"Permisi..."
Seketika kami berempat langsung menoleh ke sumber suara, tepat di pintu ruangan lab sialan ini! Dia datang tiba-tiba tanpa diduga, tanpa diundang, dan dia juga orang yang tidak kuinginkan untuk melihat semua ini. Ingin tahu siapa dia? Tidak lain adalah musuhku sejak kecil, Kendall.
Posisi kami berempat terdiam. Liam dan Louis memegang kedua tanganku, sedangkan Zayn, tangan kanannya mengambang ke udara tepat di depan wajahku. Dan aku, terhimpit antara meja dan Zayn yang tidak ada niat untuk melepaskan tangan kirinyanya dari kerah kausku.
Well, bunuh saja aku!
"Hai, Ken. Apa yang kau lakukan? Bukankah tidak sopan? Kau mengageti kami..." Aku tersenyum kecut di sela-sela kenaasanku. Sedikit basa-basi karena sebenarnya diriku memang butuh bantuan. Yeah, walaupun Zayn sudah memukulku di bagian pipi dan kening. Lagi, aku tidak ingin menunjukkan sisi malangku di depan Kendall. Tidak akan terjadi. Jadi pura-pura bisa dan menjadi seorang pria adalah pilihanku.
"Kupikir kau butuh bantuan." Kendall tersenyum miring. Tubuhnya bersandar di pintu. Sombong sekali dia!
"Ngomong-ngomong kami tidak ...,
Fuck! Bisakah kalian berhenti sebentar?" Itu karena Liam dan Louis semakin mencengkeram lenganku. "Sopanlah sedikit. Aku sedang berbicara dengan Ken."
Tiga pecundang ini langsung melempar tatapan tidak sabar. Seakan-akan mereka melihat aku ini adalah karung samsak! Oh, crap! Sedangkan Zayn melihat ke arah Kendall dengan napas yang masih memburu.
Baiklah, Harry. Tarik napas, lalu keluarkan...
"Kami tidak butuh pemandu sorak," sela Zayn disertai senyuman miring.
"Dan dia juga jagoan," tambah Liam.
"Itu jika satu lawan satu, idiot!" serobotku.
Louis melempar tatapannya kepadaku. "Jagoan tidak memandang berapa jumlah musuhnya," tambahnya.
Ngomong-ngomong aku bukan Iron Man atau Spiderman. Aku hanya Harry Styles yang mencoba untuk populer. Mengenaskan, bukan? " Pecundang juga tidak peduli jumlah lawannya."
Zayn tersenyum miring. "Hey, kau benar. Kami tidak peduli dengan itu."
Tangan kanan Zayn kembali mengambil ancang-ancang. Dia akan memukulku dengan mudahnya.
"Wait, wait, wait!" Seketika tangan Zayn kembali mengambang. Syukurlah. Aku kembali bernapas. "Pecundang tidak cocok untukmu. Melihat jambang, tatto dan tubuh besar kalian itu sangat kontras sekali." Setidaknya diriku tidak menyerah untuk melakukan negosiasi.
"Kau membicarakan dirimu sendiri, hah?" Zayn berseringai.
"Well, ngomong-ngomong aku tidak punya jambang." Hey, aku masih bisa tersenyum.
"Kau terlalu banyak bicara, Styles."
Inilah aku, di mana diriku tidak bisa melakukan apa-apa dan tidak berdaya. Terlalu payah dan merasa bahwa diriku benar-benar sudah tidak merasa keren lagi dan mengenaskan.
Sial!
Selanjutnya, kalian bisa menebak apa yang akan terjadi. Tangan Zayn kembali melayang, semakin mendekat secepat kilat dan... BANG!
Kepalaku dibuatnya menoleh ke samping kanan karena tinjauannya.
Satu lagi, kepalaku menoleh ke samping kiri. Kujamin, sekali lagi dia meninju rahangku akan copot beserta gigi-giginya.
Aku meringis, sedangkan ke tiga pecundang ini tergelak puas.
"C'mon... Aku datang ke mari bukan hanya untuk melihat aksi sok keren kalian."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cousin [Hendal]
FanfictionDia suka menggangguku dengan cara mengambil semua barang-barangku dan juga termasuk ibuku. Yeah... Walaupun itu sudah sangat lama sekali, tapi otakku dengan baik masih mengingat semua itu. Dan... Apa besok akan seperti itu?
![Cousin [Hendal]](https://img.wattpad.com/cover/154444382-64-k48332.jpg)