"Syukur deh," ucap Rayna dan kembali melanjutkan makannya.
"Lo kenapa deh waktu itu nampar Changbon. Iya gak sih?" ucap Jeno sambil tertawa.
"Ya emang dia udah gila. Main nendang kepala lo, dikira kepala bukan bagian sensitif apa," tutur Rayna sambil menunjukkan wajah kesalnya.
"Berani banget lo waktu itu, kesambet apa?" tanya Jeno sembari meringis.
"Gatau gue juga heran," jawab Rayna sambil mengunyah makanannya.
Setelah makanan keduanya habis sekarang mereka minum sambil main hp masing masing.
"Rayyan, lo ngerasa gak sih, semakin kesini lo sering berurusan sama bk?" tanya Rayna yang membawa topik yang cukup dibenci sama Jeno.
Jeno cuma ngebales dengan ngangkat bahunya. Kalau boleh jujur, ini merusak suasana banget menurut Jeno.
"Gue sebenernya pengen minta sesuatu ke elo," ujar Rayna serius.
"Apa?" tanya Jeno.
"Kayaknya lo harus jaga jarak sama Mark," ujar Rayna lirih.
"Ya maksud gue bukan larang elo temenan sama mark gitu, enggak," tegas Rayna.
"Cuma ya jangan deket deket amat. Gue yakin lo anak baik baik, cuma pergaulan lo yang terus sama Mark itu salah, salah banget."
"Gue pengen lo jadi anak SMA yang normal, yang gak hobi keluar masuk bk"
"Gue juga pengen lo jadi siswa unggul dalam hal yang positif, nggak kayak sekarang," tutur Rayna cukup panjang.
"Lo kenapa masih bahas itu sih? gue gak suka"
"Lo gatau ray seberapa takut gue waktu kepala lo kena tendang Jisung. Gue kaya mau marah, khawatir, dan bingung saat itu," ujar Rayna dan mengingat kembali kejadian dulu.
"Gue gaminta lo buat khawatirin gue Rayna. Semua nya itu cuma pikiran lo aja yang selalu berlebihan ke gue, seakan gue ngelakuin dosa besar aja."
"Gini ya ray, kalo menurut lo gue salah, yaudah jauhin gue. Simple kan?" Jeno udah cukup muak sama penuturan Rayna. Bener bener ngeselin buat didenger.
"Kalo ada pertanyaan, siapa orang paling batu di dunia. Mungkin jawabannya Rayyan," batin Rayna sambil ngehela nafas.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.