Dua puluh tujuh

247 11 0
                                        

Davin menahan lengan Aqsal, Aqsal berontak tapi tenaga Davin lebih kuat dibanding Aqsal.

"Jangan kabur banci. Selesain masalah baik-baik. Laki kan lo?" Ucap Davin dengan nada yang masih santai. Davin berusaha untuk tidak kepancing emosi.

Aqsal hanya menatap Davin tajam tanpa berniat membalas ucapan nya.

Tatapan nya beralih pada Devilo yang menatap nya dengan tatapan konyol ala Devilo.

"Lepas tangan gue anjing."

Davin melepas genggaman nya pada Aqsal, "Gue cuma mau lo minta maaf ke Mira."

"Lo gak bela Belva? Ga nyuruh gue minta maaf ke Belva?"

"Maksud lo apaan?"

Aqsal menarik ujung bibir kiri nya, membuat senyuman sinis ala Aqsal yang menjengkelkan. "Bukannya lo suka sama Belva?"

"Gausah ngawur bangsat!"

"Lo suka Belva Vin?" tanya Devilo dengan wajah polos bangsat nya.

"Enggak! Ngawur banget nih bocah tai. Berusaha ngalihin topik gue rasa."

Devilo menganggukkan kepalanya beberapa kali, "Baguslah. Biarin Belva buat gue."

Aqsal tertawa singkat mendengar ucapan Devilo. Ia sangat menyayangkan nasib Davin yang cukup malang.

Aqsal pun menepuk pundak Davin, "Kejar orang yang lo sayang, keburu di tikung sama sahabat lo yang bangsat ini." ujarnya dengan tatapan tajam yang mengarah pada Devilo.

Davin terdiam, sedangkan Devilo cengo tidak paham apa yang dimaksud oleh Aqsal.

"Gue cabut." pamit Aqsal.

Setelah Aqsal pergi meninggalkan keduanya, barulah Devilo kembali membuka suara.

"Maksud nya apaan sih?" tanya Devilo.

"Orang goblok kayak lu mah gabakal ngerti." balas Davin lalu bergegas pergi.

"Sejak kapan gue jadi goblok beneran?" gumam Devilo pelan.

***

Tinn Tinn.

Davin membunyikan suara klakson di depan rumah Aqsal. Ia berniat menyelesaikan semua nya 4 mata.

Pintu rumah terbuka, seorang pria paruh baya keluar dari pintu. Itu ayah nya Aqsal.

Davin turun dari motor, menghampiri ayah Aqsal dan menyalimi tangan gagah nya sebagai rasa hormat dan sopan.

Bangsat-bangsat gini Davin masih punya etika bre.

"Assamualaikum Om. Bisa saya bertemu dengan Aqsal?" tanya Davin berhati-hati, entah bagaimana ia bisa berbicara sebaku itu. Ia tau betul bagaimana watak Papah nya Aqsal, oleh karena itu ia akan ciut jika harus berhadapan dengan pria paruh baya itu.

"Walaikumsalam. Saya panggilkan sebentar."

"Iya makasih om."

Davin membalikkan badan nya ketika ayah Aqsal telah masuk kembali untuk memanggil Aqsal.

"Ngapain lo?" tanya Aqsal membuat Davin sontak membalikkan badan menghadap pria itu.

"Ikut gue sekarang."

"Kemana?"

"Cafe biasa."

Aqsal mengangguk, ia menutup pintu rumah, lalu berjalan mengikuti Davin. Kini keduanya menuju ke cafe dengan menggunakan motor.

Sesampainya disana, mereka duduk di tempat biasa. Di kursi paling pojok dekat dengan jendela.

Pelayan datang menghampiri keduanya, "Seperti biasa Mas?" tanya pelayan itu yang sudah hafal dengan pesanan mereka.

"Iya Mba." balas Davin.

Pelayan tersebut mengangguk kemudian pergi untuk membuatkan pesanan tersebut.

"Lo serius mau ngelepas persahabatan kita?" tanya Davin membuka suara terlebih dahulu.

"Kapan gue bilang gitu?"

"Berarti lo masih mau bertahan kan di persahabatan ini?"

Aqsal mengangguk sebagai respond.

"Lo harus minta maaf sama Mira Sal." ucap Davin serius.

"Gausah basa basi, gue tau tujuan lo itu mau bahas Belva."

Davin tersenyum, itulah yang ia sukai dari Aqsal. Walaupun mempunyai sifat yang dingin, tapi tak dapat dipungkiri jika Aqsal sangat mengerti dan paham tentang apa yang di rasakan oleh Davin.

"Lupain perasaan lo." ujar Aqsal.

"Kok omongan lo beda? Tadi di sekolah lo nyuruh gue buat kejar dia."

"Gue cuma mau mancing Devilo tolol. Lagian dari awal gue juga udah bilang, lupain perasaan lo."

"Tapi gue sayang banget Sal sama dia."

"Gue paham."

"Kalo lo paham, kenapa lo nyuruh gue ngelupain? Lo pikir ngelupain itu gampang?"

Aqsal menghembuskan nafasnya pelan, "Vin, gue ga suka persahabatan ini rusak karena cinta. Lo sayang sama Belva, dan Dave? Dia juga sayang sama Belva. Coba buka mata lo tolol."

"Tapi belum tentu juga kan Belva suka sama Devilo? berarti itu gajadi masalah buat gue."

"Gasuka? Lo ga liat sikap Belva kemarin pas lo kirim gambar?"

Davin terdiam tidak bisa menjawab.

"Gue tau alesan lo kirim tuh foto."

"Belum pasti juga kalo Belva suka sama Devilo Sal. Lo tau sendiri kan watak Devilo kayak gimana?"

"Terus lo mau bersaing sama sahabat lo sendiri?"

Davin pun kembali terdiam.

"Maaf Mas, ini pesanan nya sudah datang."

"Makasih Mba." jawab Davin kemudian pelayan tersebut tersenyum ramah dan pergi.

"Gu--"

Ucapan Davin terhenti karena suara dering ponsel Aqsal.

"Belva telpon." ujar Aqsal.

"Yaudah angkat."

Aqsal menggeser tombol hijau yang tertera di ponselnya, "Kenapa?"

"Lo dimana?" tanya Belva ketika telfon tersambung.

"Cafe biasa."

"Gue kesana ya, ada yang pengen gue omongin."

"Gc."

"Sippp."

tut tutt.

"Ngapain dia?" tanya Davin ketika melihat Aqsal telah selesai dengan telfon nya.

"Belva mau kesini, katanya ada yg pengen di omongin."

"Baguslah, mumpung masih ada gue disini."

"Serah lo."

"Gue pesenin dulu minuman buat my baby princess."

"Alay." cibir Aqsal yang di balas kekehan oleh Davin.

***

Vote ya :)
🐯Blanktae.

DeathTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang