HAPPY READING
•|•|•|•|•|•|•|•|•|•|•|•|•|•|•
REPOST
“Ya Tuhan!” Nara memekik pelan, spontan memegang lengan Hyemi dengan erat lalu menyeretnya kembali ke arah kedatangan mereka, menyelinap ke toilet wanita.
“Ada apa?” tanya Hyemi bingung.
“Kau tidak lihat?” tanya Nara gusar sambil menggigiti ujung kukunya.
“Lihat apa?”
“Pria itu.”
“Siapa? Bicara yang jelas Park Nara.”
Hyukjae yang sempat melihat Hyemi dan temannya berlari kecil, menyelinap ke toilet. Dia berdiri di depan pintu. Menunggu mereka keluar tidak peduli jika semua gadis menatapnya bingung. Dia hanya mengibas-ibaskan tangannya agar mereka mengabaikan keberadaan dirinya disana. Kepalanya bergerak ketika mendengar suara Hyemi yang berteriak.
“Demi, Tuhan, kau mulai lagi. Apa yang tidak kau sukai dari Hyukjae Oppa?” kening Hyukjae semakin mengerut, semakin tertarik untuk menguping. Dan, dia memutuskan untuk masuk lebih dalam, berdiri di balik dinding tepat pintu keluar.
“Warna rambutnya, tingkahnya, sikapnya, juga rambutnya yang panjang seperti wanita. Sudahlah, lebih baik kau lihat apakah dia masih diluar atau tidak. Aku tidak mau terlambat masuk ke kelas!”
Hyukjae segera bergegas dari sana. Berjalan secepat mungkin menjauhi tempat itu. Dia berhenti di depan lemari kaca yang menyimpan beberapa piala. Menyentuh rambut panjangnya. Memindai penampilannya. Kepalanya menggeleng, kenapa dia jadi memikirkan ucapan gadis itu?
A•M•H
Kaki panjang itu berjalan santai menyusuri koridor, matanya mengedar mencari sosok seorang gadis yang minggu lalu dia temui. Mengabaikan sorotan puluhan pasang mata yang menerjangnya, mungkin karena rambutnya kini lebih pendek dan rapi.
Yah, pria itu memotong rambutnya, tepatnya beberapa jam yang lalu. Hal tersebut hanya semakin membuat dirinya terlihat jauh lebih tampan, berkali lipat dari sebelumnya.
Dia berhenti, tubuhnya berdiri santai diambang pintu sebuah kelas, tentu saja setelah dia yakin gadis yang dicarinya berada disana. Tatapannya lurus dan fokus pada objek tersebut.
Seorang gadis dengan rambut.. hari ini tidak terkepang dua, melainkan hanya diikat seadanya menjadi dua bagian yang dibiarkan jatuh menutupi bahu. Tidak lupa kacamata bingkai tebal yang menghias wajah.
Pria itu rersenyum tipis, berjalan mendekat ke arah gadis yang sedang duduk bertopang dagu menatap keluar jendela, mendudukan diri tepat di depan gadis itu dan berpose sama tanpa mengubah posisi tempat duduk. Masih tersenyum meski yang dia dapatkan adalah tatapan terkejut sekaligus bingung dari gadis tersebut.
"Hai," sapa Hyukjae dengan senyum tipisnya. Tangannya merogoh saku jaket kulit yang dia kenakan, mengeluarkan ikat rambut berwarna biru muda dari sana. Milik gadis tersebut yang tujuh hari yang lalu dia rampas dengan halus. Dia menyodorkannya. "Ikat rambutmu, kukembalikan." jelasnya singkat.
Nara menatap sekitar. Beberapa orang berbisik. Beberapa orang tak acuh dan yang lainnya menunggu. Tidak ada yang berani berkomentar apalagi bertanya. Sialnya, kenapa dia hari ini sendiri tanpa Hyemi? Kemana sahabatnya itu disaat dia membutuhkan perlindungan?
Jika dipikir, memang siapa yang berani mengusik Si Penguasa ini? Tidak ada yang berani melarang apa pun yang dia lakukan meski itu sebuah perbuatan bejat sekalipun.
KAMU SEDANG MEMBACA
C A T C H Y
Kurzgeschichtensekumpulan tulisan tentang mereka yang berbaur dalam rasa... O N E S H O O T D R A B L E
