Setibanya di apartemen Shabir, Sriti merebahkan dirinya ke sofa, dia mulai mudah merasa lelah
"Kau lelah Fuggi?"
"Ha iya, aku mudah lelah sekarang ini"
Shabir mengambilkan air putih untuknya
"Minum dulu"
"Thanks" Sriti meminum air
Tiba-tiba ia mencium bau sesuatu
"Emmh bau apa ini?" Sriti menutup hidungnya
"Bau apa?"
"Sebentar aku akan cari tahu"
Sriti berkeliling kamar
"Ini milik siapa?!" Sriti menemukan bekas botol alkohol
"Kau mulai minum ha?"
"Hah? Itu milik Rohit, aku lupa belum membuangnya"
"Rohit atau..."
"Rohit Fuggi,aku tidak berbohong"
"Ayo buang!" Shabir pun menuruti ucapan Sriti yang sudah sah menjadi istrinya itu
"Sudah beres" ucap Shabir
"Yasudah, sekarang kau mandi dan istirahatlah" kata Sriti
Saat Shabir mandi, ponsel Sriti berdering
Lagi-lagi Dhruv menelfon, tapi Sriti tidak berani menjawab, dia hanya mengirimkan pesan agar Dhruv menemuinya besok
Malam harinya, Shabir membawa makanan untuk Sriti
"Fuggi, ayo makan dulu" Katanya pada Sriti yang masih menyandarkan tubuh di sofa
"Shab, mulai besok aku akan memasak saja"
"Memang kau bisa?"
"Ya jika hanya memasak air aku bisa. Kau ini meremehkanku sekali ya"
"Aku tidak meremehkan, hanya saja aku belum pernah melihatmu bertemu api"
"Apa aku ini akan perang? Sehingga harus bertemu api?"
"Tapi aku pikir api juga takut jika bertemu kau, karena kau lebih panas darinya"
"Panas? Maksudmu?"
"Ya sekali kau marah, rasanya semua yang disekitarmu akan terbakar"
"Terus saja kau meledekku!" Sriti mengambil kantong makanan yang Shabir bawa dan menyajikannya dimeja makan berukuran kecil
"Haha ayolah aku hanya bercanda, aku lihat daritadi wajahmu seperti tegang sekali, cmon yaar jangan terlalu serius"
"Kau tahu kan apa yang ku pikirkan?"
"Iya, tapi jika kau memikir hal berat, itu tidak baik untuk kandunganmu kan?" Shabir menyentuh perut Sriti
"Jujur Shab, aku masih tak percaya jika ini terjadi pada kita" Sriti menggenggam tangan kanan Shabir
"Sudah, sekarang makan dulu, ayo"
Keduanya pun menikmati makan malam
-0-
Gurmeet sibuk memperbaiki mobilnya yang macet ditengah jalan, saat itulah Dhrasti justru asyik memakan permen disampingnya
"Tolong ambilkan aku kanebo"
"Ha?"
"Kanebo, tolong ambilkan"
"Oh sebentar'' Dhrasti segera mengambilkan itu
"Sekarang obeng, ada di jok belakang dikotak alat"
"Kau ini menyuruhku terus memang aku ini asistenmu?!"
"Kau mau mobil ini segera jalan atau tidak?"
"Kau kan bisa mengambil sendiri"
"Aku akan ambil sendiri dan segera meninggalkanmu disini?" Gurmeet mulai kesal karena Dhrasti banyak bicara
"Suka sekali mengancam, huft" Dhrasti pun memberikan kotak alat pada Gurmeet
Beberapa saat kemudian, ia selesai memperbaiki mobil
Namun ketika Gurmeet menegakkan badan, ia terkejut melihat sepasang muda-mudi keluar dari sebuah cafe tak jauh dari tempat tersebut
Gurmeet segera berlari untuk memastikannya, namun sayang keduanya lebih dulu masuk ke dalam mobil
Gurmeet jadi teringat ucapan Madhu
'kau sudah gila Madhu! Tak mungkin dia hidup lagi!' teriak Gurmeet saat itu
'aku masih waras, dia beberapa kali mendatangiku!'
'heh aku sendiri ikut pembakaran mayatnya!'
'tetapi aku berkata benar Gurmeet'
'sudahlah, mungkin kau butuh dokter' Gurmeet meninggalkan Madhu
"Woi!" Dhrasti mengejutkannya
"Ha eh apa?"
"Apa yang kau kejar?"
"Tidak ada, ayo"
Keduanya kembali masuk mobil dan pergi dari tempat itu
-0-
Sementara ditengah perjalanan, Dhruv hanya diam saja
"Dhruv" Sheina mencoba mencairkan suasana
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Ah tidak ada Sheina"
"Kau tidak pandai berbohong dhruv, aku bisa melihat dari raut wajahmu"
"Hmmm aku serius, aku tidak sedang memikirkan apapun"
"Aku pikir jika kita berteman, kau bisa percaya padaku, ternyata tidak"
"Bukan begitu Sheina, hanya saja ya.... sorry aku belum bisa ceritakan"
"Oh baiklah. Oya, besok kau sibuk?''
"Kenapa? Kau akan mengajakku pergi?"
"Hmm ya jika kau tidak keberatan, sebenarnya aku hanya ingin mencari udara segar saja"
"Baiklah lihat besok ya"
Dhruv belum ingat jika punya janji menemui Sriti
-0-
Sheina meminta Dhruv menghentikan mobil disebuah toko boneka
"Kau mau membeli boneka?"
"Iya, sebenarnya keponakanku ulang tahun hari ini jadi aku akan memberinya hadiah"
"Oh, yasudah, aku tunggu dimobil saja"
"Dhruv, jika kau lelah kau bisa pulang dulu, nanti aku bisa naik taksi" jawab Sheina
"aku bukan orang yang suka meninggalkan orang lain sembarangan"
"Baiklah, thanks Dhruv" Sheina pun turun
Dhruv menyandarkan kepala dan memejamkan mata
Tiba-tiba bayangan kertas laporan Sriti melintas dibenaknya
'POSITIF' kata itu terlihat jelas
'Sriti tidak terlihat sebagai gadis nakal, tapi bagaimana mungkin itu terjadi? Jika tunangannya tidak bertanggung jawab, aku akan mencari orang itu!' tekad Dhruv dalam hati
'tring' Sebuah pesan masuk
''Sriti?" Dhruv membaca nama yang tertera dilayar
'Dhruv, aku bisa menemuimu sekarang di Gold Coffee' tulis Sriti dipesannya
Dhruv pun turun dan menemui Sheina yang masih sibuk memilih boneka
"Sheina, maaf aku harus pergi"
"Ada apa Dhruv?"
"Aku ada urusan, kau tidak apa-apa kan naik taksi?"
"Iya, aku tidak apa-apa. Hati-hati Dhruv"
"Oke, bye Sheina"
Sheina menatap punggung Dhruv
'dia memang bukan Ankit' batin Sheina, ia kembali memilih boneka untuk keponakannya
-0-
Dhruv tiba di Gold Coffee dan mencari Sriti
"Hai Sriti"
"Hai duduklah Dhruv"
"Thanks, bagaimana? Kau jadi mau ikut ke rumah Madhu?"
"Tapi bagaimana caranya agar tidak ketahuan? Aku sangat bingung"
"Oh iya aku lupa, ada satu lagi informasi"
"Apa?"
"Jadi laki-laki yang menolak kakak Madhu, bernama Shabir, ia orang Mumbai dab satu kampus dengan Madhu"
'Deg' jantung Sriti berdegup kencang
"Sha...Shabir?"
"Iya, dia tidak menerima cinta kakak Madhu, bahkan ia justru dekat dengan seorang gadis tapi aku tak tahu siapa"
"Dhruv, bagaimana caramu bisa mendapatkan informasi itu?"
"Kau tak perlu tahu, yang penting kan hasilnya"
"Tapi Dhruv...."
"Sudah, jangan kau pikirkan. Emmm boleh aku tanya sesuatu?"
"Ya?"
"Apakah bayimu...e maksudku ayahnya..."
"Ayahnya sudah bertanggung jawab" pangkas Sriti
"Maksudmu kau....sudah..."
Sriti menjawab Dhruv dengan menunjukkan tanda merah didahinya
"Maaf Dhruv, jika aku benar-benar mengecewakanmu"
'dan maaf jika aku tidak cerita jika aku mengenal Shabir' lanjutnya dalam hati
"Kau sudah menikah? Its oke, aku ikut senang" Dhruv memasang senyum palsu
Ia pun pamit ke toilet
Saat itu, Sriti melihat Raj, tunangan Sheina masuk cafe itu bersama....
"Madhu?!!!" Hampir Sriti berteriak tapi ia menahan suaranya
'apa lagi ini????? Madhu bersama Raj? Lalu Gurmeet? Ya Tuhannnnnn' Pikiran Sriti berkecamuk, setelah Dhruv kembali dari toilet. Ia pun ijin pulang
-0-
Sriti selesai membereskan bekas makan malam, lalu membersihkan diri dan mengganti pakaian, begitu juga dengan Shabir. Setelah selesai, keduanya duduk berbincang-bincang di sofa
"Fuggi, kau pasti bosan ya dirumah terus?"
"Kau benar Shab, aku bingung harus melakukan apa"
"Emmm bagaimana jika kau menjadi managerku saja?"
"Manager? Kan sudah ada Shivin"
"Ya kau kan bisa membantu mengurus perlengkapanku"
"Itu artinya aku menjadi asistenmu?"
"Kan sudah daridulu kau menjadi asisten, kau selalu menyiapkan semua keperluanku"
"Dan kau adalah bodyguardku, kemanapun aku pergi kau akan mengikutiku"
"Bagaimana lagi, aku tidak akan tenang jika belum mengetahui keberadaanmu dan melihatmu"
"Dan kau lebih tidak tenang jika tak mengedipkan mata kepada para gadis selama beberapa detik saja"
"Itu kan saat aku masih muda"
"Jadi sekarang kau sudah tua?"
"Tidak juga, buktinya aku masih tampan" Shabir memegang wajahnya dan memiringkan ke kiri dan kanan
"Disini tidak ada perempuan-perempuan itu, tak perlu kau tebar pesona"
"Tapi kan ada kau?"
"Me? Never!!!"
"Benarkah? Are you sure?"
"Im 100& sure!"
"Coba tatap aku dan katakan jika kau tak tergoda"
"Siapa takut?" Sriti menatap Shabir tanpa ragu "aku tidak tergoda" Katanya sambil menarik hidung Shabir
"Kau berani menarik hidungku!"
"Menjambakmu saja aku berani wleeee"
Shabir mencubit pipi istrinya itu, beberapa saat mereka hanya diam menatap satu sama lain
"Fuggi"
"Hmmm"
"Aku...." Shabir menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Berapa minggu kau tidak keramas?"
"Enak saja, setiap hari aku keramas"
"Lalu kenapa kau menggaruknya? Apa ada kecoa?"
"Memangnya rambutku kolong tempat tidur?"
"Siapa tahu kan?"
"Emm Fuggi"
"Iya Mr. Playboy. Ada apa?"
"Eeee apa aku boleh meminta hakku?"
"Hak?" Sriti mengerutkan kening
"Begini kita kan sudah menikah, aku resmi menjadi suamimu jadi aku ingin...." Shabir takut jika Sriti tersinggung, tapi bagaimanapun keduanya sudah sama-sama dewasa. Memang sebelumnya mereka pernah melakukan itu, tapi dalam keadaan tidak sadar, dan kini Sriti sadar jika ia memang sewajarnya memenuhi kewajiban sebagai seorang istri
Meski dengan ragu, Sriti pun mengangguk
Shabir tersenyum dan langsung mencium kening Sriti dengan begitu tulus, cukup lama, kemudian ia mencium kedua mata Sriti yang terpejam
Keesokan paginya tak terjadi kehebohan seperti sebelumnya, Shabir masih menggenggam erat tangan Sriti didadanya, Sriti yang bangun lebih dulu tersenyum melihat suaminya
"Ternyata saat tidur, wajahnya memang menggemaskan, coba jika sudah bangun" Sriti mengusap lembut pipi Shabir
"Shab..." Ia membangunkan Shabir pelan
"Hmmm" Shabir hanya menggeliat dan tidur lagi
Sriti pun memakai piyamanya dan bergegas membereskan pakaian yang berserakan kemudian mandi
Pukul 08.00, ia sudah menyiapkan sarapan untuk Shabir di meja
"Shab, ayo sarapan"
"Iya Fuggi" Shabir memeluknya dari belakang
"Hmmm kau harum sekali Fuggi"
"Memang biasanya tidak?"
"Aku tidak tahu"
"Sudah, ayo sarapan dulu"
"Fuggi"
"Apalagi?"
"Thanks for lastnight" katanya sambil mencium pipi kanan Sriti
"Sama-sama" Sriti melepaskan pelukan Shabir dan mengambilkan makanan untuk suaminya
"Sudah jam 8 lebih, habiskan makananmu dan segera berangkat"
"Hmm baiklah nyonya Mehra"
Shabir pun mulai melahap makanannya
-0-
KAMU SEDANG MEMBACA
Romeo Juliet Nahi Hai
RomanceHai Aku balik lagi dengan cerita baru nih Judul : Romeo Juliet Nahi Hai (Bukan Romeo Julie) PU : Shabir,Sriti,Madhurima Tuli, Gurmet Choudary Author : Fara Tika Fanani Romeo Juliet Nahi Hai Di salah satu universitas di Mumbai, ada dua orang sahab...
