I'm Not The Only One

3K 316 34
                                        

"Hey, Nayeon.."

"Eh? Iya, Dahyun? Ada apa?"

Dahyun ikut bergabung duduk di samping Nayeon. Nayeon saat ini sedang duduk di bangku taman belakang rumahnya. Di sana ia sedang menatap ikan-ikan peliharaan neneknya dulu. Di taman belakang yang tidak terlalu luas itu terdapat sebuah kolam ikan kecil. Sore itu, keadaan tenang di taman ditemani langit senja membuat hati siapa saja menjadi lebih tentram.

"Sedang apa?" tanya Dahyun dengan lembut.

"Ah aku hanya sedang memberi makan ikan. Dulu nenek sangat rajin memberikan makan ikan-ikan ini. Dan sekarang aku bersyukur bibi masih setia merawat kolam ikan peninggalan nenek ini." jawab Nayeon sambil tangannya menyebarkan makanan ikan ke kolam.

"Bagaimana perkembangan kabar Jeongyeon? Bukankah besok jadwalnya ia pulang? Sudah hampir seminggu dia di Jepang." tanya Dahyun dengan hati-hati. Ia sadar betul bahwa sahabatnya sedang gelisah karena Jeongyeon tidak memberinya kabar beberapa hari kemarin. Nayeon tentu sangat khawatir.

"Iya, besok adalah jadwal ia pulang ke Korea. Semalam ia juga sudah mengirimi aku sebuah pesan berisi permintaan maafnya tidak memberi kabar dan dia juga memberi kabar bahwa ia besok akan pulang." jawab Nayeon dengan senyuman. Namun, Dahyun menangkap senyuman yang Nayeon berikan terkesan dipaksakan.

"Benarkah? Syukurlah jika ia sudah mengabarimu. Apa kau akan menjemputnya besok?" tanya Dahyun lagi.

"Tidak. Jeongyeon melarangku untuk menjemputnya. Ia ingin aku langsung pulang ke apartemen agar bisa langsung beristirahat saat ia pulang. Dahyun, besok aku akan berangkat pagi sekali dari sini karena Jeongyeon kemungkinan akan sampai pada malam hari. Tentu aku harus menyiapkan makan malam untuknya."

"Aku tidak menyangka kau telah menjadi seorang isteri dari orang lain. Ternyata kau termasuk tipe isteri idaman, ya." goda Dahyun.

"Aish! Bicara apa kau ini. Haha." Nayeon tertawa kecil mendengar perkataan Dahyun.

"Bagaimana? Apa rasanya menikah dengan Jeongyeon yang seorang miliader? Apa seperti di drama-drama yang kita tonton?"

Nayeon hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ia tidak habis pikir dengan pertanyaan Dahyun sahabatnya.

"Rasanya? Kau bertanya rasanya menikah dengan Jeongyeon?" Dahyun mengangguk-anggukkan kepalanya dengan semangat.

"Rasanya bermacam-macam. Senang, sedih, takut, khawatir, semuanya menjadi satu," jawab Nayeon sambil tatapannya tertuju pada ikan-ikan yang sedang asyik menyantap makanan yang diberikan Nayeon.

"Di satu sisi, aku takut bahwa aku tidak bisa mengimbangi kehidupan Jeongyeon yang benar-benar berbeda dengan kehidupanku. Di sisi lain, aku khawatir bahwa aku tidak cukup untuk memenuhi standar dari seorang isteri ataupun menantu dari Jeongyeon dan keluarganya. Tapi, aku merasa senang karena Jeongyeon ternyata bisa mencintai aku apa adanya. Dan aku ternyata diterima baik di tengah keluarganya." jelas Nayeon.

"Lalu, apa yang membuatmu masih sedih, Nayeon?" tanya Dahyun penasaran namun tetap hati-hati.

Hening sebentar sebelum Nayeon menarik napas panjang dan mengucapkan isi terdalam dari hatinya.

"Aku sedih karena aku tau cinta Jeongyeon tidak hanya untukku." ucap Nayeon menatap lurus ke depan dengan sebuah senyuman pahit terbentuk di wajahnya.

Dahyun menahan napasnya. Ia terkejut mendengar jawaban Nayeon. Dahyun tidak berniat membalas perkataan Nayeon. Ia akan memberikan waktu untuk Nayeon meluapkan isi hatinya sendiri.

"Aku tau Jeongyeon mencintaiku. Aku bisa melihat itu dari tatapan matanya. Namun, aku bisa melihat Jeongyeon memberikan tatapan itu tidak hanya untukku. Pada malam itu, saat Jeongyeon tertidur di sofa karena terlalu lelah mengerjakan pekerjaannya, aku mencoba membangunkannya untuk menyuruhnya pindah ke kamar. Ia tidur sambil memeluk handphonenya. Tanpa sengaja, aku melihat layar handphonenya masih menyala dan terpampang sebuah foto wanita yang tidak asing bagiku. Setelah kuingat, ternyata wanita itu adalah seorang model terkenal. Ah, tidak penting ia seorang model atau tidak. Tapi yang penting, aku pernah memergoki Jeongyeon menonton berita tentang pertunangan wanita itu dan mata Jeongyeon menunjukkan rasa sakit dan kesedihan di dalamnya. Tatapan Jeongyeon saat itu masih teringat jelas dalam ingatanku," Nayeon mulai terisak saat meluapkan isi hatinya. Dahyun dengan sigap memeluk pundak Nayeon, mengelusnya mencoba memberi kekuatan.

Married Life [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang