Suatu siang di awal tahun 2008, hujan turun cukup deras menemani masa-masa liburan pergantian semester. Serri memasuki toko buku di sebuah mall dengan wajah sumringah. Ia selalu bersemangat tiap kali mengunjungi toko buku, meski harus basah-basahan karena ketemu hujan di jalan. Aroma buku-buku yang masih disegel membuatnya tak bisa berhenti mengatupkan kedua bibirnya demi menahan senyum. Toko buku memiliki berjuta kisah manis untuknya. Termasuk kisah pertemuannya dengan sang pacar baru.
* * *
Beberapa minggu sebelumnya, Serri yang mulai merasa bosan dengan rutinitas belajar memutuskan untuk hang out di toko buku meski nggak ada yang mau dibeli. Ia mengelilingi setiap bagian dan kadang berhenti di rak tertentu hingga berhasil mengumpulkan buku untuk dibaca di kursi yang disediakan. Ketika Serri asik menelaah buku panduan menggambar, anak laki-laki bertubuh jangkung terbalut seragam SMA duduk di sebelahnya. Anak itu membawa dua buah novel terjemahan dan tiga volume komik Detective Conan yang paling baru.
Serri adalah tipikal cewek yang tak terlalu peduli dengan keberadaan cowok. Ia memiliki dunia sendiri yang hanya berputar di hobi baca dan imajinasinya. Ia tak menyadari cowok yang duduk di sebelahnya adalah saudara dari salah satu sahabatnya.
"Eh? Serri kan?" sapaan cowok itu membuyarkan konsentrasi Serri dalam merekam detil panduan ke otaknya.
Serri mendongak dengan mimik terganggu. Ia menatap cowok itu tanpa berkata apapun.
"Gue Landri. Lo nggak inget sama gue?"
Mulut Serri membulat saat ia menyadari sosok yang duduk di sebelahnya. "Sorry sorry. Lo pangling sih. Sekarang jadi kurusan. Dulu kan pipinya rada isi. Udah berapa lama ya kita nggak ketemu?" Ia tampak merasa bersalah karena tak mengenali identitas cowok itu.
"Lo jarang main ke rumah sih," jawab Landri.
Serri terkekeh. "Iya. Lagi sibuk gara-gara bimbel sama pelajaran tambahan di sekolah."
"Lo ikut bimbel?" tanya Landri tanpa menatap Serri. Ia melipat kertas bagian paling atas untuk menandai halaman yang sedang dibacanya.
"Sebenernya males sih. Tapi gue butuh bantuan buat ngadepin UN." Serri mengamati judul buku di tangan Landri. "The Alchemist? Seru nggak?"
Landri tersenyum. "Dapat review dari temen blog, katanya sih bagus. Bahasanya emang nyastra banget. Tapi masih gampang buat diikutin kok."
"Lo blogger?" Mata Serri berbinar mendengar pengakuan terselubung cowok itu.
"Iya," jawab Landri singkat.
Serri mengeluarkan ponselnya dan menyerahkan pada Landri. "Tulis alamatnya dong. Biar nanti gue mampir."
Landri mengetik alamat blognya seraya berkata, "Lo pake apa?"
"Sebenernya gue udah coba semua platform. Walaupun banyak yang bilang Blogspot paling lengkap, menurut gue nggak ada yang senyaman Multiply." Serri menjelaskan dengan antusias.
"Asik banget lo," puji Landri tulus. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. "Nomer handphone dong. Ngomong sama lo seru. Ada isinya. Nggak kayak Dame, susah nyambung."
Serri terbahak. "Dame kan jenius musik sama film. Bisa-bisanya lo bilang dia kosong."
"Tapi suka nggak nyambung tiap ngomong sama dia."
"Karena kalian beda minat, makanya nggak klop." Serri mengembalikan ponsel Landri setelah mencatat dan menghubungi nomornya sendiri.
"Mungkin." Landri mengangguk mengamini. "Temen blog gue bilang, buku ini bagus buat orang-orang yang lagi nyari jati diri dan bingung nentuin pilihan hidup. Kita bisa belajar dari tokoh Santiago dan perjalanannya mengejar mimpi berulang tentang harta di piramida Mesir."

KAMU SEDANG MEMBACA
The Chronicles of Senior Year [COMPLETED]
Teen FictionSekumpulan anak kelas 3 SMA yang menamai diri sebagai Keluarga Berantakan mengalami perubahan besar dalam pertemanan mereka. Hal itu terjadi sejak masa persiapan Ujian Nasional dimulai. Masalah percintaan, perbedaan gaya belajar dan cara menghadapi...