BAB DUA PULUH EMPAT
PAGI ini seharusnya Janette sudah bisa bangun. Itupun jika dia bisa tidur tadi malam. Tapi Rudolph yakin bahwa Janette tidak bisa tidur karena memikirkan apa yang sedang terjadi padanya. Atau lebih parah lagi, Janette pasti memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa melarikan diri. Tapi di tempatnya di kurung sekarang, Janette sama sekali tidak akan memiliki kesempatan untuk melarikan diri dengan terali di jendela dan pintu yang terkunci.
Rudolph sengaja menyewa rumah besar di pinggir sungai Manachil dengan aliran derasnya yang tidak memungkinkan Janette untuk terjun kesana jika ingin melompat dari lantai dua-seandainya gadis itu bisa melepaskan teralinya. Lagipula, rumah itu cukup indah dengan hamparan padang bunga-bunga berwarna kuning penuh semangat dihalamannya yang luas. Pagar yang terbuat dari susunan batu-bata itu juga sangat tinggi dan mustahil sekali bagi Janette untuk melompatinya seandainya dia bisa keluar dari kamar.
Yah, Rudolph terpaksa melakukan semua ini mengingat bagaimana keras kepalanya Janette yang tidak ingin menikah dengannya. Jika mengingat itu, Rudolph kecewa dan semakin merindukannya. Terlebih karena gadis itu menolaknya dengan alasan yang tidak jelas.Tapi Rudolph berjanji akan membuat Janette menentang perceraian yang di rencanakan Thomas nanti dan di saat hari-hari seperti itu datang, dia akan membawa Janette untuk hidup dengan tenang di Mansionnya yang baru. Rencana yang sempurna.
Pagi ini Rudolph berjalan dengan sangat santai untuk menemui Janette. Ia merasa jantungnya berdetak sangat cepat saat membuka pintu dan nyaris saja berhenti setelah pintu terbuka. Yah, dia hampir saja melupakan betapa menggairahkannya Janette setelah apa yang terjadi di antara mereka selama ini. Dan sekarang, hal itu menyeruak lagi. Janette sedang duduk di tepi ranjang sambil bersandar ke papan penuh ukiran yang ada di kepala ranjang. Kedua tangannya terlipat dengan sangat angkuh di depan dada yang di bungkus dengan selimut yang sedikit lebih tebal. Rudolph baru ingat bahwa Janette di bawa kemari dalam keadaan telanjang. Satu hal lagi yang membuat Janette harus berfikir keras untuk tidak melarikan diri dalam keadaan seperti itu.
Wajah Janette di buang kesamping, menatap cahaya jendela. Semula Rudolph kira, Janette sedang berfikir bagaimana cara agar dirinya bisa melarikan diri lewat celah itu dengan sangat aman. Tapi kemudian Rudolph mengerti bahwa Janette hanya tidak ingin melihat wajahnya. Gadis itu sedang marah. Demi keamanan Rudolph menutup pintu yang ada di belakang tubuhnya dan menguncinya rapat-rapat.
Ia ingin mendekati Janette di pojok ranjang dan memeluknya, tapi Rudolph membatalkan niatnya. Rudolph hanya memandangi Janette yang tengah marah. Kulitnya sangat berkilau dan itu berhasil membuat Rudolph menelan ludah. Hasratnya sudah jelas-jelas ikut berbicara saat ini, tapi Rudolph sadar bahwa meniduri Janette tidak akan semudah dulu. Terlebih gadis itu sudah berikrar untuk membencinya di malam pernikahan mereka waktu itu.
Kepala Janette mulai pegal karena menatap ke samping terlalu lama. Ia menanti Rudolph bereaksi dan mengatakan sesuatu. Tapi sepertinya laki-laki itu tidak ingin melakukan hal lain selain berdiri di tempatnya dan mungkin sedang mengamatinya. Dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Janette bersumpah. Tentu saja Rudolph boleh berfikir tentang apapun yang bisa di lakukannya kepada Janette.
Tapi dirinya sedang sangat kesal sekarang sehingga Janette mungkin tidak akan bisa berbicara dengan lembut dalam waktu yang lama. Ia mengingat lagi bagaimana dengan rumahnya di Puttaparthi. Rumah itu pasti kosong sekarang. Ia mengenang bagaimana pemandangan kamarnya sekali lagi saat kepalanya masih terbebas dari selimut yang membungkusnya sehingga Janette bahkan tidak tau kemana dirinya di bawa.
Oh, dia igin berteriak saat ini mengingat Rudolph masih tidak bereaksi. Dengan marah Janette memutar kepalanya dan memandangi wajah serius Rudolph. Hatinya merasa lega karena ternyata wajah tampan itu sudah kembali seperti semula. Tapi... Oh, ayolah, Jane. Bajingan seperti dia tentu saja sudah sangat sering di pukuli.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diary Lolicious
Roman d'amourJanette adalah putri dari bujangan Gallion Melville yang belum pernah sama sekali menikah. Jane jugalah orang yang mengubah hati Norma agar menikahi ayahnya- Gallion Melville. Janette dikelilingi bajingan-bajingan hidung belang selama kepergian oran...
