Dia suka menggangguku dengan cara mengambil semua barang-barangku dan juga termasuk ibuku. Yeah... Walaupun itu sudah sangat lama sekali, tapi otakku dengan baik masih mengingat semua itu.
Dan... Apa besok akan seperti itu?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ini sudah hari ke tiga di mana Kendall mendiamkanku. Atau tepatnya dia sedang melakukan balas dendam. Mungkin juga dia ingin dirinya terlebih dahulu mendiamkanku dari pada diriku yang mendiamkannya. Yeah, itu masuk akal... Walaupun sebenarnya diam dalam arti bukan mendiamkan dalam versiku. Tidak melihat saat berpapasan di rumah, tidak berbicara walaupun aku dan dirinya berangkat bersama ke kampus, tidak tersenyum dan masih banyak lagi. Jika tahu begini, lebih baik diriku yang diam dengan caraku sendiri, bukan caranya.
"Kendall baik di sini. Sebentar lagi dia akan turun untuk sarapan." Anne tersenyum, dia sedang berbicara dengan Jack melalui telepon. Sedangkan diriku, duduk di kursi makan dan masih belum menyentuh sarapanku yang itu adalah menu favoritku, pasta.
"Yeah... Kuliahnya berjalan lancar... Aku rasa dia sangat menikmatinya... Uh-huh... Benarkah?" Lalu Anne tertawa. Hanya saja aku tidak tahu apa yang dibicarakannya dengan Jack. Lagipula, siapa yang peduli, di saat semua yang ada pada diriku terpusat pada seorang gadis yang berjalan perlahan--menurutku itu gerakan slow motion, dia menuruni tangga.
"Ken... Kau akan seneng. Ini ayahmu..." seru Anne yang mengetahui Kendall sudah turun, dengan mengangkat teleponnya untuk Kendall.
"Benarkah...?" Seperti terkejut, dia q langsung berjalan cepat mendekati Anne. Kemudian dia mengambil alih teleponnya. Dan, bla, bla, bla... Mereka melakukan percakapan yang sebenarnya itu tidak penting bagiku.
Akhirnya, aku memakan pastaku dari pada harus diam sedangkan Kendall sudah ada di sini. Yeah, ironisnya, aku menunggunya. Aku perlu bicara dengannya, walaupun diriku sendiri tidak tahu apa yang harus kukatakan.
Sepuluh menit dari kami selesai makan, aku dan Kendall berangkat bersama. Ini sudah ketiga kalinya, tanpa aku mengatakan, dengan sendirinya gadis itu sudah duduk di belakang. Bagus... tapi aku tidak suka dengan itu.
"Ken..." Aku melihatnya dari kaca spion atasku. Saat itu juga, dia langsung melihatku di tempat yang sama, tapi tanpa menjawab.
"Kau rasa perlu berapa hari untuk mendiamkanku?" Mataku setiap kali melirik ke atas dan bergantian ke jalan. Tidak keren jika terjadi apa-apa dijalan hanya karena percakapan konyolku dengannya. Maksudku, ini belum berada pada intinya.
Kendall memiringkan senyumnya. "Kau menanyakan itu padaku yang seharusnya pertanyaan itu kutanyakan pada dirimu? Kau serius atau melucu?"
Yeah, sebenarnya aku merasa buruk tentang pertanyaan pembukaanku. "Masalahnya aku merasa kau mendiamkanku. Sengaja..." Aku masih fokus pada keduanya. Jalanan dan juga Kendall.
"Ini sama saja jika kau yang melakukannya. Bukankah kau butuh waktu untuk berpikir?" Cibirnya, dan itu membuatku diam seperti idiot. "Kuharap kau bisa mengatakannya sekarang juga saat kau mulai berbicara padaku. Tapi aku meragukannya..." cibirnya lagi. Oh, crap!
"Ken...--"
"Well, aku tahu. Kau masih kurang untuk menjadi seorang pria."
Menghentikan mobilku yang terkesan sangat mendadak. Langsung aku menoleh ke belakang, tepat pada matanya yang menatap tajam mataku. "Fuck! Bisakah kau tidak mengatakannya lagi!" Aku tidak marah, hanya saja itu membuatku tersinggung. Maksudku, ukuran mana saat kau bisa disebut benar-benar seorang pria? Secara umum untuk menjadi seorang pria sejati tidaklah sulit. Punya penis dan bisa bertahan lama saat berhubungan seks. Bukankah begitu? Mengapa Kendall membuatnya semakin sulit?