10 ~ Lapas: Human Trafficker dan Saya

52 4 0
                                        

Hari itu, suasana cerah. Saya berangkat ke Lapas setelah membelikan titipan loyang satu buah dan tiga buah Margarin di swalayan terdekat. Titipan dari teman-teman warga binaan. Iya, di dalam Lapas, warga binaan diberi keterampilan-keterampilan dasar untuk berekonomi. Setelah selesai dari urusan beli membeli saya berangkat ke Lapas.

Perjalanan antara Universitas Gadjah Mada ke Lapas Daerah Wirogunan tidak jauh, perjalanan sekitar lima belas menit kurang lebih. Saya memacu Vario Putih keluaran lama saya secepat mungkin, sebab saya janji sampai disana pada pukul 10.00 WIB tepat.

Begitu belok kanan masuk areal kompleks Lapas saya disambut oleh seorang Bapak berusia lima puluh tahunan berseragam Kemenkumham. Karena saya memarkir motor tepat di belakang bangku sang Bapak, saya menyapa sejenak. "Sarapan, Pak?" tegur saya basa basi dengan masih menguci motor, melepas masker muka abu-abu saya, dan memperbaiki posisi barang bawaan.

"Iya, Mbak. Wah bawa loyang?" tanyanya.

"Iya, Pak. Titipan LPP (Lapas Perempuan). Mereka ada agenda apa ya, Pak?" tanya saya balik.

Beliau menyulut rokok, "Nggak tahu, Mbak. Biasa LPP ini kerjaannya masak-masak." Gumam beliau dengan rokok di mulut. Saya mafhum mendengar jawaban beliau. Sebab, kalau Lapas Pria mungkin jarang sekali.

"Oh njih, Pak. Saya masuk dulu ya," Jawab saya sembari pamit, saya sedang tak ingin memperpanjang percakapan.

Setelah melewati pos penjagaan, menyapa dan bercanda sebentar dengan para penjaganya yang beberapa sudah familiar dengan wajah saya, saya langsung masuk ke kompleks Lapas Perempuan.

Di Lapas Perempuan, semua orang sedang sibuk berkegiatan, ada yang menjahit, memasak karena piket untuk memasak makan siang, menjaga koperasi dan menjaga wartel. Saya disambut ramah oleh Ibu Siti, Ketua Rutan Perempuan (Karupan), "mau penelitian ya mbak?" tanya beliau hangat.

"Iya, Bu." Jawab saya sambil tersenyum dan mengamati sekeliling.

"Ditunggu saja mbak." Kata ibu bermuka oval ini.

Singkat cerita saya kemudian melakukan wawancara singkat dengan subyek saya. Setelah selesai, saya harus lapor kembali bahwa agenda saya sudah selesai. Seraya menunggu, saya istirahat di tengah ruangan yang memang difungsikan untuk meja jaga.

Meja jaga berada di tengah-tengah kompleks LPP. Sebelah kanan blok Cempaka dan sebelah kiri blok Kamboja. Masing-masing berlapis jeruji besi. Wilayah kegiatan adalah wilayah tengah yang berisi beberapa mesin jahit, dapur, koperasi, warung telepon, dan peralatan memasak.

Sembari menunggu warga binaan lalu lalang di sekitar saya. Ada yang ingin mandi, sibuk menjahit, mengeluarkan jemuran basah, dan sebagainya. Kemudian, Ibu Siti menghampiri saya.

"Sudah, Mbak?" katanya. Di depannya ada sebuah buku tamu yang berisi daftar orang kunjungan. Saya melihat ada beberapa nama dari pemerintahan atau pun peneliti macam saya. "Saya mengisi ini juga, Bu?" Ibu Siti mengangguk.

Saat saya sedang mengisi, seseorang duduk di depan Bu Siti, membawa buku agenda yang panjang tetapi sedikit lebar. Macam buku untuk catatan hutang. Pakaiannya seperti narapidana lainnya, berkaos biru berlengan panjang dengan tulisan Warga Binaan. Pakaian biru ini wajib dipakai sehari-hari untuk membedakan antara tahanan dengan petugas. Kerudungnya berwarna biru supaya cocok dengan warna bajunya. Saya tidak sempat memperhatikan celananya. Jika ditanya soal riasan. Ia mengenakan lipstik merah hati. Tanpa eye shadow dan blush on. Kulitnya putih bersih. Saat itu saya simpulkan sekilas, sang ibu ini cantik.

Saat saya menulis buku tamu, ia juga sedang menulis sesuatu disana. Tanpa disangka ia menyapa saya terlebih dahulu, "Mbak penelitian ya?"

"Iya, Bu." Jawab saya seraya tersenyum.

Ngemil MaknaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang