Bab 15 : Destiny

895 90 33
                                        

Hampir satu jam, Hana dan Ji Young mengelilingi rak-rak buku perpustakaan Queen Mary University. Susah sekali mencari referensi tentang Islam, tapi Hana akhirnya menemukan dua buku yang sesuai untuk Ji Young. Buku-buku itu berjudul The Story of Prophet Muhammad SAW dan The Miracle of Quran.

Mereka mengambil posisi duduk di lantai dua, dekat jendela. Hana tertarik membalik halaman buku yang pertama sedangkan Ji Young membaca buku yang kedua. Hening. Mereka sama-sama berkonsentrasi membaca halaman demi halaman.

Suara HP memecah konsentrasi Ji Young. "Yeoboseyo. Appa, aku sedang di perpustakaan." Lirihnya.

Hana melirik Ji Young sedetik.

"MWO?" Ji Young berteriak, membuat pengunjung perpustakaan lainnya menengok cepat sekali dan ber-hush, menyuruhnya diam.

"Ada apa?" Hana mengangkat kepala.

"Aku harus keluar sekarang, Hana." Wajah Ji Young cemas dan buru-buru keluar dari sana, meninggalkan Hana yang belum sempat berkata apa-apa.

Hana yang merasa sedikit khawatir, segera menyusul Ji Young. Namun sebelum itu ia ke meja peminjaman buku dua menit. Hana berjalan pelan menghampiri Ji Young yang rupanya duduk di kursi panjang bawah pohon.

Ji Young menyeka tangis ketika mengetahui Hana duduk di sampingnya.

"Apa terjadi sesuatu?"

"Oppa-ku... kecelakaan."

"I am sorry." Hana memegang tangan Ji Young.

Meskipun sebelum menutup telepon tadi, ayah berulang kali memberitahu kalau Ji Hyun baik-baik saja dan sudah kembali ke apartemen, perasaaan Ji Young masih sangat takut. Ia trauma, sebab dulu... bertahun-tahun silam, sebuah kecelakaan merenggut nyawa ibu mereka. Dan masih menjadi memori buruk sampai hari ini. Saat itu, dengan mata kepala sendiri ia melihat bagaimana mobil itu terpental, terbalik. Kemudian darah menggenang di jalan raya dan...

"Eomma!!" Ji Young tetiba setengah berteriak, air matanya mengalir deras sekali.

"Kamu tidak apa-apa, Ji Young?"

Ji Young menggeleng. Tidak apa-apa.

Hana melihat mata Ji Young yang sungguh sedang tidak baik-baik saja. "Bagaimana kalau kita kembali ke asrama? Mungkin... kamu butuh menenangkan diri."

Ji Young mengangguk.

###

Setelah duduk di atas kasur. Ji Young melihat wajahnya di kamera selfie HP. Ia menghapus sisa-sisa air matanya, tak mau terlihat sedih ketika melakukan video call dengan Ji Hyun. Lima detik ber-tut akhirnya wajah Ji Hyun muncul, memenuhi layar HP.

"Oppa... gwenchana?"

Ji Hyun tersenyum. "Oppa baik-baik saja."

"Kenapa kepalamu di perban seperti itu?"

Ji Hyun meraba kepalanya. "Tidak apa-apa, Ji Young-aa... ini akan segera sembuh... ouch! Walaupun sedikit sakit."Ia menyeringai.

"Bogoshipo."

"Naddo." Ji Hyun sedikit meringis, karena kepalanya masih nyeri. "Kamu kelihatannya sedang di asrama?"

Ji Young mengangguk. "Iya... aku punya teman kamar, Oppa. Dia cantik dan sangat ramah."

"Benarkah?"

"Aku akan memperkenalkannya pada Oppa."Ji Young menengok sebentar. "Tapi... sepertinya dia sedang di kamar mandi sekarang."

HANATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang