"Jadi, Leo adalah anakmu?"
Jeongyeon dan Mina saat ini sedang duduk hanya berdua di bangku taman. Keduanya sedang menatap Leo yang sedang asik bermain bola.
Setelah pertemuan mengejutkan tadi, mereka berdua sepakat untuk bicara berdua saja. Banyak hal yang harus mereka luruskan mengenai hubungan di masa lalu mereka.
"Iya." jawab Mina singkat.
"Anak kandungmu?" tanya Jeongyeon lagi.
Kali ini Mina hanya mengangguk. Lidahnya seperti kelu untuk sekedar menjawab pertanyaan Jeongyeon.
"Berapa umur Leo sekarang?"
"5 tahun." jawab Mina. Mendengar jawaban Mina, Jeongyeon menunduk lemas.
"Apa Leo adalah anakku?" suara Jeongyeon kini mulai bergetar walaupun tetap tegas terdengar.
Tidak ada jawaban. Kali ini lidah Mina benar-benar kelu untuk sekedar menjawab 'iya' atau 'tidak' pada Jeongyeon.
"Mina! Apa Leo adalah anakku?!" kali ini Jeongyeon sedikit berteriak. Untung saja Leo tidak mendengarnya karena ia bermain cukup jauh dari bangku taman.
Mina tidak menjawab, melainkan sekarang ia menangis. Jeongyeon yang melihat reaksi Mina seperti itu menjadi semakin yakin bahwa Leo adalah darah dagingnya.
Jeongyeon menunduk lemas. Dunianya seperti runtuh seketika. Tidak, dia bukannya tidak menyukai kenyataan bahwa Leo adalah anaknya, namun yang ia pikirkan sekarang adalah Nayeon, isterinya. Bagaimana jika Nayeon tau dirinya memiliki anak dari wanita lain? Dan parahnya, wanita itu adalah cinta pertamanya.
Tanpa sadar, air mata Jeongyeon menetes. Hatinya benar-benar hancur. Ia merasa marah pada takdir yang seakan sedang mempermainkannya.
"Kenapa, Mina?" Mina kaget saat mendengar suara Jeongyeon yang gemetar. Ia tau dari suara Jeongyeon bahwa Jeongyeon sedang menangis. "Kenapa baru sekarang, Min?! Kenapa?!"
"Kenapa, Mina?! Kenapa?! Kenapa?! Arghh!!" Jeongyeon menangis dan berteriak frustasi. Ia menjambak, mengacak-acak rambutnya. Mina yang melihatnya menjadi semakin menangis. Ia tidak menyangka akan melihat sisi Jeongyeon yang seperti ini.
"Jeongyeon, dengarkan penjelasanku dulu. Aku mohon, maafkan aku." Mina kini memeluk tubuh Jeongyeon. Ia menarik kepala Jeongyeon untuk disandarkan di pundaknya. Jeongyeon menangis sejadinya di pelukan Mina.
"Kenapa, Mina? Kenapa kau meninggalkan aku? Kenapa kau tidak bilang jika saat itu kau sedang mengandung anakku? Kenapa, Mina, kenapa?" Jeongyeon terus meracau dalam pelukan Mina. Mina hanya mampu mengelus pundak dan kepala Jeongyeon, berusaha menenangkannya.
"Sekarang kau tenangi dirimu dulu, ya. Aku akan jelaskan semuanya saat kau sudah tenang," Mina melepas pelukannya lalu bangkit menghampiri Leo.
"Leo sayang, sekarang kamu masuk ke kamar, ya. Mommy harus membicarakan sesuatu yang penting dengan Paman Jeong." ucap Mina sambil menggendong Leo masuk. Sebelumnya, ia memberi kode pada Jeongyeon untuk menunggunya di sana.
"Mommy ingin membicarakan apa?" tanya Leo dengan polos.
"Urusan pekerjaan. Leo jangan nakal ya sama Bibi Kim." Mina mencium pipi anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Siap, Mommy!"
Mina lalu menitipkan Leo pada pengasuh anak yang bekerja untuk menjaga Leo. Pengasuh itu biasa dipanggil dengan sebutan Bibi Kim.
°°°
"Jelaskan semuanya tanpa ada yang kau tutupi lagi, Mina!" ucap Jeongyeon dengan tegas saat ia dan Mina sudah berada di kamar Mina.
"Aku tidak tau harus dari mana memulainya. Bisakah kau bertanya saja apapun yang ingin kau ketahui? Aku akan menjawab sejujur-jujurnya." ucap Mina.
"Baiklah. Kalau begitu, sekarang tatap mataku saat kau menceritakan semuanya," Jeongyeon menatap mata Mina dengan tajam. Mina yang melihat tatapan tajam Jeongyeon menjadi sedikit takut. Namun, dia tidak ada pilihan lain selain menatap mata Jeongyeon.
"Aku tanya sekali lagi, apa benar Leo adalah anak kita berdua?" Jeongyeon mulai melontarkan pertanyaan yang sejak tadi bersarang di benaknya.
"Iya, Jeongyeon." Mina menjawab pertanyaan Jeongyeon dengan yakin. Ia merasa ini benar-benar sudah waktunya untuk Jeongyeon mengetahui semuanya.
"Kenapa? Maksudku, kenapa kau tidak pernah memberitahuku?"
"Daddyku melarangku untuk memberitahumu."
"Lalu, kau kemana saat aku datang mencarimu waktu itu?"
"Aku dikurung di kamarku oleh daddy. Seminggu setelah aku ketahuan hamil, daddy langsung mengirimku ke Jepang dan memutuskan semua aksesku untuk berhubungan dengan teman-teman di Korea, termasuk dirimu." tanpa sadar Mina mulai meneteskan air matanya saat menceritakan kenangan pahitnya dulu harus diasingkan ke Jepang oleh ayahnya sendiri.
Jeongyeon yang melihat Mina menangis menjadi tidak enak. Ia ragu untuk melanjutkan pertanyaannya.
"Tidak apa, Jeongyeon, lanjutkan saja. Sudah saatnya kau mengetahui semuanya." ucap Mina sambil terisak.
"Apa Leo tau bahwa aku adalah ayahnya?" tanya Jeongyeon dengan lemah. Ia mengalihkan pandangannya dari Mina saat ini. Ia tidak mampu melihat tatapan penuh luka di mata Mina. Dihatinya telah bersarang rasa bersalah karena tidak ada di samping Mina pada saat Mina berada di saat tersulitnya.
"T-tidak. Tapi ia selalu menanyakan siapa ayahnya. Setiap hari aku selalu berusaha mencari alasan baru kemana ayahnya pergi. Dan setiap hari pula ia tidak menyerah menanyakan keberadaan ayahnya. Tapi, semua itu mulai berhenti saat Chaeyoung datang dalam kehidupan aku dan Leo."
"C-chaeyoung?!" Jeongyeon kembali menatap Mina dengan cepat setelah mendengar nama Chaeyoung.
"Iya, Chaeyoung. Kau masih ingat dia, kan?"
"I-iya, tentu saja aku mengingatnya. T-tapi, bagaimana bisa?" tanya Jeongyeon penasaran.
"Chaeyoung adalah tunanganku, Jeongyeon." jawab Mina.
Entah kenapa tubuh Jeongyeon tiba-tiba melemas. Ia yakin bahwa ia mencintai Nayeon. Namun, dalam lubuk hati terdalamnya, entah kenapa ia masih merasakan sakit saat mendengar Mina akan dimiliki orang lain.
"Apa Leo dekat dengan Chaeyoung saat ini?" tanya Jeongyeon tiba-tiba.
"I-iya. Memangnya kenapa?"
"Tidak. Tidak ada apa-apa," Jeongyeon bangkit dari duduknya. "Aku ingin istirahat untuk menjernihkan pikiranku. Besok, aku akan bisara dengan Tuan Myoui. Aku yakin ayahmu melakukan ini bukan semata-mata ingin mempertemukan aku dengan anakku. Tapi, ada maksud lain," Jeongyeon sudah berada di ambang pintu kamar Mina. Sebelum ia benar-benar keluar, ia menyempatkan sekali lagi untuk melihat Mina.
"Istirahatlah. Tubuh dan pikiranmu pasti juga lelah. Selamat malam, Mina." tanpa menunggu jawaban Mina, Jeongyeon langsung menghilang di balik pintu.
"Selamat malam, Jeongyeon." lirih Mina. Tanpa sadar, seulas senyuman terukir di wajah cantiknya.
°°°
Jeongyeon melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi. Setelah membersihkan diri, ia langsung bergegas untuk tidur. Ia segera berbaring di tempat tidur dan langsung memejamkan mata.
1 menit
2 menit
3 menit
Jeongyeon tiba-tiba membuka matanya kembali. Matanya kini menatap langit-langit kamar. Dirinya tenggelam jauh dalam pikirannya sendiri.
"Aku akan mendapatkan hati Leo. Tidak ada yang boleh mendapatkan hati anakku selain diriku sendiri!"
Bersambung..
Yuhuu ada karakter baru di ff ini. Selamat datang, Son Chaeyoung!!
Michaeng shipper mana suaranya?!!😆😆
Kapal 2yeon dan Michaeng harus bersiap menghadapi serangan kapal Jeongmi. Kekeke.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married Life [✓]
Fanfiction2Yeon Fanfiction Bercerita tentang rumah tangga seorang pria kaya raya yang menikah dengan wanita yang sangat sederhana. Mampukah rumah tangga mereka berjalan lancar saat sang pria masih dibayang-bayangi oleh cinta pertamanya?
![Married Life [✓]](https://img.wattpad.com/cover/151025610-64-k264156.jpg)