BAB TIGA PULUH SATU

10.4K 520 19
                                        

RUDOLPH menapaki tangga menuju kamarnya dengan perasaan marah. Sepertinya Janette masih berfikir untuk memperpanjang pertengkaran mereka. Gadis itu sangat kuat sekali menyangkut prinsip-prinsip pribadinya. Tidak sia-sia jika orang-orang mengenalnya sebagai putri Gallion Melville yang terkenal sama kerasnya.

Ah, Apapun itu. Rudolph akan mengakhiri semuanya hari ini. Dia sudah tidak tahan lagi. Jika Janette memang ingin berpisah, maka Rudolph pastikan bahwa mereka akan berpisah. Tapi memikirkan hal seperti itu semakin membuatnya marah, ia akan melampiaskan amarahnya hari ini dan Rudolph harap, itu sama sekali bukan dengan pukulan seperti kemarin. Jika saja Ryan tidak mengeluh mengenai Janette yang tidak mau makan setelah hampir dua hari, Rudolph mungkin akan membiarkan semuanya berjalan apa adanya. Ia sudah tidak menemui Janette lagi setelah pertengkaran itu dan merasa sedikit lebih aman. 

Rudolph juga kesal dengan pertengkaran waktu itu, dan dia mengerti jika Janette juga sangat kesal mengingat betapa kerasnya tamparan Rudolph kepadanya. Tapi bukan berarti Rudolph akan membiarkan Janette menyiksa dirinya sendiri dengan tidak makan apa-apa sama sekali. Dia ingin mati? Lebih baik Rudolph membebaskannya daripada membunuhnya, bukan? 

Bunyi pintu menghempas tembok terdengar sedikit lebih keras. 

Janette tau bahwa Rudolph sedang sangat marah, tapi dia sama sekali tidak ingin menatapnya. Perasaannya sedang tidak menentu sekarang dan kesehatannya semakin memburuk. Seharusnya Janette tidak bertindak seperti ini. Tapi Rudolph sudah berani memukulnya dan itu sangat menyakiti hatinya. Hingga sekarang hati Janette mungkin masih sekeras batu. Ia selalu melarang dirinya untuk mengeluarkan air mata. Tidak untuk laki-laki tak berperasaan seperti Rudolph. 

“Jane, kau fikir apa yang kau lakukan?” Rudolph mendekati Janette yang bersandar di kepala ranjang. Ia menyelimuti sekujur tubuhnya dengan selimut yang biasa di kenakannya. Wajahnya menunduk. Bekas tamparan di pipinya sudah mulai membiru membuat wajahnya terlihat pucat. Rudolph memang sangat marah, tapi melihat penampilan Janette yang seperti itu membuat kemarahannya sirna. Ia mendekat, duduk di tepi ranjang tepat di sebelah Janette. 

“Kau mau marah-marah lagi?” Janette bertanya dengan suara serak. “Apakah kau ingin memukuliku habis-habisan?” 

“Aku memang marah, Jane. Tapi aku tidak akan memukulimu lagi. Aku berjanji, mungkin aku akan mencari cara lain untuk melampiaskan kemarahanku padamu, misalnya dengan ciuman seperti waktu itu…” Rudolph bermaksud membuat lelucon dengan mengingatkan Janette pada ciuman penuh amarahnya itu. Tapi Rudolph sama seklai tidak menyangka saat Janette mendekap kepalanya dan mencumbunya lebih dulu. Tidak begitu lama, tapi sangat dalam.

Rudolph membiarkan Janette menyeruak bibirnya dengan lidah lalu menjejalkan lidahnya dalam-dalam. Dan Rudolph merasa ada kemarahan disana. Seperti inikah rasanya di paksa bercumbu untuk melampiaskan kemarahan? Tidak buruk. Jika saja bibir Janette tidak sedang mengulum bibirnya, Rudolph pasti akan tersenyum. Rudolph berusaha menyentuh Janette untuk membalas ciumannya. Tapi saat menyentuh lehernya, Rudolph merasa panas mengalir ke sekujur tubuhnya. Kulit Janette seperti mengandung api. 

Rudolph segera menggenggam bahu Janette dan juga merasakan panas di kulitnya. Dengan sedikit usaha, Rudolph berusaha melepaskan Janette dari dirinya. Ia menatap Janette dalam dan gadis itu juga memandanginya. 

“Sudah cukup?” Tanya Janette. Akhirnya Rudolph tau kalau suara paraunya itu berasal dari mana. 

Diary LoliciousTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang