Ep 20 • Saat-saat Nggak Asyik

5 0 0
                                    

Rega, Dame, Serri, dan Nino berkumpul di meja Dame mengawasi Didan yang merebahkan kepalanya dengan lunglai di atas meja. Tadi pagi ia mengumumkan bahwa kelas harus membayar denda buat mengganti kaca jendela plus bayar ongkos kirim dan tukangnya. Didan pikir dengan menuliskan pengumumannya di papan tulis, anak-anak akan menyumbangkan uang mereka supaya bisa disetorkan hari ini juga. Tapi justru yang ia dapatkan malah keluhan dari hampir seluruh penghuni kelas. Mereka menolak bayar denda karena sudah ikut disetrap sebagai bentuk solidaritas atas azas terpaksa.

Rega mendesah panjang. "Ceroboh banget sih Didan sama Ardi. Kenapa bisa nggak sadar itu spidolnya permanen? Udah tau kelas mau dipake ujian, nanti enak dong yang tes di kelas ini, bisa nyontek rumus di jendela."

Nino menatap Ardi yang melipat kedua tangan di atas meja dan menenggelamkan mukanya di sana. "Dia juga jadi gitu tuh. Pura-pura tidur padahal lagi galau. Pasti mereka bingung mikirin duit buat nombokin dendanya. Jelas nggak mungkin kan minta sama orangtua. Bukannya dapat bantuan malah bakal kena omel abis-abisan." Nino berjongkok, menempelkan kedua tangan ke meja untuk kemudian meletakan dagunya di sana. Ia berbisik, "Kasian ya. Patungan nggak nih?"

"Iyalah. Masa kita ikut ninggalin mereka gitu aja," desis Dame.

"Gue lagi nggak punya tabungan sih. Dipake beli novel minggu lalu. Untungnya jatah mingguan udah dikasih kemarin. Nggak apa-apa lah nggak jajan beberapa hari, daripada liat mereka begitu." Serri menopang dagu, melirik iba pada Didan dan Ardi.

Dame mencolek lengan Serri, lalu nyengir. "Kita puasa aja. Jadi nggak bakal rugi kalo uang jajan kita dikasihin ke Didan."

Serri menoleh pada Dame. "Iya juga ya. Kebetulan gue masih punya utang dua hari lagi, tapi males banget puasa sendirian."

"Cukup nggak ya duitnya? Terakhir bayar denda besok kan?" tanya Rega.

Nino bangkit dari posisinya. "Kumpul di bawah pohon yuk. Biar ngobrolnya lebih bebas. Bisik-bisik gini nggak enak. Ajakin deh temen lo yang lagi ke toilet biar ikutan ngobrol. Dia juga pasti nggak enak kan liat Didan begitu?"

Dame dan Serri mendongak bingung dengan teman yang dimaksud Nino.

"Si Yuna. Ajakin sono. Yuk, No. Kita duluan aja," ajak Rega.

"Jangan lama-lama ya. Nanti keburu masuk," kata Nino sambil berlalu pergi bersama Rega.

"Yuna kan masih temen mereka juga. Jahat banget sih," desis Dame.

Serri tersenyum masam. Satu masalah belum selesai, sekarang datang masalah lain.

* * *

"Gue sama Rega udah ngobrol barusan. Menurut kalian gimana kalo kita ngamen?" ujar Nino. "Kan banyak tuh anak-anak kuliahan yang suka ngamen di tempat-tempat nongkrong gitu buat galang dana. Denger-denger yang gitu juga bisa dapet banyak lho."

"Tapi tempat nongkrong kayak gitu kan suka ada premannya. Kita nggak bisa seenaknya masuk ngamen di wilayah yang ada penguasanya. Meski itu ngamen buat amal, kita tetep harus minta ijin dulu sama mereka. Malah kadang bisa aja kita disuruh bayar," kata Serri.

"Dulu juga teater SMP gue pernah nyaris diserang. Padahal kita nggak minta uang dari penonton sama sekali. Cuma uji keberanian tampil di depan umum aja," curhat Dame.

"Jadi gimana dong?" tanya Nino, menatap teman-temannya satu per satu. "Gimana caranya biar kita dapat dana tambahan buat ngurangin beban Didan?"

Serri sebagai orang terakhir yang beradu pandang dengan Nino mengedikkan bahu seraya menggelengkan kepala lemah.

"Kalo bahasnya nanti lagi gimana? Udah mau masuk nih," saran Yuna.

"Tenang aja. Pak Deri masuknya suka telat kok," kata Rega saat anak-anak melirik jam tangan masing-masing.

The Chronicles of Senior Year [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang