Something Wrong With Me

396 58 72
                                        

Mengedarkan mataku mencari sosok Niall yang dari tadi belum kutemui sejak kejadian buruk di hutan. Berharap dia sudah pergi ke kampus dan aku bisa menemuinya sekarang. Sayangnya, dia tidak ada di kelas. Mengingat kelas kami berbeda hari ini.

Berjalan ke kafetaria, berharap dia ada di sana agar aku bisa berbicara dengannya. Seakan-akan semua berpihak padaku, Niall berada di depanku dengan membawa nampan yang di sana ada makan siangnya.

"What's up?" sapanya santai yang seakan-akan tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

"Fuck! Aku mencari mu..." Aku segera menghampirinya.

"Ngomong-ngomong kau yang tidak masuk kemarin."

Aku diam sejenak. Dia benar juga. "Baik, lupakan... Ayo, aku ingin bicara denganmu."

Dia  mengangguk , walaupun ragu. "Okay..."

Aku dan Niall mencari meja kosong. Kebetulan meja paling pojok dan belakang kosong. Kami berjalan ke sana lalu mendudukinya.

"Kau tidak makan?" tanyanya. Kami duduk berhadapan.

"Tidak..." Kalau saja Niall tahu aku harus berhemat.

Niall memajukan posisinya ke arahku.
"Bagaimana keadaan mu setelah kau keluar dari kantor polisi?"

"Buruk. Anne menghukumku," jawabku enteng. Lalu tanganku mengambil kentang goreng milik Niall.

Niall memperhatikan tanganku. Kemudian dia mengernyitkan dahinya. "Kau tidak diberi uang saku lagi, eh?"

Aku memutar bola mataku. Dari tanganku yang mengambil kentang darinya, dia langsung bisa menebak dengan benar. Waw! Niall benar-benar sahabatku. "Ya..." Walaupun hanya 20 dolar. Jelas itu tidak berarti bagiku. Aku mengambil kentangnya lagi.

Tapi sialnya, Niall langsung menarik untuk menjauhkan nampannya dariku.

"Heyy..." Aku keheranan.

"Aku lapar, idiot! Kau bisa pesan sendiri menggunakan uangku untuk sementara."

Mengangkat satu alisku. Niall benar juga. Tunggu, tapi aku melupakan sesuatu. "Ada yang ingin kukatakan padamu."

"Kau terlihat serius." Kini giliran dia yang memakan kentangnya.

"Ini tentang...--"

"Kendall..."

"Bukan..." aku menggeleng cepat. Jelas bukan Kendall yang menjadi bahan pembicaraanku.

"Bukan..." sergahnya balik, lalu matanya menatap lurus ke belakangku. "Dia sedang berjalan ke sini," tunjuknya dengan menggunakan dagu.

 "Dia sedang berjalan ke sini," tunjuknya dengan menggunakan dagu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku langsung menoleh ke belakang. Melihat Kendall sedang berjalan ke arah kami. Melihatnya berjalan dengan perlahan, serta rambut tergerainya yang hitam lurus mengambang ke udara seperti sedang menari dengan indah. Tatapanku jatuh pada senyumannya. Dia tersenyum dengan merekah hingga membuatnya  sangat manis. Jangan lupakan kaki panjangnya, dia berjalan seakan-akan ini adalah panggung fashion show. Tapi tidak dengan celana panjang hitamnya dan kaus ketat panjangnyanya yang biasa. Itu jelas merusak fantasiku.

Cousin [Hendal]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang