Pe-de-ka-te

4.7K 435 8
                                        

Nayeon POV

Aku terbangun dari tidurku karena dering handphone yang menganggu. Kuambil handphoneku di samping kasur, namun ternyata suara itu bukan dari handphoneku. Ah, pasti dari handphone Jeongyeon. Bukannya diangkat, malah didiamkan saja.

Dengan terpaksa aku bangkit dari kasur, seketika kantukku hilang karena tidur manisku telah diganggu suara handphone yang menyebalkan itu. Kuhampiri Jeongyeon yang tertidur di sofa depan tv. Handphonenya terus saja berdering di atas meja.

"Hey, Jeongyeon, bangun."

Kutepuk2 pipinya agar ia sadar. Namun, ia tak bergeming sedikitpun. Aku mulai kesal mendengar suara yang terus menerus berdenging.

"Yak! Jeongyeon! Bangun!"

"Hmm.." dia hanya bergumam tidak jelas.

Aku yang kesal tanpa pikir panjang langsung menutup lubang hidungnya agar ia tidak bisa bernapas.

3 detik
4 detik
5 detik

"Huaaaaa!!!"

Jeongyeon langsung bangkit dari tidurnya dan mengambil napas panjang.

"Yak! Kau ingin membunuhku ya?!"

Plak!

"Bangun, pabo! Handphone kau terus berdering sejak tadi. Sangat menggangu."

Tanpa menghiraukan Jeongyeon yang ingin protes karena kusentil keningnya, aku segera kembali ke kamar untuk mandi. Aku sudah tidak mood untuk melanjutkan tidurku.

Author POV

"Iya, Appa, hari ini aku akan pergi bersama Nayeon sekaligus fitting baju. Ya, baiklah."

Setelah menyelesaikan teleponnya bersama appanya, Jeongyeon menuju kamarnya. Ia mengetuk terlebih dahulu karena sekarang kamar itu ditempati oleh Nayeon sementara.

"Nayeon, buka pintunya, aku ingin mandi."

Jeongyeon berusaha mengetuk memanggil Nayeon, namun tidak ada jawaban.

"Nayeon, apa kau tidur?"

Jeongyeon akhirnya membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam. Saat Jeongyeon masuk, secara bersamaan Nayeon baru saja keluar kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang menutupi dadanya sampai pahanya.

"Yaaaakkk!!! Dasar mesum!!!"

Nayeon reflek melempar handphone yang sedang dipegangnya ke arah Jeongyeon hingga mengenai tepat di pelipisnya.

"Aw!!"

Jeongyeon reflek keluar kamar dan menutup pintu dengan kencang. Ia mengusap-usap pelipisnya yang sangat sakit.

Nayeon segera memakai pakaiannya dan keluar kamar menemui Jeongyeon. Jeongyeon masih berdiri di samping kamarnya dengan memegang pelipisnya yang ternyata berdarah.

"Jeong, kau tidak apa-apa?"

Nayeon yang sebelumnya sudah berniat untuk memarahi Jeongyeon seketika hilang niatnya saat melihat Jeongyeon kesakitan.

"Ah, tidak apa-apa. Hanya luka kecil."

Jeongyeon menunjukkan lukanya. Nayeon seketika kaget saat melihat pelipis Jeongyeon mengeluarkan darah. Dengan sigap ia menarik Jeongyeon ke sofa ruang tv.

"Tunggu disini, aku akan ambilkan obat. Dimana kotak p3knya?"

Jeongyeon menunjuk ke sudut ruangan tempat obat p3k diletakkan. Nayeon segera mengambilnya dan kembali ke sofa. Ia duduk di ujung sofa lalu menarik pundak Jeongyeon untuk tiduran dan meletakkan kepala Jeongyeon ke pangkuannya.

"Hey, apa yang kau lakukan?"

"Sstt! Jangan protes! Aku akan mengobati lukamu."

Jeongyeon hanya menurut. Ia tiduran di pangkuan Nayeon dalam diam. Sesekali ia meringis merasakan perihnya obat merah yang bertemu dengan lukanya.

"Sudah. Bangun sekarang." Nayeon menyuruh Jeongyeon untuk duduk kembali.

"Kau tadi kenapa masuk ke kamar tanpa mengetuk? Untung saja aku masih pakai handuk." Nayeon mulai memarahi Jeongyeon.

"Aku sudah mengetuk, bahkan memanggilmu berkali-kali, tapi kamu tidak menyahut. Aku pikir kau tidur. Jadi aku masuk saja. Aku ingin mandi. Aku minta maaf." jelas Jeongyeon.

"Aku tadi memakai earphone jadi tidak mendengarmu. Aku juga minta maaf sudah melemparmu dengan handphone."

"Handphonemu sangat sakit. Itu tipe tahun berapa? Kenapa masih saja menggunakan handphone besar dan berat seperti itu?"

"Yak! Itu handphone hasil gaji pertamaku dulu. Jangan berani-beraninya menghina!" Nayeon menjewer telinga Jeongyeon dengan cukup keras.

"Aish! Iya-iya ampun. Lepaskan! Sakit tau!" Jeongyeon mengusap-usap telinganya. Ia menatap kesal ke arah Nayeon, namun tidak disangka, yang ia lihat adalah ekspresi sedih dari Nayeon.

"Hey, kau kenapa?" Jeongyeon bertanya hati-hati.

Dengan perlahan Nayeon mengambil sesuatu dari kantongnya dan menunjukkannya kepada Jeongyeon. Seonggok rongsokan handphone Nayeon yang sudah terpisah-pisah karena terjatuh tadi.

"Hahaha," Jeongyeon seketika tertawa. "Handphonemu melawan kepalaku saja sudah kalah. Hahaha."

"Yak! Pabo! Jangan main-main!" Nayeon mengambil ancang-ancang untuk memukul Jeongyeon kembali, namun dengan sigap Jeongyeon menghindarinya.

"Hehe, iya-iya maaf. Yasudah nanti kita cari yang baru."

"Aku tidak mau." Nayeon mempoutkan bibirnya.

"Yak! Kenapa?"

"Itu adalah hasil jerih payahku dulu. Aku tidak ingin ia digantikan begitu saja. Huaaaaa.." Nayeon seketika menangis membuat Jeongyeon panik.

"Hey hey hey! Jangan menangis seperti itu! Bagaimana kalau tetangga dengar? Nanti dikira aku berbuat macam-macam."

Bukannya diam, Nayeon justru semakin menangis kencang.

"Aish! Begini saja, lupakan dulu masalah handphonemu, nanti kita pikirkan jalan keluarnya. Sekarang aku ingin mandi, dan kau juga siap-siap berganti baju karena kita akan pergi fitting baju dan jalan-jalan."

Seketika tangis Nayeon berhenti.

"Jalan-jalan? Kemana?" Nayeon menatap Jeongyeon dengan berbinar-binar. Gigi kelincinya nampak dari bibirnya yang mungil, membuat Nayeon semakin mirip seekor kelinci yang sedang bahagia dan berharap diberikan wortel oleh tuannya.

"Rahasia. Wlee!!"

Jeongyeon mengacak-acak rambut Nayeon dan langsung lari menuju kamar mandi di dalam kamarnya. Kali ini Nayeon berusaha melemparnya dengan bantal sofa, namun lemparannya tidak mengenai apa-apa.

"Awas ya kau, Yoo Jeongyeon!"

Jeongyeon POV

Sekarang aku sedang menunggu Nayeon menyelesaikan memakai gaun yang akan ia pakai di pernikahan nanti. Aku menunggunya sambil melihat-lihat majalah fashion. Tak sengaja aku melihat wajah seseorang yang namanya masih terpatri di dalam hatiku, Mina. Wajahnya menghiasi salah satu bagian majalah fashion ini. Dapat kulihat ia sekarang semakin cantik dan berbinar.

Lamunanku terhenti saat wanita yang bertugas membantu Nayeon memakai gaun memanggilku untuk memberitahu bahwa Nayeon telah selesai.

Cantik.

Satu kata yang langsung terlintas di pikiranku kala melihat Nayeon memakai gaun pengantinnya.

"Bagaimana, Jeong? Apa aku cantik?" tanya Nayeon.

Aku menjawabnya dengan anggukan dan dua jempol keatas. Dia tersenyum bahagia dan kembali masuk ke ruang ganti.

Nayeon benar-benar masih seperti anak kecil kelakuannya. Umurnya saja yang tua, tapi kelakuannya masih seperti anak kecil. Aku tersenyum mengingat kejadian tadi pagi saat ia menangis karena tidak mau handphonenya diganti dengan yang bukan hasil jerih payahnya. Ada-ada saja.

Aku jadi berpikir bahwa ya mungkin menikahinya bukan suatu pilihan yang buruk. Setidaknya aku punya hiburan di rumah untuk menjahilinya haha.

Bersambung..

Married Life [✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang