Dia suka menggangguku dengan cara mengambil semua barang-barangku dan juga termasuk ibuku. Yeah... Walaupun itu sudah sangat lama sekali, tapi otakku dengan baik masih mengingat semua itu.
Dan... Apa besok akan seperti itu?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Warning, banyak typo!
"Ap-apa?" Mataku dibuatnya benar-benar ingin lepas. Apa yang dia katakan membuatku kaget dan tidak percaya. "Ken, lepaskan..." Tanganku mencoba melepaskan kaitan tangannya yang melingkar erat di leherku.
Tapi dia hanya menggelengkan kepalanya seperti merajuk.
"Ken..." Aku membentaknya.
Itu membuat dia tergelak. "Siapa yang suka berteriak-teriak di sini?"
Aku memutar bola mataku. Dia hanya mabuk. Dan apa yang kupikirkan? Menciumku karena ada sesuatu? Tidak! Dia hanya mabuk! Yeah!
Kendall memejamkan matanya kembali. Aku semakin tidak berdaya ketika wajahnya semakin terangkat dan mendekat ke wajahku. Sial! Ini membuatku seakan-akan sedang menunggu ciumannya. Tapi cukup membuatku bernapas lega. Belum itu terjadi, eratan tangan dan juga kakinya perlahan mulai melemas. Membuatku sedikit kecewa karena ciuman tidak benar-benar terjadi.
Tunggu? Apa?
Segera aku bangkit dan menjauh dari tubuhnya. Duduk di sebelahnya, untuk berpikir sejenak. Rasanya kepalaku ingin pecah karena denyutannya begitu terasa. Padahal bukan diriku yang mabuk.
Melihat ke arah Kendall. Napasnya sudah teratur dan terdengar dengkuran lembut dari mulutnya. Dia benar-benar sudah tertidur. Syukurlah... Tapi belum, satu masalah belum selesai. Yaitu tentang Anne. Yeah...
Melihat ke arah Kendall lagi. Keadaanya begitu kacau. Rambut berantakan dan dress-nya sudah tidak beraturan lagi.
Aku menurunkan dress-nya yang menyelingkap tinggi, yang memperlihatkan kaki dengan celana sot hitam. Menyisir rambutnya dengan tangan agar tidak terlihat lebih berantakan.
Mengamatinya sejenak. Aku melihat tidak ada Kendall yang menyebalkan ketika dia sedang tertidur. Diam, polos, tenang, dan damai.
Seketika diriku merasakan alam bawah sadarku menampar pipiku keras-keras.
Apa yang kau pikirkan? Tidurnya adalah sebuah kamuflase.
Semua yang ada dalam pikiranku membuatku tersenyum. Yeah, dia benar juga.
Melihat ke arah jam tangan. Ini masih pukul sepuluh malam. Terlalu sore jika digunakan untuk pulang dari sebuah pesta. Yeah, tapi dengan itu, ini terlihat masuk akal. Dan untung, diriku tidak mabuk.
*****
Sesampainya di rumah, kembali aku menggendong Kendall yang masih tertidur. Jangan bilang ini mudah dengan badannya yang tipis. Tapi tidak dengan panjangnya. Bayangkanlah, kakinya panjang seperti jerapah. Ini jelas sangat sulit.
"Shit!" Umpatku. Aku kesulitan untuk membuka pintu. Tapi belum sampai membukanya, pintunya sudah terbuka dan menampakkan Anne dan juga Brad yang sudah membawa koper besar.