Sougo menguap bosan, hari ini tugasnya berjaga malam di markas. Kalau saja bisa, Sougo jelas lebih memilih meringkuk di dalam selimutnya di kamarnya sendiri dibanding berjaga malam, berkeliling markas dengan udara dingin dan nyamuk yang berkeliaran.
Manik merahnya melirik ke samping, apalagi rekan berjaganya Shimaru Saitou, anggota Shinsengumi yang jarang sekali bicara. Ia memang dekat dengan Shimaru yang selalu di panggilnya niisan, tapi kalau berjaga malam tanpa berbincang juga rasanya membosankan. Sebenarnya Yamazaki juga menjadi rekan berjaganya malam ini, tapi pencinta anpan itu sedang pergi. Membeli makanan untuk cemilan mereka. Sougo tentu ingat, ia masih berhutang dengan Yamazaki.
Karena bosan menunggu Yamazaki itulah, ia sekarang berada di kamar Hijikata. Mencoret-coret wajah Hijikata dengan spidol. Sougo menutup mulutnya, menahan tawa saat ia menggambari Hijikata kumis, jenggot dan gambar kotoran di kedua pipi mayora itu. Puas mencoret wajah Hijikata, Sougo lalu memasang jebakan, seember air yang tercampur dengan kotoran sapi ia gantungkan di depan pintu kamar Hijkata. Sebelumnya ia juga memasang lukisan menyeramkan di dinding kamar wakil komandan iblis itu. Posisinya menghadap Hijikata, pemuda berponi V itu bisa langsung melihat lukisan itu kalau ia terbangun.
Sougo mati-matian menahan rasa sakit di perutnya, membayangkan Hijikata yang terbangun sambil berteriak ketakutan saat melihat lukisan itu. Pemuda itu pasti langsung berlari keluar dari kamar, dengan ember air kotoran sapi yang menyambutnya dari atas.
'Rasakan itu. Hijkata konoyaro,' batin Sougo.
"Oh taichou aku sudah membelikan apa yang kau suruh." Sougo kembali ke posnya, melihat Yamazaki dan Shimaru sudah menyantap cemilan.
"Bagus, kalian makan saja." Sougo mengambil tempat duduk agak berjarak dari mereka.
"Taichou habis darimana?" tanya Yamazaki berbasa-basi.
"Melakukan misi ke seribuku untuk menjahili Hijikata-san," jawab Sougo sekenanya.
"???" Yamazaki dan Shimaru mengerjap bingung mendengar jawaban Sougo. Tapi kapten divisi satu itu mengabaikan wajah bingung kedua rekannya.
"Mana dua orang lainnya?" tanya Sougo, kini pandanganya terfokus di layar ponselnya.
"Mereka tadi ke toilet, taichou."
Sougo mengangguk-anggukkan kepalanya, senyumnya tersungging melihat nomor Kagura. Ia lalu memberikan spam kepada gadis itu, sebuah emoticon babi.
'Akhirnya.' Seulas senyum tersungging di bibirnya saat ada yang menelephonenya, tertera nama kontak china musume di layar ponselnya.
"Teme ... beraninya kau mengganggu tidurku. Ada perlu apa kau menelephone-ku aru~?" Suara kesal gadis itu terdengar di seberang sana.
"Aku bosan," jawab Sougo.
"Lalu?"
"Karena bosan aku memilih untuk mengerjaimu china musume," balas Sougo santai.
"Tch daripada kau mengerjaiku sebaiknya kau beristirahat saja, baka sadis. Kau itu orang sibuk tapi kau malah membuang-buang waktumu untuk hal yang tidak penting aru~."
"Are ... apa itu berarti kau sekarang ini perhatian terhadapku china?"
"Hah? Jangan bermimpi, do-s. Aku berkata seperti ini agar kau tidak usah menggangguku."
Sudut bibir Sougo terangkat mendengar jawaban Kagura. Rasanya menyenangkan mendengar Kagura yang mengomel untuk membalas perkataannya. Ah ... sejak kapan ia menjadi seperti ini? Apa ia benar-benar menjadi masokis? Tapi kalau di pikir lagi ia tidak bisa berharap yang lain bukan? Berharap kalau Kagura berkata-kata manis untuknya bukan omelan, rasanya itu mustahil bagi Sougo.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lie (Completed)
FanfictionRated T+/M Okikagu sweet and sexy romance Sebuah perjanjian dan kesalahpahaman terjadi membuat mereka memutuskan untuk menjalani hubungan palsu. PERINGATAN : Chapter yang mengandung adegan lemon akan saya beri peringatan. Jadi harap yang di bawah u...
