebih dahulu menyapa saya. "Mbak, dari mana?" sementara Pak Kas dan Bu Han tak mengajak saya bercakap-cakap barang satu patah kata pun.

Bang Jul kemudian pindah satu kursi di samping saya. Supaya lebih dekat dengan Pak Kas dan Bu Han. Sebelumnya Bang Jul di salah satu pojok ruangan, hingga bosan Bang Jul mendengar interogasi, ia terkantuk-kantuk, katanya ia habis olahraga dan sarapan, jadi ia mengantuk. Oh rajin berolahraga, ia seorang polisi. Sambil mendengar penyidikan berlangsung, Bang Jul, mengeluarkan celotehan.

"Mbak, lihat Pak Kas itu, ubannya banyak, ini saya juga, apa karena sering menyidik jadi banyak ubannya ya?" tanya beliau sambil menunjuk Pak Kas santai. Refleks Pak Kas menyentuh rambutnya. Merapikan. Menghisap rokok. Mengetik lagi. Mengabaikan Bang Jul secara verbal.

Saya nyengir saja mendengarnya, "Harus banyak refreshing, Pak, hehehe,"

"Iya, benar itu, kalau kurang refreshing nanti saya jadi seperti Pak Kas," Bang Jul melempar bola lelucon lagi ke Pak Kas yang masih garuk-garuk kepala karena jawaban Bu Han berbelit-belit.

"Pak Kas itu lebih muda dari kelihatannya lho, Mbak," Melihat Pak Kas tak merespon, Bang Jul tak berhenti berkelakar, "Saya mau jadi psikolog aja kayak Mbaknya, biar awet muda,"

Saya hanya bisa nyengir-nyengir saja.

"Bang Jul, tolonglah diperjelas, status saya ini. Saya masih harus sidang-sidang lagi, biar jelas saya ini berapa tahun di sini. Biar tenang hati saya. Jika lebih dari satu tahun saya mau minta dipindah di daerah saya saja," kata Bu Han kepada Bang Jul.

"Iya, nanti saya coba bicarakan. Dijalani saja dulu," kata Bang Jul tenang.

"Disini (LP Wirogunan) baik-baik orangnya, selama Ibu nggak melanggar peraturan lapas dan ikuti aturannya," tambah Pak Kas. Rokoknya masih mengepul.

"Iya Pak, sidang kemarin, yang paling ngena di saya itu adalah perkataan Ibu Hakimnya, 'Ibu, ingat ibu sudah punya anak dan suami'. Saya lalu nangis di sidang," Kata Bu Han lagi.

"Iya, kita semua baik-baik, kok, hehe,"

***

Saya terdampar di ruang interogasi karena lapas kehabisan tempat untuk ruang wawancara. Tidak karena saya biasa berada di ruangan khusus wawancara. Memang tidak ada ruang wawancara khusus, sebagai peneliti kualitatif saya harus siap dan tangguh untuk ditempatkan di mana pun. Saya pernah wawancara di selnya langsung, di wartel di dalam sel, di lapangan bermain, atau di kantor administrasi dengan dikelilingi petugas. Dan kali ini saya terdampar di ruang interogasi yang sedang berlangsung interogasi.

Proses interogasi yang saya lihat ini, tak ada acara gebrak meja, wajah penyidik yang galak, atau ancaman-ancaman kekerasan. Saya pikir ruang interogasi akan semenakutkan apa, tapi ternyata tidak pada hari ini. Tapi, asumsi saya ini tidak bisa digeneralisir, sebab, beda kasus, beda perlakuan, tergantung seberapa kooperatif narapidana tersebut.

Saya melihat dua penyidik yang manusiawi, petugas kepolisian yang keibuan dan kebapakan. Bahkan, mereka memanggil para narapidana dengan "Anak-anak,". "Kita kalau manggil teman-teman itu anak-anak," kata Mbak Nurul pamong polisi yang mengawal wawancara saya. Saya sering sekali mendengar mereka bicara, "Anak-anak nggak ada yang menjaga nggak di sel?","Anak-anak sudah dikasih makan belum,". Sepanjang perjalanan pulang saya berpikir. Saya bertemu para polisi yang berawajah lucu. Mereka senang bercanda dan saling melempar kelakar. Jangan-jangan itu adalah pertahanan harian (coping mechanism) mereka untuk melawan suasana lapas yang depresif. Bagaimana tidak depresif. Bayangkan setiap hari sang penyidik harus bergulat dengan berbagai macam kasus yang kadang-kadang mengerikan. Bertemu orang-orang yang melakukan kejahatan yang kadang di luar nalar akal sehat. Jika tidak dibuat enjoy bekerja di Lapas, siapa lagi yang akan membuat mereka enjoy?

Ngemil MaknaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang