08

1K 83 0
                                        

Bel pertanda jam pembelajaran pertama telah di bunyi kan, setiap sudut di SMA Garuda Nusantara terlihat begitu sepi. Karena semua siswa dan gurunya telah masuk kelas untuk melaksanakan tugas masing-masing.

Saat ini di kelas XII A sedang berlangsung pembelajaran Fisika. Namun Iqbal terlihat begitu tak bersemangat mengikuti pelajaran penuh rumus itu.

"Stefani sakit apa ya? Biasanya kalo sakitnya gak parah-parah amat dia pasti sekolah. Lah ini kok sampe gak sekolah. Apa mungkin sakitnya parah? Eh tapi semoga dia baik-baik aja" batin Iqbal terus memikirkan keadaan Stefani.

"Bal? Lo kenapa sih bengong mulu?" bisik teman sebangku Iqbal, yaitu Aji.

"Gpp" jawab Iqbal seperlunya. Saat disekolah, selain pada Stefani, Iqbal memang tidak terlalu dekat dengan teman yang lainnya. Karena Iqbal memiliki sifat yang sangat amat cuek.

"Serius lo?" bisik Aji lagi. Karena ia takut guru killer dihadapannya itu mendengar. Iqbal hanya diam

"Jangan bengong mulu. Ntar kalo ditanya sama bu Hilda terus lo gak bisa, kelar dah idup lo" Lanjut pria yang memiliki kumis lebih tebal dari Iqbal. Berusaha memperingatkan teman sebangkunya itu.

"Diem lo ah!" tukas Iqbal. Aji hanya menatap Iqbal heran lalu menggelengkan kepalanya.

-- -- --

Di sebuah kamar berwarna dominan biru muda, terlihat seorang gadis tengah terbaring lemah dengan wajahnya yang pucat. Disampingnya nampak seorang wanita paruh baya yang nampak guratan kecemasan diwajahnya.

"Nak, kita ke rumah sakit aja yuk?" ajak wanita itu pada anak tunggalnya.

"Gak usah, bu. Aku gak apa-apa kok. Mungkin hanya kecapean saja, dan butuh lebih banyak istirahat" ucap Stefani yang berusaha memperlihatkan senyumnya

"Tapi sayang, kalau kamu tidak dibawa ke dokter ibu takut kalau kamu..." Ucapan bu Susan langsung disanggah oleh Stefani, "Bu.. aku yakin aku gapapa. Ibu tenang saja yaa" kembali Stefani memperlihatkan senyum di bibir pucatnya.

"Yasudah, ibu mau ke belakang dulu. Kalau kamu merasa sakit kamu langsung panggil ibu saja ya" Stefani langsung mendapatkan sebuah ciuman di kening dari ibunya. Ia mengangguk dan tak lama berselang, ibunya keluar dari kamar ini.

"Maaf bu ...." lirih Stefani sembari memegangi kepalanya.

-- -- --

Sepulang dari sekolah Iqbal berniat untuk ke rumah Stefani. Selama seharian ini Iqbal merasa ada yang mengganjal dihatinya karena belum mengetahui kondisi gadis itu. Meskipun hari ini akan ada rapat osis, Iqbal memutuskan untuk menunda rapat tersebut agar dilaksanakan besok lusa saja.

Saat Iqbal sedang berjalan di koridor, sebuah suara tiba-tiba memanggilnya.

"Kak Iqbal..." mendengar namanya di panggil, Iqbal langsung memberhentikan jalannya dan menoleh ke sumber suara.

"Ada apa?" tanya Iqbal. Si pemilik suara tadi pun menghampirinya.

"Yola mau tanya boleh kak?" jawab si pemilik suara

"Tanya apa?"

"Kak Stefani kemana ya, Kak? Kok seharian ini Yola gak liat kak Stefani?"

"Dia sakit"

"Ya ampun! Sakit? Sakit apa kak?" Yola terlihat begitu kaget dan khawatir.

"Saya tidak tahu. Ini juga saya mau ke rumah nya. Ya sudah saya permisi ya" setelah Iqbal menjawab pertanyaan Yola, ia langsung melanjutkan langkahnya. Namun lagi-lagi Yola menahannya.

RelakanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang