Ep 15 • SMS dari Mekkah

6 1 0
                                    

Setelah bosan leyeh-leyeh selama liburan, anak-anak SMA Laguna Ganesha merasa lega karena bisa kembali ke sekolah dan ketemu teman-teman. Tapi kesenangan itu nggak berlangsung lama bagi murid-murid kelas tiga. Pasalnya selesai upacara pagi itu, para senior dihebohkan oleh update peraturan pelaksanaan UN yang berubah lagi.

Berita posisi duduk yang membentuk huruf 'S' telah menyebar selama liburan, bahkan guru-guru pun mengkonfirmasi kebenarannya via telpon. Tapi ternyata posisi duduk kembali dirubah, dan kini jadi membentuk huruf 'Z' alias zig-zag. Posisi duduk absen satu dari ujung paling kanan, nomor dua mengikuti di belakang, dan seterusnya. Untuk soal A-B diposisikan zig-zag per dua baris mengikuti huruf 'Z'.

Sebenarnya urusan posisi duduk nggak terlalu jadi masalah untuk mereka. Tapi mereka nggak mau mengakuinya. Anak-anak itu kompak menjadikan posisi duduk yang terus berubah sebagai ajang untuk komplain soal UN itu sendiri.

Melihat anak-anak tampak kesal dan nggak mood beraktivitas, guru olahraga IPS 3 membebaskan mereka memilih cabang olahraga untuk hari itu. Anak-anak cowok langsung semangat turun ke lapangan buat main futsal. Kecuali Rega. Sebagai salah satu murid cowok berbadan tinggi dan punya bakat alami di bidang olahraga, harusnya ia turut serta dalam pertandingan. Tapi karena malas keringetan, ia berdalih sakit perut dan malah gabung sama gerombolan cewek-cewek di pinggir lapangan.

"Ehem, udah denger belum? Hari ini Yuna mau traktir kita lho." Rega tiba-tiba nyeletuk saat obrolan mereka menemui titik jenuh.

Dame langsung menoleh pada Yuna. "Eh? Dalam rangka apa? Please, jangan hari ini dong. Gue kan puasa."

Yuna mengernyit, berusaha mencerna maksud celetukan Rega. "Kapan gue bilang mau traktir? Ulang tahun gue kan masih jauh."

Rega menghujani Yuna dengan seringai usil saat berkata, "Untuk merayakan pencapaian baru lo kan? Akhirnya setelah tiga tahun jadi anak SMA lo punya penggemar rahasia juga."

"Apaan? Penggemar rahasia?" Dame melirik Yuna dengan genit.

Serri menyenggol bahu Yuna. "Cieee... punya penggemar rahasia nih. Cerita-cerita dooong. Siapa sih, Na?"

Yuna melotot gelagapan. "Bukan siapa-siapa kok. Si Rega ngaco nih."

"Jujur aja kali, Na. Lo juga seneng kan ada yang ngefans?" ledek Rega.

Yuna mendengus sinis. "Seneng apanya? Yang ada malah sebel gue. Masa tau-tau ada nomer asing nelpon terus nanya, 'ini sama syapa yahh?' Lah kan dia yang nelpon duluan, kenapa malah dia yang nanya siapa? Logikanya orang nelpon itu karena dia udah tau siapa yang mau ditelpon dan apa yang mau dibahas kan?" Jelas sekali ia merasa terganggu dengan obrolan ini.

Serri menepuk-nepuk punggung Yuna sambil nyengir. "Sabar, Na, sabar."

Dame terkekeh. "Banyak kok cerita kayak gitu. Orang yang terlalu takut buat kenalan sama orang yang dia suka biasanya pura-pura salah sambung buat mulai obrolan. Normaaaaal."

"Terus, Na, lo ladenin dia nggak?" tanya Serri penasaran.

Yuna menggeleng dengan bibir cemberut. "Buang-buang pulsa."

"Nggak pa-pa kali, Na. Siapa tau dia orangnya keren. Cobain aja dulu. Lo nggak tau kan, kapan jodoh yang tepat bakal datang? Anggap aja ikhtiar," ledek Rega asal-asalan.

"Jangan, Na. Cowok pemberani masih banyak di luar sana. Lo nggak lagi desperate kan demi punya cowok?" tandas Dame. "Makhluk yang namanya cowok, kalo kenalan aja nggak berani, bisanya cuma lewat SMS, gimana nanti ngelamar? Lo bayangin, itu ya calon suami lo ngelamar ke bokap lewat SMS. 'Om, boleh nggak saya nikahin anaknya? Bales'."

Yuna dan Serri terbahak. Dame kalo udah ilfil emang cenderung sinis dan berapi-api.

"Omongan lo dalem banget sih. Kayak penuh dendam gitu," ledek Rega.

The Chronicles of Senior Year [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang