"Maka, sesungguhnya bersama kesulitan terdapat kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan terdapat kemudahan." (Al-Insyirah).
Kamis itu, saya merasa sesak. Bukan apa-apa. Sepagi itu, saya membayangkan sudah akan menginjak tahap akhir dari skripsi saya, dilalah, dosen saya menyuruh saya untuk terjun lapangan lagi. Alamat makin lama.
Senyum sebelum masuk kantor dan semangat melaporkan progress menciut setelah statement itu. Mengambil data lagi itu seperti memundurkan progress beberapa Minggu. Kalau ngebut maksimal saya bisa lebih cepat dua Minggu. Belum biaya transkrip. Belum saya harus setor muka ke lapas yang sebelumnya udah ditanya "Kok belum selesai-selesai, mbak?" Sama kepala Lapas Perempuannya. Hayoloh. Kalau ga ngebut, alamat mundur progress sebulan...
Besok Jumat, saya memutuskan untuk fokus ke data yang sudah ada dulu. Sambil menenangkan badai kenyataan (agak lebay emang) dan menghubungi orang tua untuk minta doa. Saya hanya berdoa, ya Allah, aku memang tidak ingin setengah2 belajar, namun, iringilah proses belajarku dengan kemudahan. Saya yakin, Allah senang kok kita berdoa, sesederhana apapun doa kita, bahkan saat kita bersin buka? Sesederhana apapun saya berusaha ngobrol sama Allah. Gaya bahasa saya sama Allah itu kayak sahabat, ga ngerti aja kok saya kalau doa kok kayak gini, misal: 'Ya Allah, aku udah sampai sini, masa kayak gini sih, ya paling Allah cuma mau nguji aja kan, seberapa aku bertahan dalam tantangan. Oke ya Allah, tantangan diterima." Atau "Ya Allah, ini gimana ya abstraksinya, udah percobaan ke-15. Buntu banget".
Nah, karena weekendnya saya harus ke Bandung. Akhirnya saya ngebut di Jumat dan memutuskan meninggalkan semua hal berbau skripsi saya di Yogya, ke Bandung cuma mau refreshing sejenak. Niatnya gitu sih. Biar seger lagi ngelihat data. Biar ga jenuh.
Akhirnya saya ke Bandung Sabtu pagi itu dan melupakan skripsi sejenak serta kepuyengan diminta ambil data lagi. Sebenernya ambil datanya ga puyeng. Tapi transkripnya. Analisisnya. Semua butuh waktu yang ga sebentar. Rr...
Tapi, Allah selalu punya hadiah istimewa kok bagi yang percaya.
Sesampainya di stasiun Bandung. Teman2 laki2 sekafilah minta sholat dulu. Akhirnya saya dan teman perempuan menjaga barang mereka. Eh... Dari kejauhan saya melihat kepala lapas perempuan yang kemarin2 lumayan galak ke saya. Beliau lagi di stasiun Bandung bareng keluarganya.
Tanpa berpikir apa2 saya samperin lah sang ibu untuk salim. "Ibu, ini saya Fakhi yang penelitian di Lapas." Sang ibu kaget kok saya di Bandung juga, apalagi ngelihat jaket saya dengan tulisan 'Beasiswa Salman'.
"Kamu anak salman?" Tanya ibunya.
"Iya Bu, ibu ada apa di Bandung," tanya saya balik.
"Oh anak saya satu- satunya kuliah di ITB, saya dulu kuliahnya di UPI, lho. Saya tahu Salman itu apa," kata Sang Ibu.
"Oalah... Anaknya siapa namanya Bu?"
"X, jurusan x... Anak saya kemarin nyoba beasiswa x juga tapi belum gol." Ungkapnya.
Lalu saya berbagai cerita tentang beberapa beasiswa yang pernah menyokong hidup saya. Lalu opsi2 beasiswa apa saja yang bertebaran untuk dicoba. Sebelum akhirnya saya berkenalan sama anaknya dan pamit untuk duluan menuju ITB.
Seindah itu pertolongan Allah. Sang ibu merupakan kepala lapas yang tegas yang sempet saya takuti haha. Ternyata asyik juga ngobrol sama ibunya. Dan dengan itu pula, saya lebih enteng ambil data ke Lapas pada hari Selasa di pekan selanjutnya plus disambut baik saat masuk kantornya sambil diarak ke staff2nya, "Mbak ini ternyata aktif di x lho..." saya hanya bisa nyengir2 bersyukur. PertolonganMu emang indah banget ya Allah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ngemil Makna
Nonfiksi[Rank #1-Makna] For the meaning of life differs from man to man, from day to day and from hour to hour. What matters, therefore, is not the meaning of life in general but rather the specific meaning of a person's life at a given moment. (Viktor E...
