Chapter 2 🍁 Tamu Tak Diundang

2.4K 146 37
                                        

Adira masih sibuk dengan buku tulis dan beberapa buku cetak tebal dihadapan nya. Padahal bel istirahat sudah berbunyi 5 menit yang lalu.

Shinta tiba-tiba datang sambil berjingkrak-jingkrak di depan Adira. "Kenapa? Harga basreng menurun?"

"Ye otak lo basreng muluk, gue udah ketemu sama kakak kelas baru yang tadi pagi gue ceritain."

Adira hanya ber'oh' ria lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya. "Ya ampun ra gue jadi terpesona banget. Dia tuh keren banget gayanya, mukanya cool, tatapan tajam, rahangnya kokoh-"

"Rahang kokoh? Keningnya menonjol gak?" Sela Adira.

"Gak lah, emang kenapa kalo keningnya menonjol?"

"Syukur deh, Soalnya kalo rahang kokoh ditambah kening menonjol fiks dia Pithechantropus erectus 2018."

"Asal nyeblak aja congor lo, orangnya denger tau rasa."

"Biarin dong, kalo dia marah berarti merasa hhhaa." ujar Adira lalu tertawa geli membayangkan wajah murid baru mirip fosil yang diajarkan guru sejarah SMP.

Shinta melirik sebentar apa yang ditulis Adira "Lama amat lo nulis? Gue udah balik dari WC masih juga belum kelar."

"Gimana mau kelar kalo pikiran gue ke gorengan renyah di kantin." ucap Adira lalu menutup kesal buku tulisnya "Kantin yuk."

"Tapi traktir ya."

Adira mengecek beberapa lembar uang disaku"Yeee kebiasaan. Ya udah ayok"

Shinta tersenyum senang lalu menarik tangan Adira ke luar kelas. Keadaan kantin yang ramai tak membuat Shinta mundur untuk ikut mengantri membeli tahu bunting kesukaannya.

Sedangkan Adira hanya duduk di salah satu meja sambil menunggu pesanan dan memainkan ponselnya.

"Dek pinjem duit dong," Rolan tiba-tuba datang dan duduk di depan Adira. "Ntar di rumah gue balikin."

"Gak mau. Kan udah di kasih uang jajan masing-masing sama Mama."

"Duit gue abis buat benerin si ucul, dia tiba-tiba mogok."

"Bodo amat. Itu azab pinjem motor orang tapi gak mau ngisi bensin." Sindir Adira mengingat kelakuan Rolan tadi pagi.

"Elah gitu amat lo sama gue, mau jadi adik durhaka? Ntar kalo motor lo tiba-tiba mogok gue gak bakal bantuin." ketus Rolan pura-pura marah.

"Gampang, gue tinggal aduin ke Papa. Biar motor lo disita. Sana pergi, nafsu makan gue ilang liat muka lo."

Rolan menekuk wajahnya kesal mendengar ancaman Adira. "Nih siomay sama es jeruk lo, eh ada kak Rolan. Mau makan disini juga kak?" tanya Shinta melihat Rolan yang duduk di depan Adira.

"Ehm kebetulan ada lo, bisa pinjemin gue duit nggak? 10 ribu doang. Besok gue balikin pake bunga."

"Pake bunga? Beneran kak?"

Rolan mengangguk cepat "Iya, ada gak nih?"

"Boro-boro minjemin, dia aja minta traktir gue terus." Sahut Adira sambil memakan siomay pesanannya.

Rolan terlihat kecewa lalu hendak pergi. "Eh kalo buat kak Rolan ada kok. Nih, 10 ribu kan." Sambar Shinta cepat sambil mengulur uang sepuluh ribu kearah Rolan.

"Nah gitu dong. Gue pergi dulu."

"Tunggu kak. Denger-denger kak Rolan sekelas sama murid baru itu ya?" tanya Shinta.

"Althaf maksut lo?"

"Oh jadi namanya Althaf, keren banget!!" Gumam Shinta membuat Rolan mengernyit bingung. "Kenapa emangnya?"

ALTHAFCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang