"Happiness in intelligent people is the rarest thing I know." Ernest Hemingway, The Garden of Eden
Selama saya berkuliah di salah satu universitas di Indonesia, pengalaman berinteraksi dengan berbagai jenis mahasiswa mengantarkan saya pada cerita-cerita yang terabaikan. Cerita tentang mereka, para pengeyam bangku sekolah tertinggi di Indonesia yang dianggap cerdas, pintar, rajin dan tekun. Sekilas mereka bersinar, penuh dengan harapan, tetapi, di balik itu, saya menemukan pikiran-pikiran bodoh yang tidak cocok sama sekali dengan image itu.
Mari kita mulai dengan kisah dari sebuah universitas ternama di Bandung. "Alkisah", kata Professor itu mulai bercerita, "..terdapat sebuah tim riset di bawah bimbingan saya yang beranggotakan empat orang. Tim riset ini terdiri dari 2 orang mahasiswa dan 2 orang mahasiswi. Seiring berjalannya waktu terjadilah cinta berantai. Mahasiswa A senang dengan mahasiswi B, sedangkan mahasiswi B senang pada mahasiswa C, mahasiswa C tidak senang dengan siapapun ia punya seseorang istimewa di luar sana di luar lingkaran kelompok penelitian ini. Cinta yang tidak ada ujungnya, segi empat saja tidak. Sambil menggarap penelitian ini, mahasiswa A juga sedang menggarap tugas akhirnya. Mahasiswa A yang telah memendam rasa cintanya kepada mahasiswi B akhirnya mengungkapkan dan mengajak untuk menikah.
Sayangnya, cinta bertepuk sebelah tangan, mahasiswi B pun menolak ungkapan cinta sang mahasiswa A. Namun, mahasiswa A tidak terima. Ia merasa 'saya kurang apa? Saya seorang aktivis organisasi, berprestasi, dan tidak jelek-jelek amat' Ia merasa terpuruk. Ia tidak bisa jika tidak dengan mahasiswi B tersebut. Singkat cerita, skripsinya terbengkalai. Ia berlarut-larut dengan pertanyaan, 'mengapa bukan saya?'. Saat saya datangi, ia sudah berniat pulang kampung halamannya untuk selamanya, saya berkali-kali membujuk untuk menyelamatkan dirinya di detik-detik terakhir. Namun tidak bisa lagi dibujuk untuk menyelesaikan penelitiannya. Saya pikir, 'ya ampun urusan begini saja jadi repot'.
Kami yang mendengarnya penuturan professor tersebut tertawa. Namun sang professor juga tidak berhenti menceritakan pengalamannya saat menangani mahasiswa, "Pernah juga suatu waktu yang lain, seorang mahasiswa diputuskan sepihak oleh pacarnya yang nun jauh dimana. Saat itu masih menggunakan surat menyurat. Sambil memegang surat itu, ia naik ke atas gedung paling tinggi di universitas tsb pada pukul 23 an malam. Ia bermaksud bunuh diri. Semua orang panik berusaha membujuknya. Akhirnya, ia mengatakan bahwa ia akan turun jika seorang professor yang memintanya turun. Malam itu, untung saya masih terjaga, dan saya segera ditelpon untuk datang di gedung itu." Sang professor menggeleng-gelengkan kepala, "Urusan satu perempuan saja sulit, padahal begitu menyelesaikan gelarmu di ITB, akan banyak jalan terbuka termasuk kepada calon jodoh yang lain."
"Grr...." Kita yang mendengarnya tertawa termasuk saya. Di ruangan itu, mayoritas adalah jurusan-jurusan ilmu eksak, teknik dan medis mungkin menganggap hal-hal, pengalaman hidup yang sederhana itu sepele dan bodoh. Saya pun sempat menganggapnya demikian. Namun, pengalaman membuktikan banyak kejadian serupa contohnya saya sendiri.
Saya pada saat menulis ini sedang membayar kesalahan saya di dunia akademis, yang membuat saya harus mengambil kuliah lagi dan baru bisa lulus tahun depan. Bukan karena tidak bisa, tetapi karena keteledoran saya. Saya merasa kesalahan saya ini sangat besar dan tidak termaafkan. Kesalahan ini membuat saya merasa dipersepsi negatif oleh orang-orang di sekitar saya. Goal internal tidak terpenuhi dan berbagai macam pikiran negatif yang bersarang di diri saya.
Sebagai anak psikologi, saya memahami bahwa saya sedang terserang gejala depresi ringan. Gejala-gejala seperti gangguan tidur, perubahan pola makan yang berakibat pada perubahan berat badan, perubahan pola tidur, pesimisme, negative mood dan berbagai ciri lainnya yang saya ukur terjadi pada diri saya selama tiga bulan. Saya mengalami gangguan pencernaan yang membuat saya akhirnya periksa ke dokter dan lucunya sang dokter mendiagnosis diri saya tidak memiliki gangguan apa-apa. Saya segera menyadari bahwa pikiran negatif saya ternyata mulai berbahaya.
Oleh karena itu, saya akhirnya memutuskan untuk mencari bantuan, self-helping behavior. Apa tanda kita harus segera mencari bantuan psikologis? Saat regulasi internal kita belum bisa membantu kemampuan psikologis kita membaik dan bertahan mengalami tekanan. Jadi, bagi teman-teman, apabila merasa perjuangan untuk melawan tekanan tidak lagi sanggup diselesaikan sendirian, harus segera mencari bantuan, itu salah satu fungsi memahami diri sendiri. Kita tahu kapan harus mencari bantuan, kapan kita bertahan tanpa bantuan eksternal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ngemil Makna
Non-Fiction[Rank #1-Makna] For the meaning of life differs from man to man, from day to day and from hour to hour. What matters, therefore, is not the meaning of life in general but rather the specific meaning of a person's life at a given moment. (Viktor E...
