25. Hari Perpisahan

98 9 0
                                        

Happy Reading!!

Kumohon beri hamba waktu sebentar saja Tuhan, agar hamba bisa menyampaikan rasa ini.

❤❤❤

Author POVs

Matahari dan bulan silih berganti menerangi bumi. Bumi masih terus berrevolusi mengitari matahari dan bulanpun berrotasi mengelilingi bumi. Tak ada yang pernah tahu bagaimana masa depan.

Tahun berganti begitu cepat. Arzi dan kawan-kawan seangkatannyapun telah berada di penghujung waktu mereka merasakan masa putih abu-abu. Selama itupun rahasianya tak pernah ada yang mengetahui. Tentang perasaan lawan jenis yang masih tak diketahui oleh masing-masing. Bahwa perasaan keduanya sama. Tak bertepuk sebelah tangan. Berbeda kelas kembali membuat mereka sama halnya pada saat pertama sang pemuda masuk ke sekolah ini. Ditambah sekarang Albie sekelas dengan Vanessa yang tak pernah jauh dari Albie. Albie memang memberitahukan perasaannya kepada Nessa—begitu Albie memanggil sahabatnya. Tentang apa yang dirasakannya pada Arzi. Tentang perasaan yang orang-orang sebut merah jambu. Cinta.

Semenjak itulah Vanessa selalu menghalangi Albie—tanpa membuat Albie curiga—untuk bertemu dengan Arzi. Dan Arzipun berusaha menjauh. Dia sekarang lebih banyak menghabiskan waktu istirahat di kelas. Membaca buku-buku pelajaran. Dia tak perlu makan ke kantin saat jam istirahat karena setiap hari dia membawa bekal dan minum dari rumah. Uang jajannya selalu ia tabung untuk membeli hal yang lebih bermanfaat seperti buku-buku persiapan UN contohnya dan masih banyak macam macam buku yang dapat dibelinya. Bahkan rak buku dindingnya mulai penuh ditambah meja belajarnyapun penuh dengan buku-buku bacaan. Para sahabatnyapun tak pernah memaksa atau curiga dengan segala tingkah Arzi. Arzi terlalu hebat berakting.

Bahkan sampai saat ini mereka tengah disibukkan dengan ujian nasional berstandar komputer. Hari terakhir UN dengan mata pelajaran pilihan jurusan dan sekolah Arzi memilih pelajaran kimia untuk jurusan IPA dan mapel ekonomi untuk jurusan IPS. Dua jam dilewati dengan otak yang harus bekerja menyelesaikan soal mata pelajaran jurusan. Dan ekspresi legapun terlihat dari wajah para siswa SMA Husna Harapan ini, walaupun lulus atau tidak belum mereka ketahui. Begitu keluar dari ruang ujian, mereka berkumpul di lapangan sekolah. Ada yang berfoto bersama. Ada yang berpelukan bersama. Dan di sisi lapangan dekat ruang kelas, Arzi terlihat tengah berpelukan bersama kelima sahabatnya. Mereka berbahagia bisa melewati UN dengan lancar, tak banyak masalah berarti datang.

"Enggak terasa ya, kita udah tiga tahun bersahabat. " Arzi tersenyum kepada semua sahabatnya setelah mereka mengurai pelukan berbentuk melingkar itu.

"Iya. Nanti kalian jangan pada lupdir. " Anna yang berdiri di samping kanan Arzi menimpali ucapan Arzi sambil menjulurkan tangannya dengan jari telunjuk menunjuk pada setiap sahabatnya.

"Ya enggak bakalan aku mah. Jangan sampe lost contact juga nanti, " sahut Rifa.

"Eh siapa yang sering susah dihubungin, " nyinyir Nadia yang memang ditujukan kepada Rifa, salah satu orang yang selalu susah dihubungi lewat handphone.

Rifa hanya cengengesan sedangkan yang lainnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. "Oh iya nih. Apalagi Arzi yang bakalan ngerantau ke kota orang. Kamu jangan sampai lupa sama kita-kita lho, " ucap Dinda yang berdiri sambil bersidekap dada.

"Kalian jangan lupain aku ya. " Nadin berujar dengan wajah polosnya. Khas Nadin. "Apalagi kamu Ar mau ngerantau ke kota orang. "

"Perasaan barusan aku juga bilang gitu ya, " ujar Dinda dengan nada sedikit kesal. "Ah masa? " Nadin kembali menampilkan wajah yang minta ditabok—kalau kata Anna. Arzi memandang seluruh wajah sahabatnya. Mengingat secara spesifik setiap sahabatnya. Dia memang akan pergi sedikit jauh dari para sahabatnya yang memilih tetap di lingkungan masing-masing. Dia berhasil mendapatkan beasiswa kedokteran di salah satu universitas negri terbaik di Indonesia, yang juga Abangnyapun mendapat beasiswa disana dengan jurusan manajemen bisnis—yang berkebalikan dengan jurusannya saat SMA yaitu IPA. Fenomena anak IPA yang banyak melanjutkan pendidikan perkuliahan dengan jurusan IPS sudah menjadi fenomena biasa. Banyak alasan yang menyebabkan fenomena itu.

Cinta Pertamaku dan Takdir✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang