Brak!
"NAYEON!"
Dengan sisa-sisa tenaganya, Jeongyeon berlari sekencang mungkin menghampiri Nayeon yang kini telah terkapar lemah di jalanan. Mobil yang menabrak Nayeon pergi begitu saja meninggalkan Joengyeon yang sudah terisak berusaha menyadarkan Nayeon.
"Nayeon, aku mohon, bangun.." suara Jeongyeon yang bergetar begitu sendu untuk didengar. Ia memeluk isterinya penuh penyesalan karena merasa terlambat mengejarnya.
"Hyung!" Chaeyoung dan Mina yang baru turun menghampiri Jeongyeon dan Nayeon langsung terkejut. Tanpa banyak bicara, Chaeyoung langsung menyiapkan mobilnya untuk membawa Nayeon ke rumah sakit.
"Jeongyeon, tenanglah.." Mina berusaha menenangkan Jeongyeon yang semakin menangis tersedu-sedu.
"Nayeon, aku mohon, bangunlah. Maafkan aku, Nayeon.." Jeongyeon semakin terisak saat melihat aliran darah yang mengalir di bagian bawah tubuh Nayeon, mengalir terus ke bawah kakinya.
"Aku mohon, bertahanlah.."
°°°
"Kami akan melakukan operasi pada pasien sekarang. Kalian bisa menunggu di ruangan ini." ucap dokter yang menangani Nayeon sebelum masuk ke ruang operasi.
Jeongyeon terduduk lemas di lantai. Wajah dan pakaiannya berantakan. Tertinggal bekas darah Nayeon di pakaian, wajah, ataupun di tangan Jeongyeon. Ia masih menangis meratapi kebodohannya.
"Hyung, bersihkan dulu dirimu. Aku dan Mina akan menunggu noona di sini." Chaeyoung berlutut di depan Jeongyeon. Ia memberi perintah untuk Jeongyeon setidaknya membersihkan bekas darah yang menempel di tubuhnya. Pemandangan Jeongyeon yang seperti ini membuat hati Chaeyoung semakin sakit. Tanpa menjawab, Jeongyeon bangkit lalu berjalan dengan lesu ke kamar mandi.
Jeongyeon menatap cermin kamar mandi saat ini. Ia menatap wajahnya yang benar-benar berantakan akibat menangis dan tertinggalnya bekas darah. Tangannya menggenggam erat pinggiran westafel. Ia kembali menangis, namun kali ini disertai raungan penuh kesedihan.
Brak!
Cermin besar kamar mandi retak setelah sebuah kepalan tangan Jeongyeon menghajarnya. Tangan Jeongyeon semakin dipenuhi darah. Namun kali ini, darah itu adalah miliknya sendiri.
°°°
"Bagaimana keadaan isteri dan anak saya, Dok?!" Jeongyeon langsung memborbardir dokter yang menangani Nayeon dengan pertanyaan saat dokter itu keluar dari ruang operasi.
Dokter itu menghela napas lemah. Ia membuka masker dan penutup kepalanya. Tatapan dokter itu saat ini membuat hati Jeongyeon semakin takut.
"Jawab saya, Dokter!" Jeongyeon berteriak tidak sabar sambil menggoyang-goyangkan pundak dokter tersebut.
"Hyung, tenanglah!" Chaeyoung berusaha menahan tangan Jeongyeon.
"Pasien telah berhasil melewati masa kritisnya. Namun, kami mohon maaf, anak yang ada di kandungannya tidak bisa diselamatkan." ucap sang dokter dengan lemah.
Lagi, Jeongyeon jatuh terduduk lemas di lantai. Tangisannya pecah begitu saja mendengar kabar calon anaknya tidak dapat diselamatkan. Tangisannya semakin sendu dan meraung-raung. Chaeyoung yang melihat itu langsung memeluk hyung-nya tersebut. Ia memeluk Jeongyeon dengan erat. Air matanya juga jatuh begitu saja seperti ia juga merasakan rasa sakit yang hyung-nya rasakan saat ini.
Di sisi lain, Mina terduduk lemas di bangku ruang tunggu operasi. Tangisannya pecah saat menyadari Jeongyeon dan Nayeon baru saja kehilangan calon anak mereka. Ia menyalahkan dirinya sendiri atas insiden ini.
Di ruangan itu, tangisan ketiganya membuat siapa saja yang mendengar dapat merasakan begitu besar kepedihan mereka.
°°°
"Hngg.." Nayeon mulai membuka kedua matanya. Ia meringis merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Saat ia ingin menggerakkan tangannya, ia merasakan sebuah beban yang menahan tangannya untuk bergerak. Ternyata, ada sebuah kepala yang menindih tangan tersebut. Siapa lagi kalau bukan Jeongyeon, suaminya. Nayeon kembali berusaha menggerakkan tangannya tersebut hingga akhirnya membuat Jeongyeon terbangun.
"Nayeon, kau sudah sadar?!" Jeongyeon terkejut saat melihat Nayeon sudah sadar.
"Apa yang terjadi padaku?"
"Kau mengalami kecelakaan di depan apartemen Mina."
Nayeon berusaha bangkit dari tidurnya, namun ia merasakan sakit di perutnya. Ternyata, sakit akibat bekas jahitan operasinya baru bereaksi sekarang.
"Aw!" ringis Nayeon. Jeongyeon yang melihat Nayeon meringis langsung berusaha membantu Nayeon, namun tangannya ditepis dengan kasar oleh Nayeon.
"Anakku? Apa yang terjadi?!" Nayeon berteriak saat ia melihat ke bagian perutnya terdapat perban yang melilit.
"Nayeon, tenang dulu.." Jeongyeon berusaha menenangkan Nayeon, namun Nayeon semakin menghardik Jeongyeon dengan kasar.
"Apa yang terjadi?! Katakan padaku!"
"Nayeon, k-kau mengalami keguguran."
Dan detik itu, runtuhlah dunia Nayeon. Ia terbaring lemas di ranjangnya. Tangisannya yang begitu pilu menjadi pengisi suara di ruangan itu. Jeongyeon hanya bisa menunduk tanpa bisa melakukan apa-apa. Hatinya juga tentu sakit mengetahui kenyataan tersebut.
"Jeongyeon.." lirih Nayeon saat tangisannya sudah berhenti.
"Ya?"
"Ceraikan aku, Jeongyeon. Aku ingin berpisah darimu."
°°°
Jeongyeon terduduk lesu di taman rumah sakit. Sudah seminggu sejak kejadian dimana Nayeon meminta berpisah darinya. Sejak hari itu, ia tidak bisa melihat Nayeon secara dekat lagi. Nayeon melarangnya. Alhasil, ia hanya bisa melihat keadaan Nayeon saat malam hari melalui kaca ruang perawatan Nayeon. Dan sejak itu pula, hanya Chaeyoung yang diizinkan masuk ke ruang perawatan Nayeon.
"HYUNG!" Chaeyoung berteriak saat ia berhasil menemukan Jeongyeon di taman rumah sakit.
"Ada apa, Chaeyoung?!" Jeongyeon ikut panik saat melihat wajah Chaeyoung yang gusar dan panik.
"Noona kabur dari rumah sakit!"
"Apa katamu?!"
"Lihat ini, Hyung! Ruangan noona kosong dan hanya terdapat secarik kertas ini." Chaeyoung memberikan secarik kertas kecil ke tangan Jeongyeon.
Aku Pergi
2 kata itu mampu membuat jantung Jeongyeon berdetak dengan sangat kencang sekaligus hatinya remuk seketika. Ia berlari sekencang-kencangnya menyusuri segala sudut rumah sakit, berharap masih ada jejak Nayeon di sana. Namun, nihil, ia tidak dapat menemukan Nayeon dimanapun.
Jeongyeon akhirnya dengan berat langkah kembali memasuki ruang perawatan Nayeon. Wangi tubuh Nayeon masih tertinggal di sana. Jeongyeon mengusap ranjang yang dipakai Nayeon selama lebih dari seminggu ini. Tetes demi tetes tangisannya mulai membasahi sprei ranjang tersebut. Ia menangis, meraung sejadi-jadinya. Tangannya kini terus memukul-mukul ranjang dengan kepalan tangannya.
"ARGGH! NAYEON!"
The End
KAMU SEDANG MEMBACA
Married Life [✓]
Fiksyen Peminat2Yeon Fanfiction Bercerita tentang rumah tangga seorang pria kaya raya yang menikah dengan wanita yang sangat sederhana. Mampukah rumah tangga mereka berjalan lancar saat sang pria masih dibayang-bayangi oleh cinta pertamanya?
![Married Life [✓]](https://img.wattpad.com/cover/151025610-64-k264156.jpg)