.
.
.
Disclaimer by Masashi Kishimoto
Another Extra Chapter
From Narusasu Daily Life
.
.
.
Hujan deras.
Naruto baru saja menjemput Menma dari rumah mertua nya. Bocah berusia 3 tahun itu terlelap sambil mendekap tas boneka kyuubi nya. Saat matanya terpejam, Menma benar benar terlihat seperti Sasuke. Mereka kini sudah ada didepan rumah. Naruto menggendong Menma dengan hati hati, takut anak sematawayang nya itu terbangun
"Eunghh"
Raven cilik itu menggeliat pelan, membuat Naruto mengusap punggung nya dengan lembut agar ia kembali terlelap
"Kita sampai"
Bisik Naruto kemudian menidurkan Menma di ranjangnya. Kamar Menma terhubung dengan Kamar orangtuanya. Sasuke sangat protektif, apalagi saat anaknya itu tengah sakit. Tidak, bahkan jika menma bersin dihadapannya pun Sasuke bisa menyuruh menma istirahat saat itu juga. Naruto terkekeh pelan
Sasuke yang dingin itu.
Sasuke yang dulu memandangnya dengan datar itu, kini sehangat matahari pagi.
"Dad.."
Menma menggumam pelan. Tangan kecilnya meraih jari Naruto yang hendak beranjak keluar
"Iya darl"
Usapan lembut dikepalanya membuat menma terpejam sesaat. Ia suka. Sangat suka saat Naruto memanjakannya. Ya, dibalik sifatnya yang terkadang jahil. Ia hanya cemburu saat daddy nya terus saja menempel pada papa Sasuke
"Maafkan menma dad.."
Naruto mengernyitkan dahinya. Menma berucap begitu lirih, anak itu jelas sekali sangat mengantuk. Apa ia mengigau?
"Mhmm?"
"Maaf menma pernah meninggalkanmu.. saat itu aku sangat sakit"
Manik biru terlihat dibalik kelopak mata yang hampir tertutup sempurna itu. Naruto hanya diam. Apa maksudnya? Ia bisa mendengar jelas lirihan itu. Menma tidak sedang sakit, bukti nya kini ia menyamankan diri dengan selimut tebalnya. Tak lama, suara dengkuran halus terdengar. Seiring dengan nafas yang mulai teratur. Menma sudah terlelap. Meninggalkan Naruto yang kini bertanya tanya dalam hati nya.
Sangat sakit? kapan Menma merasa sangat sakit?
.
.
.
Pagi ini Sasuke tidak ke kantor. Ia terserang flu berat setelah kehujanan semalam. Kegaduhan terdengar sejak pagi karena Naruto yang terus berteriak pada para pelayan untuk membawa ini dan itu kedalam kamar mereka
"Aku gerah dobe"
Ucap Sasuke yang kini dibalut selimut setebal tiga lapis. Lelaki manis itu sempat menggigil, dan sialnya si kuning Namikaze melihat hal itu
"Kau tetap disitu. Aku tidak mengizinkanmu kemana mana sampai buburnya matang"
Semakin tua Naruto jadi semakin menyebalkan. Setidaknya begitulah menurut Sasuke. Tubuh Naruto semakin tinggi dan berisi, otot tangan dan perutnya sudah tercetak sempurna berbeda dengan dulu saat pertama mereka menikah.
Ya, Naruto hanya anak remaja nakal dulu. Hobinya pulang tengah malam karena berkelahi sepanjang hari.
Tapi lihatlah dia sekarang, sedang sibuk memijit telapak kaki Sasuke. Mulutnya tidak berhenti mengoceh betapa penting kesehatannya. Naruto adalah anak dari seorang dokter. Walaupun rumah sakit tidak diwariskan kepadanya, ia tetap menjunjung tinggi nilai nilai kesehatan yang selalu kaasan nya terapkan
Rumah Sakit Tokyo jatuh ke tangan Karin Uzumaki.
Hal yang bijak, semua itu dilakukan oleh Kushina tanpa paksaan siapapun. Ia mewariskan rumah sakit itu pada keponakannya karena.. err bisa kalian bayangkan Naruto mengurus rumah sakit? tidak. Jangan dibayangkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Young Marriage
FanfictionNaruto si anak berandal dipaksa menikah diumurnya yang ke - 17 dengan seseorang yang 5 tahun lebih tua darinya.
