Semua pelajaran hari ini telah selesai. Bel pulang sekolah pun telah dibunyikan dua puluh menit yang lalu dan sekolah pun sudah mulai sepi karena sudah ditinggalkan para penghuninya.
Setelah mengantarkan Stefani, Iqbal menghentikan laju motornya dan sedikit menepi ke bahu jalan karena terdengar deringan di saku jaketnya, yang berasal dari ponsel yang ia bawa.
'Woi dimana?' ucap suara di seberang telepon
"Ini gue lagi dijalan, mau balik. Kenapa?" jawab Iqbal.
"Nanti malam sibuk kaga, Bal?"
"Enggak. Gue santai kok. Kenapa Za?" tanya Iqbal pada Firza yang sedang menelpon.
"Ke tempat biasa yok?" tanya Firza lagi
"Nanti gue kabarin lagi deh."
Tut.
Iqbal menutup telponnya secara sepihak.
-- -- --
Pukul 20:00, Iqbal telah berada di sebuah cafe yang menjadi tempat tongkrongan nya dengan Firza serta temannya yang lain. Mereka adalah Luthfi dan Rifad. Mereka telah bersahabat sejak SMP, namun saat masuk SMA keempatnya berbeda sekolah. Sebenarnya Iqbal saja yang sekolahnya berbeda, karena ia memiliki kepintaran diatas tiga temannya yang lain hingga Iqbal diterima di salah satu SMA favorit di jakarta, dan bersahabat dengan Stefani. Hanya dengan gadis itu. Sedangkan ketiga temannya yang lain hanya diterima di SMA swasta biasa.
"Hey bro" ucap Luthfi saat Iqbal baru datang. Dan mereka pun berpelukan. *berpelukan ala lelaki tentunya😂
"Mau kaga, Bal?" tanya Firza sambil menyodorkan sebungkus rokok pada Iqbal
"Ngapain ditawari sih? Udah jelas Iqbal nolak lah" sanggah Rifad sambil menyesap rokoknya.
"Nah itu tau" jawab Iqbal singkat.
"Yaudah lo makan ini aja nih" ucap Luthfi sambil memberikan sebungkus kuaci pada Iqbal
Karena terbawa pergaulan di sekolah, Firza, Luthfi dan Rifad menjadi siswa yang lebih mirip seperti preman. Sering bolos, ikut tawuran, merokok sampai orangtua mereka sering di panggil ke BK. Meskipun sering kena hukum tapi mereka tak pernah kapok, selalu mengulangi perbuatannya.
Lalu bagaimana dengan Iqbal? Meskipun bersahabat dengan mereka, Iqbal masih bisa mengontrol diri. Ia tak ingin membuat keluarga terutama kedua orangtuanya merasa kesal bahkan sedih karena perilaku buruknya dan ia pun mampu menjaga image nya sebagai ketua osis walaupun ia tak suka mempunyai jabatan itu. Dan sahabat-sahabatnya juga menghargai keputusan Iqbal.
"Kenapa kalian masih ngerokok sih? Gue kan udah pernah kasih saran ke kalian buat berhenti ngerokok" tanya Iqbal sambil memainkan gitar yang disediakan oleh cafe itu.
"Susah, Bal" Ucap Luthfi dengan menghel nafas berat
"Gue udah usaha. Tapi gabisa" Firza ikut menimpali
"Gak bisa gue. Udah candu, Bal" celetuk Rifad tak mau kalah.
"Kita kan udah kelas dua belas dan bentar lagi mau lulus. Kalau kalian gak berhenti ngerokok kalian bakal susah buat lanjutin sekolah, selain itu kalian juga bakal susah buat cari kerja karena pasti paru-paru kalian gak sehat. Yang penting kalian punya niat buat berubah jadi lebih baik, pasti semua nya bakal lebih mudah. Ya itu sih saran dikit dari gue" jelas Iqbal. Selain pada Stefani, Iqbal akan lebih banyak bicara pada tiga mahluk kupret ini.
"Oke dah bakal kita coba" ucap Luthfi, Firza dan Rifad. Iqbal tersenyum mendengar ucapan tiga sahabatnya yang mau berubah.
"Dan sekarang gue minta, matiin rokok kalian"
KAMU SEDANG MEMBACA
Relakan
Fanfiction[COMPLETED] Seuntai kisah yang terjadi di masa putih abu. Bukan hanya tentang asmara, juga disuguhkan berbagai macam konflik, indahnya persahabatan, kegembiraan, suka, duka dan bahkan sampai menguras air mata. "Andai gue punya keberanian lebih aw...
