The First Time

482 65 45
                                        

Mendorong tubuh Kendall, sampai dia terjatuh di atas sofa. Tubuhku mengimbanginya sehingga diriku berada tepat di atasnya. Kami masih belum melepaskan tautan bibir kami. Malah ciuman ini semakin panas dan semakin basah.

Aku berusaha menahannya, juga tanganku terus-menerus meremas tangannya. Semakin meraba sampai di sisi pinggangnya, tanganku mengelusnya  sehingga membuat kendall mendesah di sela ciuman.

Menarik  bibirku sedikit dari jangkauannya. Seketika kulihat dengan jelas terpancar kekecewaan dari matanya.

Aku menatatap matanya dalam-dalam. Mencoba membaca pikirannya melalui mata cokelatnya yang sekarang juga manatapku dalam-dalam, sayup, tapi begitu tajam.

"Kau tahu apa yang kita lakukan ini?" bisikku tepat di depan wajahnya.

Kendall mengangguk, dia mengulas senyum. Lalu dia kembali mencium bibirku sekilas dengan sangat lembut. "I love you..." balasnya lirih.

Memejamkan mataku sejenak untuk berpikir. Jelas situasi ini membuat kerja otakku  mendadak berhenti. Aku membuka mataku kembali. Sedangkan tangannya terus bergerak mengelus rahangku dengan lembut. "What do you think?" Kendall bertanya dengan sangat lembut.

Membuang napasku dengan kasar. Wajahku berpaling dari wajahnya, tapi tidak dengan badanku. "I-i don't know. This is so complicated." Yeah... Ini jelas membuatku sangat pusing sampai kepalaku ingin pecah berkeping-keping.

Kendall meraih daguku. Dia mengarahkan mataku untuk lebih menatap matanya lagi. "Dengarkan, ini tidak rumit. Aku menyukaimu." Kendall menciumku kembali. Kali ini dengan kecupan yang lebih lama. Itu cukup membuat jantungku lebih bekerja dengan sangat keras dari sebelumnya. Bahkan sampai ingin copot.

Aku bangkit, memposisikan diriku duduk di sebelahnya. Lalu menyibakkan rambutku ke belakang. "Ken, sayangnya pikiranku tidak sama seperti apa yang kau pikirkan. Aku memikirkan segalanya. Anne dan Jack. Semuanya..."

Kendall memposisikan dirinya duduk di sampingku. Dia menarik kedua bahuku dan memutarnya sehingga diriku bisa menatapnya kembali. "Love is love..." Bisiknya pelan.

Seketika otakku berputar untuk memikirkan apa yang baru saja dia katakan. Yeah, dia benar. Cinta adalah cinta. Tidak peduli siapa dia, apa lagi persetan dengan apa yang namanya status keluarga. Tapi lagi, bukan hanya itu yang membuatku bingung. Ini tentang diriku sendiri yang kurang yakin dengan sebutan statusku dengannya setelah ini. Apa aku juga merasa seperti dirinya atau tidak? Cinta atau tidak? Ini jelas sangat rumit.

"Love is love...?" tanyaku pelan mengulangi apa yang dia katakan. Walaupun sebenarnya pertanyaan itu untuk diriku sendiri.

Kendall mengangguk dengan  senyum manis terukir di wajahnya. Entahlah, hanya saja itu langsung membuatku hilang akal. Yang ada malah diriku kembali menciumnya. Terus menciumnya dengan kasar dan membuat napas kami beradu dan terengah-engah. Sampai diriku tidak sadar tubuhku didorongnya, hingga tubuhku kembali ambruk di atas sofa, dan membuatnya merangkak di atasku.

Kendall melepaskan ciumannya setelah itu. Dia  kembali memberikan tatapan tajam dan penuh arti. Napasnya masih terengah-engah dan terasa begitu hangat menerpa permukaan wajahku yang sekarang sangat sensitif. "Dengar..." ujarnya pelan nyaris  berbisik. "Aku sudah mempersiapkan semuanya untuk ini. Aku percaya ini akan berjalan baik-baik saja. Hanya saja, ini sedikit sulit untuk membuatmu yakin dengan perasaanmu sendiri." Kendall berbicara begitu pelan dan hati-hati. Seakan-akan dia takut salah dan membuatku mundur untuk ini semua.

Dia menundukkan wajahnya lagi, kembali melumat bibirku sekilas dengan sangat lembut. Shit! Dia begitu memabukkan dan hampir membuatku merengek untuk minta lagi. "Aku mohon, pikirkan lagi. Aku mencintaimu."

Cousin [Hendal]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang