Nayeon POV
Kutatap rumah ini untuk yang terakhir kalinya. Aku berusaha merekam semua yang ada di rumah ini sebelum aku benar-benar meninggalkannya. Rumah ini telah menyimpan ribuan kenangan indah maupun pahit dalam hidupku. Dan tidak terasa, sekarang aku akan meninggalkan rumah penuh kenangan ini.
"Nayeon, ayo, yang menjemputmu sudah datang."
"Baik, Bibi."
Kutarik koperku menuju keluar rumah. Dapat kulihat sebuah mobil sedan hitam yang sangat mewah sudah terparkir di halaman rumah. Ada seorang laki-laki disana yang sedang mengobrol bersama bibi.
Wanita paruh baya yang kupanggil dengan sebutan 'Bibi' itu adalah tetanggaku yang sudah kuanggap sebagai keluarga. Semenjak nenekku meninggal sebulan yang lalu, beliaulah yang setia merawatku.
Jangan kalian tanya kemana orang tuaku. Mereka sudah meninggalkanku saat aku umur 2 tahun karena kecelakaan. Sungguh miris bukan.
Kuamati wajah dan penampilan laki-laki itu. Kuakui dia tampan dan penampilannya sangat mewah. Dia tersenyum ramah saat bicara dengan bibi.
"Aku tidak menyangka Nayeon akan meninggalkan aku secepat ini untuk menikah. Aku masih ingat sewaktu aku merawatnya saat ia masih sangat kecil, dia sangat lucu. Tidak terasa sekarang ia sudah besar dan sudah menemukan calon pendamping hidupnya."
Bibi berbicara panjang lebar dengan laki-laki itu yang dibalas dengan senyuman dan tawa yang ramah. Entahlah, dibalik senyum dan tawanya yang ramah, aku seperti menemukan setitik kesedihan di balik matanya.
"Aku akan menjaga Nayeon dengan baik, Bi, tenang saja." laki-laki itu menjawab bibi sambil sesekali melirikku.
"Tenang saja, Bi. Nanti kan Bibi akan datang ke pernikahanku. Aku juga akan rutin mengunjungi Bibi."
Aku memeluk bibi untuk yang terakhir kalinya berusaha menenangkan bibi sebelum akhirnya aku ikut masuk bersama laki-laki itu ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumahku.
"Pakai sabuk pengamanmu." laki-laki itu berbicara tanpa melihat ke arahku. Aku hanya mengikuti perintahnya.
Ia mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hanya alunan musik dari radio mobil yang menjadi suara diantara kami. Sangat canggung.
"Kita akan kemana?" aku memulai pembicaraan. Aku sudah tidak tahan berada dalam situasi yang hening dan canggung karena aku dikenal sebagai gadis yang hiperaktif dan ceria. Jadi, sebisa mungkin aku tidak ingin berada di situasi yang hening dan canggung.
"Ke apartemenku." laki-laki itu menjawab dengan nada yang dingin. Hey, tadi ia sangat ramah pada bibi, sekarang ia sangat dingin. Aku mulai curiga bahwa tadi hanya pencitraannya saja.
"Kita kan belum menikah, untuk apa ke apartemenmu?"
"Tidak peduli kita sudah menikah atau belum, toh nanti kamu akan tinggal disana."
Laki-laki itu masih saja menjawab dengan dingin. Muncul ide jahil dalam otakku untuk membuatnya kesal.
"Aku sudah baca biodatamu, Yoo Jeongyeon. Disitu tertulis kau adalah orang yang ramah, baik hati, dan ceria. Kenapa sekarang yang kulihat adalah 180 derajat dari apa yang kubaca?"
Ya, aku sudah sedikit mengenal laki-laki yang duduk di sebelahku ini melalui biodata yang dikirimkan oleh appanya. Yoo Jeongyeon, CEO dari Yoo Corporation.
Jeongyeon tidak menjawab pertanyaanku, bahkan tidak menengok ke arahku sedikitpun. Aku menjadi kesal dan semakin ingin memancing amarahnya.
"Yak! Aku bicara padamu, Yoo Jeongyeon!" aku berteriak cukup kencang sehingga ia cukup kaget. Aku tau karena ia langsung menutup satu telinganya dan ekspresinya menunjukkan wajah kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married Life [✓]
Fanfiction2Yeon Fanfiction Bercerita tentang rumah tangga seorang pria kaya raya yang menikah dengan wanita yang sangat sederhana. Mampukah rumah tangga mereka berjalan lancar saat sang pria masih dibayang-bayangi oleh cinta pertamanya?
![Married Life [✓]](https://img.wattpad.com/cover/151025610-64-k264156.jpg)