29. Mundur

6.8K 938 89
                                        


Ody menatap pantulan dirinya di cermin besar. Yang cukup memprihatinkan dengan kantung mata berwarna hitam. Akhir-akhir ini Ody sulit tidur. Kalau pun tidur, dia akan bermimpi buruk. Untuk kemudian terjaga sampai pagi.

Bayangan kakaknya selalu berkelebatan di dekatnya. Ke sana-ke sini. Membawa beberapa baju yang terlihat kepayahan di tangannya. Masuk ke kamas pas. Lalu keluar sambil memutar tubuh di depan Ody. Yang tentu saja tidak mendapat respons dari Ody.

“Bagus, Dek?”

Atau,

“Terlalu mencolok nggak sih warnanya?”

Lalu,

“Ini payetnya kebanyakan nggak? Terlalu blink?”

“Dek!!!”

Ody tidak tahu kakaknya membeli baju untuk hadir di acara apa. Dia tidak mau tahu. Dia tadi asal saja diseret kakaknya untuk diajak ke mal. Dan dengan bodohnya, Ody menurut. Atau lebih tepatnya, tidak mempunyai tenaga untuk menolak.

Mungkin niat Maya baik, mengajak Ody melihat dunia luar. Daripada seharian Ody luntang-lantung tidak jelas di rumah, sebentar-sebentar bengong. Kalau begini, mereka bisa belanja bersama—yang tidak pernah ada dalam kamus hidup mereka. Maya sudah berniat akan membelikan apa pun yang ingin Ody beli. Tapi melihat adiknya itu sama saja, tetap bengong di kursi butik, membuatnya ikut frustrasi.

Bahkan ketika pindah ke salon, Ody memilih duduk melamun di kursi tunggu. Maya setiap lima detik harus melirik dari kaca di depannya, memastikan jika adiknya masih duduk di belakangnya dan tidak hilang. Aduh, anak itu, normal menyebalkan. Aneh begini semakin menyebalkan.

Tapi Maya terus memaksa Ody bergerak. Lepas dari butik dan salon, Ody menurut saja ketika diajak masuk ke salah satu karaoke keluarga. Lagi-lagi di sana Ody hanya menonton kakaknya menggila. Bernyanyi dengan nada sumbang dan suara yang merdu—merusak dunia. Jika keadaan normal, Ody pastilah akan membanting mikrofon yang kakaknya pegang itu.

Ody akhirnya menarik ujung rok kakaknya.

“Kenapa?”

“Pulang. Pusing.”

Maya segera meletakkan mikrofonnya. Sebelum meninggalkan mal, Maya berbelok ke supermarket yang ada di lantai satu. Membeli beberapa buah dan cemilan.

***

Rumah baru Kinan ada di pusat ibukota. Baru bisa ditempati dua bulan belakangan ini. Mengingat Kinan yang cukup rempong masalah desain, membuat hampir separuh bangunan direnovasi kembali.

   Dia sengaja memilih letak yang strategis. Atau lebih tepatnya, dekat dengan kantor tempat Anggun bekerja. Dia membebaskan istrinya tetap bekerja. Meski sebenarnya Kinan ingin istrinya ada di rumah. Tapi melihat passion Anggun dalam pekerjaannya, dia tidak tega menyuruhnya resign.

Begitu pintu dibuka, Ody menghambur ke Anggun. Maya yang kerepotan membawa dua paper bag besar langsung melangkah masuk. Setelah lepas dari pelukan Anggun, Ody beralih memeluk Kinan. Kali ini lebih lama. Anggun memilih menyusul Maya.

“Kenapa, Dek?”

Ody menumpukan dagunya di bahu kakaknya. Tatapannya masih kosong. “Kangen, Mas.”

Seraya tersenyum, Kinan menepuk-nepuk punggung Ody. “Lo kalau kangen biasanya nggak pernah ngaku. Tumben. Kenapa?”

“Nggak apa-apa.” Ody menarik diri. Lantas melewati Kinan yang masih ingin bertanya lagi.

Sampai dapur pun, Kinan masih mengekori adiknya. “Dyyyy. Kenapa? Cerita.”

Maya yang mengupas mangga mendongak. “Itu adek kesayangan lo bentukan mukanya udah begitu satu bulan ini, Mas. Paling juga patah hati.” Lalu ketika Kinan lewat di sampingnya, Maya berbisik. “Gue nyerah, Mas. Seharian ini udah gue ajak happy-happy, tapi nggak berhasil.”

J A R A K [2] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang