.
.
Hari itu Naruto pulang pukul 7 malam, ia menghabiskan beberapa jam dirumah sakit membahas berbagai hal bersama karin. Ia sudah memutuskan, dan bagaimanapun caranya Sasuke harus mau.
"Naruto kau darimana? hari ini kan kita mau ke rumah orangtua ku"
Naruto menatap Sasuke lama, lalu merengkuhnya kedalam pelukan. Lelaki manis itu sempat memberontak namun akhirnya pasrah saja karena Naruto tidak juga melepaskan pelukannya
"Nanti saja ya kita beri tahu orangtuamu?"
"Kenapa?"
"Aku.. lelah sekali"
Sasuke tentu saja tidak puas dengan jawaban semacam itu, namun melihat wajah Naruto yang sedikit kusut ia akhirnya mengangguk
"Kalau begitu aku akan memasak makan malam"
"Jangan!"
Sasuke membalikan badannya, kali ini menatap Naruto tidak mengerti. Sikap lelaki pirang itu sedikit aneh dimatanya
"Aku tidak meminta izinmu"
Naruto hanya tersenyum canggung, Sasuke mulai kesal -sepertinya- dan itu sama sekali bukan pertanda baik.
"B-baiklah"
.
.
Pukul 9 mereka akhirnya menyelesaikan ritual makan malam yang tidak boleh diabaikan -bagi Sasuke- Naruto bersikeras mencuci piring, jadi si raven dapat beristirahat sambil menonton televisi
Tak lama, Naruto bergabung sambil membawa satu toples makanan ringan yang disukai Sasuke akhir akhir ini
"Terimakasih"
Ucap Sasuke, dahi nya mengernyit saat menatap wajah suaminya yang terlihat sedikit pucat
"Kau kehujanan? wajahmu pucat"
Yang ditanya hanya menggeleng, tangannya terlujur bermaksud ingin mengambil camilan namun lebih dulu ditepis oleh Sasuke. Matanya seolah menyiratkan 'jangan coba coba mencuri camilanku'
"Ck kau pelit sekali badanmu sebentar lagi pasti akan membengkak seperti Choji"
Ucap Naruto mengusap usap tangannya yang menjadi korban tangkisan Sasuke tadi
"Hn terserah kau saja. Lagipula aku pasti masih tetap tampan"
Gumamnya tidak jelas sambil mengunyah
"Apa? kau tetap apa? tetap apa heum?"
Naruto dengan jahil memeluk Sasuke, menciumi seluruh wajah lelaki itu sementara tangannya menggelitik pinggang si raven. Naruto suka melihat Sasuke tertawa sambil menahan geli seperti ini
"Sudah sudah menjauhlah! aku lelah tertawa"
Naruto terkekeh pelan, kemudian menyandarkan kepalanya dibahu Sasuke. Mereka pun kembali menonton televisi, kali ini Sasuke membiarkan saja saat si pirang ingin menjumput camilannya. Daripada Naruto merusuh lagi seperti tadi
Lama mereka terdiam karena terlalu fokus menonton, sebuah adegan dimana seorang ibu memeluk bayinya mengingatkan Naruto akan sesuatu
"Sa-"
Naruto menghentikan ucapannya. Sasuke ternyata sudah terlelap. Wajahnya begitu tenang dan nafasnya teratur. Kini tangan Naruto menyentuh perut pujaan hatinya itu, kemudian dengan hati hati ia menempelkan telinga kanannya disana
KAMU SEDANG MEMBACA
Young Marriage
FanfictionNaruto si anak berandal dipaksa menikah diumurnya yang ke - 17 dengan seseorang yang 5 tahun lebih tua darinya.
