Davin menepuk pundak Devilo dan Aqsal, "Ada pak Tejo, balik ke lapangan!"
Sontak pandangan kedua nya mengikuti arah telunjuk Davin dan langsung ngibrit ke lapangan.
Mereka melanjutkan hukuman yang tadi sempat tertunda karena dehidrasi.
Mira dan Belva mulai menghitung sedangkan Davin, Devilo dan Aqsal masih berlari dan berlaga seperti orang kelelahan.
"23" ucap Mira.
"Ayo semangat satu putaran lagi!" Ucap Belva riuh.
Pak Tejo datang, "Bagaimana Mira?"
"23 putaran pak, satu lagi nih."
Dahi pak Tejo terlihat bergelombang, "Kok cepat sekali ya?"
Mira menggaruk tengkuk nya yang tak gatal, bingung memikirkan jawaban apa yang sekira nya pas dan masuk logika.
Mira berusaha mengendalikan mimik wajah panik nya, "Perasaan bapak kali. Saya lulus ujian matematika kok pak, gak mungkin salah hitung."
"Kalian curang ya?!"
"Astagfirullah bapak! Istigfar pak! Pemfitnahan itu lebih kejam dari pembunuhan pak! Bapak tau kan?" Ujar Belva membela diri nya dan Mira, padahal yang diucapkan Pak Tejo itu benar.
Namun, berbohong untuk kebaikan itu diwajarkan bukan?
"Ah yasudah terserah kalian!" Pak Tejo akhirnya mengalah. Dia memanggil Davin, Aqsal dan Devilo untuk kembali ke pinggir lapangan.
"Bapak harap ini yang terakhir kali nya bapak menghukum kalian."
Davin membelalakan matanya, "Emang bapak mau mati?"
Devilo mengelepak kepala Davin, "Bego lo!"
"Davin jaga ucapan kamu ya, kamu juga Devilo! 'Bego' itu bahasa kasar!"
Devilo nyengir, "Keceplosan pak."
Pak Tejo menghembuskan nafas pelan, dia lelah menghadapi kelima anak ini. Kelima nya sama sama selalu membangkang.
Jika Pak Tejo lengah sedikit, pasti sekolah ini akan hancur oleh mereka berlima.
Pak Tejo berdeham, "Bapak gak ngerti lagi sama kalian."
"Bapak emang gak pernah ngertiin kita." Sahut Davin.
"Kenapa kalian selalu membuat masalah yang memusingkan bapak?"
"Kenapa bapak selalu menghukum yang membuat kita kelelahan?"
"Davin kamu bisa diam?!"
Davin mendongak, "Dari tadi juga diem, gak lari lari saya pak."
"Harus dengan cara apa bapak mendidik kalian?"
"Emang selama ini bapak mendidik? Bukan nya cuma menghukum?" Ujar Aqsal. Wajah nya menatap Pak Tejo dengan tatapan menantang.
Belva menginjak kaki Aqsal membuat Aqsal mengaduh, "Apaah sih lo injek-injek!"
"Lo gak usah nyaut bisa kan?"
"Enggak. Udah otomatis keluar."
"Diem atau gue lakban mulut lo."
"Mending di lakban, bisa gue buka terus ngomong lagi."
Belva mengeram kesal, memang susah berbicara dengan manusia es berkepala batu seperti Aqsal.
"Apalagi kamu Devilo. Om kamu itu kepala sekolah disini."
"Terus?" Jawab Devilo. Mengapa jadi dia disangkut pautkan oleh partner gila si pembunuh itu?
"Kamu seharusnya bisa menjaga nama baik Pak Boan. Kamu seharusnya jadi anak baik disini, memberi contoh bagi siswa yang lain agar bisa memajukan sekolah ini."
"Tanpa saya jadi baik juga sekolah ini udah maju."
"Tapi kamu itu dijadikan contoh! Bapak sering menghukum siswa dan jawaban mereka pasti membawa bawa kamu."
"Entah mereka bilang mereka mencontoh kamu, entah mereka bilang bapak pilih kasih karena cuma menghukum kalian tanpa memberi surat peringatan untuk kalian. Bapak bingung harus bagaimana sekarang." Ucap Pak Tejo lagi.
"Salah mereka lah, ngapain mencontoh manusia biadab kaya saya. Saya gak pernah tuh nyuruh mereka buat mencontoh saya."
"Gak ada pilihan lain, saya sudah memiliki satu buku hukuman yang sebagian besar isinya nama kalian. Itu bisa sebagai bukti yang akan saya tunjukan kepada orang tua kalian. Nanti pulang sekolah ambil surat panggilan orang tua di kantor bapak."
"Kalian bisa masuk kelas sekarang. Bapak permisi." Pak Tejo melangkah menjauh dari kelima nya. Membiarkan mereka berdiri mematung karena terkejut dengan ucapan Pak Tejo tadi.
Surat panggilan orang tua?
Davin, Aqsal, Mira dan Belva mendengus kesal. Mereka sama-sama berfikir bagaimana cara nya memberikan surat itu kepada orang tua nya. Sedangkan Devilo, dia hanya butuh mental jika nanti ayah nya memukuli atau melempar nya dengan benda tumpul lagi.
***
vote and coment!
~🐥chimm.
KAMU SEDANG MEMBACA
Death
Mistério / SuspenseTerjalin persahabatan yg terdiri dari lima anak remaja di suatu sekolah. Persahabatan itu sudah sangat melekat dan sampai pada akhir nya mereka akan mati bergantian secara misterius. Ikuti lah cerita ini untuk mencari si pelaku..
