9 ~ Njet Lu Baik-Baik di Turki

67 6 2
                                        

Njet, njet, njet...

Kita memanggilnya Njet. Padahal, nama aslinya Nisa Zakiah. Karena terlalu banyak nama Nisa. Kita bikin beda sama yang lain dengan manggil dia NZ aja. Berhubung lidah kita suka keseleo kalau melafalkan 'Z' jadi kita memetamorfkan huruf 'Z' dengan huruf J. Maka, jadilah namanya Njeet....

Njeet....

Setiap kita panggil begitu, jawaban khasnya, "Napa? Kangen ya sama ane?" dengan tampang polos kocak nggak nahan. Bikin kita langsung ngakak guling-guling. Sempet si Njet ini punya hobi meluk kita temen-temen ceweknya, plus cium-cium. Katanya itu ekspresi kegemesan terhadap kita. Dan kita sering lari-larian ngehindar dari dia.Tubuh kecil berisinya itu lucu banget kalau lagi kejar-kejaran sama kita. Ditambah senyum lebarnya yang nabrak dua pipi gemilnya. Lucu. Dia adalah pencair suasana yang oke. Sekaligus kritis. Manusia kompilasi unik.

Njet, entah bagaimana ia bisa nyasar ke sekolah ini. Katanya dari kenalan bapaknya. Dan seterusnya. Hingga akhirnya dia mendarat dengan syok di sekolah ini. Perkenalan awal dimulai saat hari pertama bertemu. Di kumpulkan di sebuah ruangan yang kosong melompong. Yang kelak bakal jadi kamar kami. Ya... sebagai angkatan pertama, fasilitas masih serba minim. Ruangan itu baru beberapa saat kemudian mendapat insentif kasur dan bantal. Properti sisanya menyusul.

Lalu, gimana kesan pertama kita?

Pendiem. Itu kesan pertama kira. Tapi seiring berjalannya waktu, kita tahu sifat aslinya, Gokil. Kita jadi makin tahu sifat masing-masing. Kita tahu cerita mana yang keluar dari hati paling dalam. Dan cerita mana yang enggak. Termasuk dari si Njet. Mana yang kejujuran dari si Njet mana yang Cuma bercanda. Meski pada kasus Njet, kita kadang suka susah membedakan karena tingkahnya yang selalu ceria.

Sebenarnya disinilah ceritaku tentangnya akan dimulai. Cerita tentang seorang teman yang tampak sangat biasa, tapi, memberiku banyak pelajaran tentang kehidupan yang nggak terduga-duga.

Jika dilihat sekilas pasti banyak orang menyangka dia orang yang agak kekanak-kanakkan. Padahal, Njet tipikal orang yang nggak mau kesedihannya dilihat orang lain sehingga ia tutup-tutupi dengan sikap (sok) cerianya. Suka sok jutek tapi perhatian. Katanya, "Jangan pernah kasih tahu tubuhmu kalau hatimu lagi sakit,". Makanya ia jarang mengeluh dan memperlihatkan rasa sakit hati maupun fisiknya. Tapi, sebagai temannya kita tahu dia nggak baik-baik saja pas dia terluka entah di hati atau di fisik (alias lagi sakit).

Suatu hari saking gemesnya sampai aku pernah bilang, "Njet, kalau njet nggak baik-baik aja, bilang! Jangan jawab baik-baik aja, kalau njet emang nggak baik-baik aja,"

Dia malah balik nanya, "Memang kenapa gitu, kalau ane kayak gitu? Kan nggak apa-apa bikin orang lain bahagia?"

Speechless. Aku akhirnya cuma bisa jawab, "Njet, kadang-kadang bersikap apa adanya itu melegakan. Tapi, keputusanmu juga dicintai Allah kok. Selama kamu nggak berbohong,"

Njet yang periang, Njet yang tegar.

Selain itu, njet sakit! Air di sekolah dan asrama nggak cocok dengan kulitnya. Kakinya mulai pecah-pecah dan sering berdarah. Mengelupas sedikit demi sedikit. Tiga tahun telapak kakinya luka dan susah buat jalan. Setiap hari Njet harus bersabar untuk membersihkan telapak kakinya pakai obat yang entah ada berapa macem tanpa ngeluh. Aku tahu itu nggak mudah. Aku sendiri masih gampang mengeluh. Darinya aku mulai belajar apa itu nggak membuat orang lain khawatir, dan apa itu nggak mengeluh. Bukankah ini sikap yang dianjurkan Rasulullah, selalu menampakkan kegembiraan pada saudaranya? Kembali dia mengajari saya sesuatu.

Semakin menghabiskan waktu bersama Njet. Kita semakin tahu bahwa belajar di sekolah ini nggak sesuai dengan harapan awalnya. Karena ia punya mimpi. Mimpi yang nggak sesuai dengan jurusan yang ada di sekolah ini. Njet dari SD memupuk mimpi masuk SMK 4 Balikpapan. Setelah menamatkan sekolah menengah pertamanya, Njet semakin bersemangat merealisasikan mimpinya. Berusaha sebaik-baiknya agar bisa masuk SMK 4 Balikpapan. Setelah menempuh ujian masuk yang ketat. Ia berhasil! Ia diterima di SMK 4 favorit di kotanya. Mimpi yang dipupuk sedari kecil sekarang berada di genggaman tangannya.

Ngemil MaknaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang