"Wah! Nara udah lama nggak mampir. Tumben."
Ares dan Landri yang sedang main PS menoleh dengan segera saat mama yang duduk di sofa di belakang mereka menyapa Dame dan tamunya.
"Hei, tante. Apa kabar?" Nara tersenyum, mengulurkan tangannya untuk mencium tangan mama Dame. "Annyeonghaseyo."
Mama tergelak. "Tau aja nih anak, tante lagi doyan K-Drama. Ngomong-ngomong, kakak kamu yang sekolah di Korea itu kapan pulangnya? Mau oleh-oleh dong."
"Iya, nanti aku bilangin." Lalu Nara nyengir. "Tapi sekarang lagi pacaran sama orang sana sih, jadi susah disuruh mudik."
"Dasar!" kekeh mama.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Ares, kepalanya berputar 90º demi bisa melihat Nara lebih jelas tanpa harus merubah posisi duduk.
"Kok nggak sopan banget sih nanyanya, Res?" tegur mama.
Dame menggaruk kepalanya yang nggak gatal. "Nggak pa-pa kan kalo aku ajak Nara ke atas, mam? Dia mau ngajarin matematika, biar nanti nggak perlu nyontek pas ujian."
"Alibi banget sih!" dengus Landri.
"Bukan urusan lo!" desis Dame. Lalu menarik Nara yang tampak bingung ke lantai atas.
"Emang mau langsung belajar ya?" Nara mencondongkan kepalanya saat bertanya pada Dame yang langsung menjatuhkan diri ke sofa di depan kamarnya. "Katanya mau coba nulis lagu dulu."
Dame menghembuskan napas pendek. Ia memegang dadanya. "Yang ada di sini harus bener-bener dikeluarin dulu biar bisa ngertiin rumus-rumus."
Nara meraih gitar yang tergeletak di atas karpet. "Mana liriknya?"
Dame bangkit dan mengaduk-aduk isi tasnya untuk mencari buku TTS tempat ia dan Nara menulis lirik di kantin tadi. "Nih," katanya, lalu pindah duduk selonjoran di karpet.
Nara melirik tulisan mereka, mencoba mengingat melodi yang mereka buat dalam gumaman. "Perkiraan sih tadi nada awalnya C kan? Gini?"
Kening Dame bertaut di tengah. "Tapi liriknya cheesy banget nggak sih menurut lo?"
"Udaaaah. Sekarang mending bikin aja dulu. Keluarin ide-ide yang muncul di kepala. Edit-mengedit nanti aja kalo udah kelar," kata Nara.
"Iya juga sih." Dame mengangguk setuju. "Daripada nanti jadi nggak fokus. Apalagi gue kan butuh konsentrasi dan usaha keras buat temenan sama matematika."
Nara menyeringai sambil menatap Dame serius. "Percaya deh, kalo udah paham satu rumus aja, lo bakal mikir kayak gue: lebih gampang ngertiin matematika daripada orang."
Dame melirik Nara dengan hati mencelos.
Nara menepuk punggung Dame. "Nggak usah khawatir. Dia nggak bakal ke mana-mana kok. Kan lo sering bilang, temenan tuh kontraknya seumur hidup, biarpun jarak jadi renggang, suatu hari pasti balik sama-sama lagi. Bumi kan bentuknya bulat."
Dame cengengesan. "Asik ya, quote gue. Kayak quote vokalis band gitu."
"Terserah lo."
* * *
"Dam," panggil Landri, langsung nyelonong masuk ke kamar gadis itu.
Dame menaikkan selimutnya hingga ke dagu. "Gue mau tidur. Besok aja ngobrolnya."
Landri duduk bersila di ujung tempat tidur Dame. "Lo balikan sama Nara? Kok bisa? Katanya udah move on, mau cari cowok baru di Bandung."
Dame berdecak. "Cuma temen kok."

KAMU SEDANG MEMBACA
The Chronicles of Senior Year [COMPLETED]
JugendliteraturSekumpulan anak kelas 3 SMA yang menamai diri sebagai Keluarga Berantakan mengalami perubahan besar dalam pertemanan mereka. Hal itu terjadi sejak masa persiapan Ujian Nasional dimulai. Masalah percintaan, perbedaan gaya belajar dan cara menghadapi...