Adel berjalan cepat ke arah meja kerjanya berusaha untuk tidak memedulikan apapun yang berusaha menghalanginya, bahkan suara Navi yang memanggil manggilnya pun tidak ia pedulikan lagi.
Sesampainya di meja kerjanya, Adel langsung pura-pura sibuk dengan komputer dan pekerjaannya sembari mengenakan earphone di telinganya.
Silvi yang hari itu tidak ikut rapat nampak kebingungan dengan adegan kejar-kejaran antara Navi dengan Adel dan tidak sampai situ saja karena jauh di belakang Navi nampak Daniel yang sedang berbincang menatap lurus pada Adel.
"Ada apa sih mbak Nav ?" Tanya Silvi pada Navi.
"Gak tau. Masalah cheese burger. Si Daniel nyuruh gue manggil Adel." Ujar Navi menjelaskan sembari berlalu menuju meja Adel. "Del, duh lo kenapa sih?"
"Nav, balik ke meja kamu. Saya yang akan bicara langsung ke Adel." Tanpa Navi sadari Daniel sudah berada di belakangnya.
Navi pun menyingkir kembali ke meja kerjanya. Daniel mencabut earphone di telinga Adel, membuat si pemilik telinga bergidik ngeri.
"Ke ruangan saya, sekarang." Ujar Daniel dingin.
Adel nampak tak punya pilihan lain kali ini selain mengikuti perintah atasan kesayangannya tersebut.
Daniel masuk ke ruangannya diikuti oleh Adel yang perlahan menutup pintu ruangan tersebut.
"Cheese burger apalagi, Del ?" ujar Daniel menahan cemburunya membelakangi Adel.
"Aku gak tau, Niel. Pak Man yang bawain ke meja aku." Adel menundukkan kepala namun menaikkan nada suaranya.
Daniel membalik badannya, dan menatap Adel dengan iba, ia berjalan menuju tempat Adel berdiri lalu memeluknya erat, sembari mengecup puncak kepala Adel.
"Maaf sayang. Aku terlalu cemburu." ujar Daniel penuh penyesalan sembari tetap memeluk erat Adel yang terisak dalam diam.
***
"Wuiiihh dah baikan nih." Goda Navi yang memergoki Adel dan Daniel sedang makan berdua di food stop.
Daniel tersenyum penuh arti sembari melirik Adel.
"Tuh cheese burger akhirnya dimakan juga, Del?" Tanya Silvi hati-hati.
"Kata Daniel gak pa pa kok. Gue udah jelasin semua ke Daniel." Jawab Adel sembari meneruskan makannya dan sesekali menyuapi Daniel.
"Halo semuanya." Suara berat itu tidak asing di telinga Adel.
"Eh Pak Fabian. Silakan duduk pak." Ujar Navi sopan namun sungkan dan segera menggeser kursinya dan menarik sebuah kursi tambahan.
Fabian duduk di antara Navi dan Silvi menambah rasa canggung di antara Adel dan Daniel. Sesekali Adel melirik Daniel memastikan ia baik-baik saja.
"Del, udah terima kan ya burgernya?" tanya Aldi tanpa sungkan.
"Udah kok, Di. Nih gue makan." Jawab Adel secuek mungkin.
"Gak mau bilang apa-apa ke gue?" Tanya Aldi sembari melirik Adel.
"Ada." Jawab Adel sembari menaruh cheese burgernya di meja dan melemparkan badannya ke sandaran kursi, lalu menghela nafas. "Di, gue udah punya pacar sekarang."
Hati Aldi mencelos namun ia berhasil memanage wajahnya agar tidak terlihat mengenaskan.
"Oh ya? Siapa? Happy for you." Aldi berusaha untuk terlihat seceria mungkin membohongi hatinya yang teriris.
"Daniel." jawab Adel yang membuat Daniel tersedak.
"Wah pak Daniel. Anda beruntung sekali punya pacar seperti Adel." Jawab Aldi nampak sumringah.
"Gak ada larangan kan pak ?" Tanya Daniel pada Aldi.
"Gak ada. As long as you are being professional." Jawab Aldi kali ini matanya nampak berkilat. "Saya balik dulu ke ruangan ya. Masih ada yang harus saya kerjakan segera." Ujar Aldi seraya berpura-pura menatap jam tangannya lalu beranjak dari tempat duduknya. Lalu tiba-tiba ia berbalik arah menatap Adel. "Niel, tolong jaga Adel baik-baik. Jangan seperti mantan pacarnya yang gak bisa menjaganya."
Dan hati Adel pun teriris mendengarnya.
***
Layar monitor mungkin satu-satunya yang menerangi kamar seorang gadis yang beranjak dewasa. Di layar monitor nampak aplikasi chat yang menghantarnya untuk berbicara pada lawan bicara di seberang lautan.
Del, aku mau bicara serius sekarang.
Tulisan dari lawan bicara di chat tersebut membuat jari sang gadis kelu. Namun pada akhirnya ia memberanikan diri untuk membalas.
Ngomong apa sih, Di? Serius amat.
Sang gadis berusaha mencairkan suasana yang nampak kaku dan menegangkan.
Del, aku mau kita putus dulu ya. Aku ga sanggup buat LDR. Lagipula aku lg sibuk-sibuknya disini. Aku pasti susah dihubungin.
Dan perlahan airmata menetes dari pelupuk mata sang gadis. Ia tak menyangka akan diputuskan oleh kekasihnya di seberang sana. Ia menarik nafasnya berulang kali untuk menenangkan hatinya yang kalut.
Iya Di, aku ngerti.
Dan sang gadis memutuskan untuk menon aktifkan akun chat tersebut dan menenggelamkan wajahnya di bantal.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
My New Boss (Completed)
Novela JuvenilAdel seorang karyawan biasa yang tanpa sengaja dipertemukan oleh seorang manager baru di kantornya yang charming dan pada akhirnya sama sama jatuh hati, namun tiba-tiba hadirlah kembali sosok sahabat lamanya yang juga merangkap sebagai mantan kekasi...
