“Re, kayaknya lo kejauhan deh kalau naik dari situ.” Kiki bersuara di bawahnya.
Regan menutupi wajahnya dari sinar matahari yang menyilaukan. Kiki sudah berkata demikian tiga kali. Tiga kali pula dia sudah memindahkan tangga.
Dan sekarang masih kejauhan juga?
“Kucingnya di mana sih, Ki?” Regan silau dengan sinar matahari. Dia tidak bisa melihat.
“Arah jam dua dari tempat lo.”
Regan kesal, dia memilih turun daripada mengikuti arahan sesat Kiki. Dia mundur beberapa langkah lalu pandangannya menyapu atap. Hingga terlihat satu kucing mengeong di sana. Tidak bergerak sama sekali. Mungkin takut terpleset dan terjatuh.
“Udah deh, ngampus dulu kita. Kucingnya diambil nanti aja. Dia nggak akan ke mana-mana.” Kiki mengeluh setelah melirik jam di ponselnya.
“Kasihan. Bisa kepanasan dia di atas sana kalau nunggu kita pulang.” Setelah memastikan posisi si kucing, Regan memindahkan tangga kemudian naik lagi.
“Ya udah ntar juga bisa turun sendiri dia.”
“Lo nggak lihat muka dia ketakutan gitu? Kalau udah bisa turun, dia nggak akan ngeringkuk di sana.”
Regan juga sudah terlambat kuliah. Mana harus mengantar Kiki terlebih dahulu.
Regan hanya mengulurkan badan serta tangannya. Rumah ini sudah berumur, dia takut jika kayu yang menopang genteng akan patah kalau dia injak.
Kucing itu masih bergeming, terdengar mengeong lemah—mungkin lapar. Regan masih berusaha meraihnya.
Pada usaha ke sekian, akhirnya Regan bisa membawa kucing itu turun.
Kucing kecil itu mengeong lagi. Entah kucing siapa. Yang jelas sejak Subuh tadi Regan dengar suaranya dari kamar.
Mungkin kucing ini tersesat. Tapi punya siapa? Tidak ada kalung atau tanda kepemilikan di leher si kucing.
“Ki, lo nggak alergi bulu kucing, ‘kan?”
Kiki yang sudah sebal—karena dia terlambat kuliah—menjawab sewot. “Nggak. Kenapa?”
“Gue pelihara dia, boleh ya?”
“Terserah.”
Regan berlari masuk. Dia meletakkan kucing itu di dalam rumah. Dengan cepat mengambil apa saja yang ada di kulkas—yang bisa dimakan kucing.
Semenit kemudian, Regan sudah mengunci pintu. Dia lari ke mobil. Kiki—dengan muka ditekuk—sudah duduk di bangkunya sejak tadi.
“Kucingnya lo taruh mana?” Kiki bertanya ketika mobil Regan bergabung dengan kepadatan jalan raya di pagi hari.
“Di sofa ruang tamu, udah gue kasih alas tisu.”
“Lo kasih makan apa?”
“Nugget lo di kulkas, hehe.”
Kiki mengumpat.
Regan tiba-tiba kepikiran nama untuk kucing tadi. “Enaknya dia dikasih nama siapa ya, Ki?”
“Ody aja.” Kiki menjawab sembarangan.
“Orangnya bisa ngamuk kalau tahu namanya dipake kucing.”
“Terserah deh, ya. Daripada lo sibuk mikirin nama kucing. Lo lebih baik ngebut. Gue presentasi kelompok kedua, Oneng!”
Regan tertawa sambil menaikkan kecepatan laju mobilnya.
Ody. Mungkin dia tidak akan marah kalau namanya dipakai kucing seimut tadi.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
J A R A K [2] ✓
Любовные романы#2 Long Way to Home [young adult] Regan masih mencari. Dalam perjalanannya, kali ini dia hanya sendiri. Tanpa Ody yang menemani. Ody akan menunggu, ketika Regan bilang ingin ditunggu. Meski dia tidak lagi bisa menemani. Tapi dia akan menunggu. Kali...
![J A R A K [2] ✓](https://img.wattpad.com/cover/134057558-64-k826161.jpg)