Twilight and the rainfall

453 47 21
                                        









Ketika itu sore, saat gerimis datang. Kaki kecilnya berlari meneduh pada halte. Duduk manis sambil membersihkan sisa air yang menghampiri. Senjanya meredup, tapi dia suka. Tetap suka. Dua hal yang paling dia sukai adalah hujan dan senja. Semua hal yang berfilosofi tentang perpisahan dan pertemuan yang sejenak lalu pergi tanpa jejak.

Langit sore kali ini tidak jingga yang mencerahkan dan menghantar hangat untuk pulang, tapi bukan berarti hujan lebih buruk. Hujan yang dingin menyejukkanya. Hal berbeda yang dia sukai tanpa alasan yang jelas. Hanya suka dengan hatinya. Lamunannya buyar ketika sesuatu menyelimuti punggungnya. Sebuah jaket kulit hitam.

"Twilight and the rainfall."

Gadis itu tersenyum tipis menanggapi kalimat yang baru saja terlontar dari bibir pria yang rela meminjamkan jaket padanya. "Terimakasih. Kupikir kau masih sibuk. Bagaimana dengan pekerjaan?"

"Semuanya baik." singkat sekali. Gadis itu sudah biasa. Kekasihnya memang terlalu sayang dengan pita suara.

Hanya mengangguk saja,  kemudian ikut beranjak menuju mobil yang terparkir tak jauh dari mereka. Kekasihnya bukan tipe manusia hangat diluar, dia tidak pernah membukakan pintu untuknya. Kasarnya pria itu memang terlalu dingin. Sekali lagi gadis itu sudah biasa. Kelewat biasa.

"Halo, Sura, ada apa?" Nara menyapa seseorang yang menghubunginya.

"Selamat!!  Kyuhyun baru saja menghubungiku, mengatakan bahwa tulisanmu akan terbit!!"

Senyumnya melebar mendengar kehebohan dari sahabatnya, nyaris memekik jika tidak ingat dia sedang bersama Lee Hyukjae. Pria itu tidak suka hal yang berlebihan. "Terimakasih, aku janji akan mentraktirmu nanti."

"Okey, kutunggu!"

Harapannya Hyukjae akan bertanya, tapi hanya sebuah lirikan sekilas yang tidak disadari Nara dan itu membuat gadisnya berpikir apakah selalu dia yang memulai?  Haruskah selalu dirinya yang mengerti dan mengimbangi?

Ah, lupakan saja. Nara sedang tidak mau bersedih ria, dia bahagia karena impiannya sebagai penulis akan segera terwujud. Naskah novel yang dia kirimkan beberapa bulan lalu disetujui pihak penerbit. Oh, dia benar-benar akan mentraktir Sura sepuasnya karena sudah membantu mengurus semua ini. Cho Kyuhyun -tunangan sahabatnya- adalah salah satu editor di penerbitan.

"Kenapa ikut turun?" Nara bertanya penuh keheranan melihat Hyukjae mengikutinya keluar dari mobil. Biasanya pria itu akan langsung pergi setelah memastikan dirinya sampai diapartemen sederhana miliknya.

"Tidak boleh?" nada datarnya tidak berubah.

"Bukan begitu. Ayo masuk." dan Nara yang selalu mengalah.

Hening. Mereka berjalan bersisian tanpa genggaman. Hubungan mereka sudah berjalan selama enam bulan, tapi berpegangan tangan pun jarang mereka lakukan jika bukan Nara yang tidak sengaja memulai. Maksimal kecupan dikening jika Hyukjae sedang dalam mood yang baik.

"Nara!"

"Oh, Oppa!" gadis itu melambai riang,  tanpa sadar menghambur ke dalam pelukan pria jangkung berbahu lebar yang berdiri di depan pintu apartemennya.

"Wow, ada apa ini?" Kim Seokjin -orang-orang lebih senang memanggilnya Jin-  sampai menubruk pintu dibelakangnya karena serangan gadis pemilik apartemen. "Senang sekali?  Pasti ada sesuatu."

Nara tersenyum begitu cerah. Dia mengangguk antusias saat mendapat pertanyaan Jin. Pria yang paling dekat dengannya setelah Hyukjae. "Sura mengatakan kalau naskahku diterima!"

C A T C H YTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang