Kereta api berderak-derak, membawa saya dari Stasiun Yogya menuju Bandung. Bandung, katanya lho, katanya, diciptakan saat Tuhan sedang tersenyum. Ah, kalau begitu, Yogya diciptakan saat Tuhan sedang tertawa. Eh, jangan diambil hati, ini hanya perumpaman. Tak layak lah kita menyifati Allah dengan sifat2 manusia.
Sambil menikmati rintik hujan di kaca jendela.
Tubuh saya ikut menari. Doyong ke kanan dan ke kiri seirama dengan goyangan kereta. Disini, saya duduk, di kelas kereta Bisnis dengan mengucap ribuan syukur, ga yangka, saya akan menjadi orang yang diberi fasilitas ke Bandung tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Dulu saya hanya bisa membatin, "kapan ya saya ke Bandung, untuk mengunjungi banyak sahabat2 saya yang bertebaran disana." Bukan apa2. Ke Bogor saja, ke tempat almamater saya, yang banyak diundang acara, saya ga punya uang. Kecuali saya ada urusan penting, seperti urusan akademik, atau lomba2, saya dapat subsidi fakultas baru saya berangkat. Dan orang tua tidak akan bersedia menyubsidi porsi ke luar2 kota. Untuk makan saja kata mereka.
Di samping kanan kiri saya ada beberapa rekan yang sama2 awardee Beasiswa Salman ITB. Mereka orang2 hebat dengan segala kontribusi masing2. Bukan hanya mereka, saya banyak bertemu ribuan mahasiswa lainnya yang kontribusinya macam-macam. Mereka bersinar. Memegang auranya sendiri.
Saat bergabung bersama mereka, seringkali mereka saling menceritakan aktivitas terbaru mereka. Saya mengindra banyak yang orang sosial kemasyarakatan. Terjun langsung di masyarakat. Punya rumah belajar. Punya yayasan. Desa Binaan.
Mau ga mau, saya juga jadi sering jadi sasaran pertanyaan juga, "mbak lagi sibuk ngabdi dimana? Mbak kenapa ga ikut pengabdian x, ikut beasiswa y yang untuk terjun desa, untuk x,"
Mm... Agak susah dijawab ya. Haha.
Saya garuk-garuk kepala.
Bagi saya, setelah selesai memahami diri adalah menerima diri sendiri dan mengasahnya.
Jangan tergoda dengan karpet merah orang lain.
Saya memilih mengabdi di balik aktivitas penelitian yang saya lakukan. Saya mengabdi untuk perkembangan ilmu pengetahuan yang bersifat non praktikal. Ah. Memang agak tidak terlihat kenyataan geraknya. Saya secara rutin setiap tahun menelurkan satu publikasi at least skala nasional dan sedang saya coba tingkatkan di tahun ini. Saya akan lebih banyak terjun lapangan sebagai peneliti di tahun ini karena saya sudah bebas dari kuliah kelas.
Mungkin saya jenis awardee yang laporannya non terjun ke lapangan. Saya juga bingung kenapa saya diterima.
Saya pernah dicegat seseorang di salah satu fakultas di UGM. "Mbak Fakhi kok bisa masukin beasiswa2 yang saya inginkan," tanyanya. Sejujurnya saya ga bisa jawab. Dia bertanya lagi, "Mbak fakhi poin pengabdiannya dimana? Mbak Fakhi prestasinya apa aja?" Saya makin ga bisa jawab. Karena saya ga merasa punya itu semua. Saya pikir saya hanya beruntung. Hehe.
Bagi saya mengabdi yang paling menyenangkan adalah yang sesuai dengan karakter diri. Saya senang menulis. Fokus sudah. Saya mencoba mengabdi lewat tulisan2 saya. Saya mencoba fokus menggunakan tulisan2 saya untuk berkontribusi kepada masyarakat, mengumpulkan poin2 pencapaian. Fokus. Saya memang belum merasa berhasil. Karena banyak mimpi yang belum capai. Karena tulisan saya masih perlu diasah miliar kali agar semakin tajam. Tapi saya mencoba fokus.
Saya bisa memilih iri dengan jalur orang lain. Tapi, saya memilih tidak iri. Karena saya memahami diri saya. Saya tahu senjata saya. Saya tahu titik kelemahan saya. Saya nggak menyangkal sejengkal pun dari kelemahan saya. Dan saya tidak mengelak. Saya fokus. Fokus pada apa yang bisa saya kembangkan daripada apa yang tidak saya miliki.
Seringkali orang silau dengan karpet merah orang lain. Padahal karpet kita sudah siap terbentang dan bisa jadi warnanya tidak merah, mungkin biru? Hijau? Kuning? It is not always a red carpert, is it?
Maka, saya memilih tidak sibuk mengasah rasa iri dengan senjata orang lain. Saya memilih berlelah-lelah mengasah senjata sendiri. Sebab senjata alami dari Allah tak selalu pedang, bisa jadi kita dibekali oleh dengan senjata lainnya yang berbeda satu sama lainnya. Karena betapa banyak waktu yang kita buang dengan sibuk mengamati senjata orang lain. Dan tak berniat apa-apa. Sementara kita lupa milik sendiri.
Sudah kesekian kaliiii saya menulis soal ini. Memahami diri adalah kunci. Boleh kunci kesuksesan, boleh kunci kebahagiaan, boleh kunci berkontribusi optimal. Whatever you name it, it is always the basic key. Always.
Setelah itu, penerimaan, dan step selanjutnya adalah memilih poin kekuatan dan sabar dalam mengasahnya.
Sabar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ngemil Makna
Saggistica[Rank #1-Makna] For the meaning of life differs from man to man, from day to day and from hour to hour. What matters, therefore, is not the meaning of life in general but rather the specific meaning of a person's life at a given moment. (Viktor E...
