Pasti ada masa dimana saya bertanya-tanya, "Apakah ilmu saya sudah bermanfaat bagi sesama?"
"Sudahkah benar apa yang saya lakukan?"
"Untuk apa?"
Pertanyaan itu juga tiba-tiba menyergap kembali diri saya pada saat ini. Saat saya duduk di kereta menuju Bandung, dan setelahnya bersiap melakukan diseminasi hasil penelitian ke Malaysia di hari Senin.
Belum lagi mengejar deadline diseminasi hasil penelitian di UI dengan deadline malam nanti.
Pontang panting bekerja menelusuri berbagai jurnal, meramu, ke lapangan, dan menuliskannya, bertemu berbagai jenis peneliti di seluruh dunia.
"Buat apa?" Bisik hati saya.
Baris2 pepohonan silih berganti terlewati di jendela kereta Lodaya jurusan Bandung ini, dan otak saya berkata.
Belum lagi banyak hal yang harus dikorbankan, juga tak ternilai biaya material yang harus dihabiskan. Saya bekerja lalu menghabiskannya untuk belajar kesana dan kesini. Habis. Ada uang lagi, dibuat belajar lagi. Habis lagi. Terus saja begitu.
Kadang banyak orang yang bertanya, "Mbak, ngapain sekolah jauh2, di malang juga ada?"
"Mbak ngapain SMP dan SMA jauh2 banget, emang ga ada yang di daerah sini. Kayaknya ga jauh beda.."
"Mbak buat apa capek2 kesana kesini cari ilmu ke berbagai peneliti, kan uangnya habis di jalan, di ongkos, di uang makan?"
Memang sering kere.
Sering juga pengen uang tabungan hasil kerja part time itu buat jalan2 Travelling dll. Tapi faktanya, habis juga untuk belajar, beli buku, safari ilmu dll.
Belum lagi korban masa muda. Masa muda yang kata orang mungkin terlalu serius. Haha.
Lalu saya mengingat-ingat visi besar saya.
Saya juga berdiskusi dengan orang tua saya untuk memohon ridlo dari setiap safari ilmu yang saya lakukan.
Begini jawab ibu saya,
"Ibu menyiapkan kakak jadi ilmuwan muslim yang dibutuhkan ummat kelak,"
Fabiayyi Alaa irobbikumaa tukadzzibaan...
Dan air mata saya mengalir, ya Allah, nikmat sekali keluarga yang bervisi besar itu. Setiap perjuangan yang ditempuh akan ada yang saling mengingatkan.
Tidak sebatas, yang penting makan, yang penting kaya. Jadi teringat rumah saya, silahkan berkunjung ke rumah kami, rumah sederhana yang dindingnya dimakan rayap dan kusennya sudah lapuk.
Uangnya kemana, tahu sendiri hehe ...
Saya langsung ingat, bahwa saya sedang menyiapkan diri untuk menjadi intelektual muslimah. Yang dengan ini semoga saya mampu berkontribusi lebih besar lagi dengan jaringan yang lebih luas lagi.
Aamiin ya robbal 'alaamin.
Kepada Allah saya memohon ampun atas segala dosa2 saya.
Kepada Allah saya kekuatan atas segala langkah-langkah lemah saya.
Kepada teman-teman saya memohon doa ijabah dan masukan.
A Roadway Story to Asian Associaton of Indigenous and Cultural Psychology 9.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ngemil Makna
Non-Fiction[Rank #1-Makna] For the meaning of life differs from man to man, from day to day and from hour to hour. What matters, therefore, is not the meaning of life in general but rather the specific meaning of a person's life at a given moment. (Viktor E...
