Malam-malam Ramadhan saya, saya habiskan di gudang ruang Takmir bersama kawan-kawan Takmir Muda Putri masjid Kampus UGM membereskan hal-hal domestik pelayanan tamu.
Seusainya, saya habiskan bergelut dengan merapikan margin ini itu skripsi saya. Saya memilin doa dan harapan dalam akhir malam menjelang dini hari. Cuma satu tekad saya, "Selesaikan apa yang harus diselesaikan".
Saya memang tidak bisa sidang semester ini, atau semester depan (baca postingan saya sebelumnya via ini https://my.w.tt/XMDbNa8uBN), tapi saya bertekad, untuk tetap menyelesaikan kewajiban saya ini. Saya ingin semester ini selesai, sesuai komitmen saya terhadap diri saya sendiri.
Akhirnya, Kamis, 7 Juni 2018. Malam ke 23 Ramadhan, sembari tetap dinas di Masjid Kampus, membantu iktikaf, mengurus proposal dana konferensi, penurunan UKT, dan saya berjuang melawan rasa sedih saya dan terus menyelesaikan perbaikan teknis terakhir.
Kamis 7 Juni 2018 akhirnya selesai 1 bundel skripsi dengan tebal 170 halaman (ga seberapa haha, ada yang 300 an halaman), dan siap setor ke dosen pembimbing skripsi.
Agak siang, saya diterima bimbingan dengan Pak Fathul Himam. Saya menghadap dan menyetorkan manuskrip skripsi saya. Bapak DPS saya excited dan meminta saya membawa laptop untuk verifikasi bimbingan. Bapak belum tahu kalau anaknya ini belum bisa sidang.
Huhu. Sedih ya. "Ya Allah, apa hikmahMu? Mungkin hamba terlalu bodoh untuk tahu ilmuMu. Berikanlah hamba kemudahan dan keberkahan, amiin"
Akhirnya saya berkata, "Pak, saya melakukan kesalahan yang harus saya hadapi di semester depan, sehingga saya belum bisa sidang."
Sang bapak saya perhatikan raut wajahnya agak turun.
"Ya, sudah, jangan disetorkan sekarang. Nanti menghabiskan energi saya, sebab saya bisa lupa lagi. Setor akhir semester depan saja,"
Haha, sedih juga mendapat respons seperti itu. Tapi harus bakoh kata orang Jawa. Kokoh. Padahal harapan saya, saya bisa dapat feedback revisi dan selama 6 bulan ke depan saya bisa sempurnakan.
Tapi, manuskrip saya ga disentuh sama sekali. Dibuka covernya saja nggak. Huhu.
Kalau gini aja keok. Gimana tantangan hidup yang lain?
"Nanti diperbaiki sambil jalan. Baca-baca lagi saja, siapa tahu ada insight baru."
Saya ga boleh kalah, masak dosen kece dianggurin 6 bulan ke depan hehe. "Pak, harapan saya. Semester depan saya sudah tidak pusing skripsi. Saya mau menikmati hidup di semester depan. Jadi, saya harap ada revisi dari bapak. Sehingga 6 bulan ke depan saya sudah tenang, dan fokus yang lain. Paling tidak, semester depan saya bisa fokus memperbanyak di naskah publikasi."
Di lain dugaan, bapaknya wajahnya berubah, "Ohiya saya lupa kalau ada naskah publikasi yang harus digarap. Saya kasih PR kamu bikin 2 naskah publikasi beda judul ya. 1 bahasa Indonesia, 1 bahasa Inggris."
"Oh, berarti saya besok fokus bimbingan naskah publikasi saya ya ke bapak,"
"Iya, boleh. Saya link kan ke Callista, best paper Magister Profesi bimbingan saya ya kemarin, kamu belajar nulis sama dia. Tapi metodologi risetnya beda. Nanti saya ajari dulu."
Perasaan saya sungguh campur aduk. Setelah penuh harap, kecewa, lalu bersyukur.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah.
Meskipun naskah skripsi saya ditolak dilihat sampai Desember nanti, naskah publikasi yang lebih urgen untuk disubmit ke jurnal masih mau dibimbing (yaiyalah, skripsi tanpa publikasi, seperti bakwan kawi kurang sambal). Apalagi, publikasi kan urgen sekali untuk insan akademik. Seperti penyanyi, kalau ga rekaman dan terjual musiknya dan dapat dinikmati oleh khalayak, buat apa.
Alhamdulillah, kalau saya bisa memenuhi PR dan ekspektasi beliau, saya inshaAllah, bisa publikasi 3-4 paper ilmiah. 1 paper untuk Malaysia besok, 2 paper jurnal PR beliau, dan 1 paper lagi penelitian saya yang lain. Semoga Allah kuatkan, semoga penelitian2 saya bisa segera bisa dikonsumsi masyarakat dalam bentuk publikasi ilmiah siap santap. InshaAllah. Meskipun menurut pengalaman saya, produktif saya itu 1 tahun 2 paper. Ya minimal 1 paper lagi dan beberapa konferensi untuk dihadir.
Ada satu hal lain yang saya syukuri lagi, yaitu, di semester depan saya akan dapat ilmu baru, karena bapak mau mengajari saya metode baru, memperkenalkan dengan Mbak Callista, dan menambah deret khazanah metodologi penelitian saya.
Akhirnya, saya menutup bimbingan saya siang itu dengan berserah diri kepada Allah. "Apapun takdirMu itu baik, saya yakin, Engkau Maha Pembuat Skenario."
Akhirnya, skripsi saya, saya berniat memasukkan kardus, dibuka lagi Desember besok. Saya niatnya mau fokus iktikaf. Satu urusan sudah selesai, mari fokus ke urusan lain. Saya pengen fokus ibadah mahdlah di sepertiga bulan ramadhan yang tersisa ini.
Begitu saya menutup pintu keluar ruangan. Bapaknya mengejar saya (ga seperti India juga) sambil ngintip dari pintu, "Sekalian jadi asisten penelitian saya saja bisa tidak?"
Saya tertawa kecil, "Iya kayaknya saya nganggur Pak,"
"Oke, besok datang jam 9 ya, briefing dana."
Kata beliau.
"Baik, Pak." Jawab saya.
MashaAllah, begitulah Allah menghibur saya. Saya ingat, saya pernah berniat mengajukan diri jadi asisten bapak DPS saya kalau sudah lulus. Mau belajar beberapa ilmu ke beliau. Eh, tanpa diyana, saya tanpa harus meminta saya direkrut.
Tidak hanya itu hiburan Allah untuk saya di semester depan.
Keesokan harinya, selepas saya briefing keuangan. Kakak tingkat panutan yang baru lulus dari Leiden, dan mengurus Kantor Urusan Internasionalnya Fakultas Psikologi menyapa saya.
"Fakhi, aku nyari kamu, lho" katanya.
"Hai, mbak. Ada apa kah?" Jawab saya. Kita bertemu di persimpangan depan gedung B fakultas Psikologi UGM.
"Ini aku ada grand projects, ribet tapi dananya lumayan. Pernah kerja sama Prof Bo kan?"
"Ho, pernah banget. Kerjanya mantap, rodi berfaedah, spartan" celetuk saya. Gimana ga, kita kerja pagi banget, pulang malam banget.
"Ya, nah itu. Butuh orang yang siap jadi kacung fakultas dengan pengalaman rodi Prof. Bo. Aku ga mau rekrut sembarang orang, aku mau yang aku mau yang recommended cara kerjanya. Nanti ada Kirana juga," Kata beliau.
"Projects apa sih mbak?" Tanya saya.
"Big Data Reformation. Trace study,"
"Oh, i see. Kok, baru sekarang trace studynya,"
"Ya, gitulah, tahu sendiri. Lagi reformasi big data."
"Wosh, mantap. Faedah."
"Siap rodi habis lebaran?" Tanya beliau.
"Haha, bisa2 saja. Bisa inshaAllah, ga cari yang fresh graduate?"
"Prof Bo maunya yang mahasiswa aja. Soalnya menurut pengalaman, suka pada kabur2an kalau freshgrad"
"Oh, begitu"
Dan tiba2 saya semester depan sudah full packed dan kebayang akan sibuk syekali.
Sekali lagi, Allah hibur saya dengan caraNya.
Sepertinya, semester depan akan tidak terasa. Karena, kalau jadi asisten Prof Bo, ga ada bedanya weekend ama weekdays, kerja semua. Tapi inshaAllah, bayarannya lumayan buat hidup.
Belum fokus bikin 3 paper, konferensi, kuliah, asisten Pak Fathul, Projects Trace Study, proyek aku sendiri, proyek beasiswa, belajar bahasa Arab, bahasa Inggris, ngurus adik-adik beasiswa Baraya, asisten dosen Dll.
Wah saya excited untuk menghadapi semester depan! Mungkin Allah memberi saya segudang kesibukan baru untuk membuat saya tidak berlarut-larut dalam kesedihan.
Allah, saya ini bodoh. Maka ajari saya memahami hikmah-hikmah kehidupanMu.
"Apabila kamu bersyukur, maka akan kutambahkan nikmatku,"
Dan sekali lagi, aku belum pernah kecewa berdoa kepadaMu.
Edisi saya tertunda sidang read: https://my.w.tt/XMDbNa8uBN
KAMU SEDANG MEMBACA
Ngemil Makna
Non-Fiction[Rank #1-Makna] For the meaning of life differs from man to man, from day to day and from hour to hour. What matters, therefore, is not the meaning of life in general but rather the specific meaning of a person's life at a given moment. (Viktor E...
