Landri menguap lebar dengan mata setengah melek. Di balik kaus biru lecek yang telah bertahun-tahun jadi piyama kesayangannya, tangan kirinya mengelus-elus perut tanpa sadar. Punggungnya bersandar ke sofa dengan kaki selonjoran di atas meja. Dame duduk bersila di atas karpet dengan setelah rapi seolah mau main. Dagunya ia rebahkan di atas meja hingga badannya sedikit membungkuk. Keduanya nonton TV tanpa bicara satu sama lain.
Kalender menunjukkan tanggal ke 14 di bulan Juni, hari di mana pengumuman kelulusan disebarkan ke pelosok tanah air secara massal lewat jasa tukang pos. Menunggu kedatangan pos rasanya bagaikan ninggalin konter HP karena buru-buru padahal pulsa yang baru dibeli belum nyampe―bikin harap-harap cemas.
Mama dan Ares harus masuk sekolah karena ini masih minggu terakhir sebelum libur. Lain halnya dengan papa yang saat ini sedang ditugaskan dinas luar daerah ke Bandung. Nunggu pengumuman di rumah aja udah grogi bukan main sampai nggak bisa mikir, gimana nunggu di tengah rapat bersama para pejabat tinggi? HP yang biasanya papa taruh di tas kalo lagi rapat, terpaksa dijejalkan ke saku celana biar bisa segera dilihat kalo ada pesan masuk.
"Permisi. Pos!"
Tanpa komentar, Landri dan Dame bangkit dari posisi masing-masing dengan rusuh dan berlari menuju pintu. Keduanya kompak membukakan pintu buat menyambut sang tamu yang telah mereka tunggu sejak pagi. Di balik gerbang, tukang pos menyambut mereka dengan cengiran lebar dan dua helai amplop di tangannya.
"Mudah-mudahan kabar bagus ya," kata tukang pos sebelum pamit.
Landri dan Dame mengangguk serempak, mengantar kepergian tukang pos dengan tatap tak sabaran. Begitu tukang pos menghilang di belokan, dua saudara ini langsung saling tatap dan selama beberapa detik seolah bermain staring contest alias lama-lamaan nggak ngedip.
"Buka barengan aja ya?" gumam Landri.
Dame mengangguk dalam diam.
Perlahan-lahan keduanya membuka amplop yang tampak direkat asal-asalan. Lem di beberapa bagian penutup tidak menempel sepenuhnya, bikin proses membuka amplop jadi lebih mudah. Lalu selembar kertas berwarna putih menyembul saat mereka membuka penutup amplop. Kertas putih sang penentu nasib.
Dame menutup amplop dengan cepat, mengapitnya di antara kedua telapak tangan. Matanya terpejam, berusaha meredakan rasa grogi yang berlebihan.
"Lulus..." Landri menggumam nyaris tanpa suara.
Dame membuka mata. Menunggu Landri mengulang perkataannya.
"YA AMPUN! GUE LULUS DONG!" Landri melempar kertas dan amplopnya ke udara. Menggoyang-goyangkan tangan dan bahu, berjoget seolah diiringi musik dangdut.
Dame cengo. Dia nggak ngeh kapan Landri buka kertasnya. Itu bikin perasaan Dame makin grogi nggak karuan. "Yeeah... selamat yaa... selamat lulus," ucapnya dengan suara bergetar.
Landri berjalan menuju rumah untuk mengambil ponsel dan memberi kabar pada teman-teman dan para kakak. Kemudian ia sadar Dame belum melihat isi kertasnya. Ia berbalik arah dan menghampiri Dame. "Elo? Elo? Gimana? Lulus juga kan?" Landri menunggu antusias. Ia yakin Dame lulus. Tapi keyakinan itu nggak ada artinya kalo belum lihat langsung hasilnya dari 'surat cinta' di tangan Dame. "Cepetan diliat. Biar bisa segera telpon orang-orang."
Dame terkekeh. "Iya, ini baru mau."
Landri menatap Dame dan amplop di tangannya bolak-balik. Keningnya mengernyit. "Katanya mau diliat, kenapa tangannya diem aja? Jangan nyengir garing kayak gitu. Jelek lo."
Dame menghela napas panjang dengan badan membungkuk. Sebelah tangannya memegang perut untuk memberi sedikit tekanan. "Gila, groginya lebih parah dari demam panggung."

KAMU SEDANG MEMBACA
The Chronicles of Senior Year [COMPLETED]
Novela JuvenilSekumpulan anak kelas 3 SMA yang menamai diri sebagai Keluarga Berantakan mengalami perubahan besar dalam pertemanan mereka. Hal itu terjadi sejak masa persiapan Ujian Nasional dimulai. Masalah percintaan, perbedaan gaya belajar dan cara menghadapi...