Chapter 19 🍁 Terlambat

265 26 9
                                        

        Setelah memarkirkan mobil di garasi, Taufik masuk ke dalam rumah sambil mengendurkan ikatan dasi nya. Jam telah menunjukan pukul 22.00. Ia berjalan menuju dapur dan mengambil segelas air minum. Setelah itu ia hendak ke kamar dan dikejutkan dengan Bik Yuli yang muncul dari depan.

“Mau pulang bik?” sapa Taufik melihat barang bawaan Bik Yuli. Ini memang waktu nya perempuan itu kembali setelah beres-beres seharian. Karena letak rumah yang tak terlalu jauh, membuat Bik Yuli memutuskan untuk pulang pergi setiap hari.

“Eh iya pak. Baju bapak telah saya letakan di meja setrika dan di meja makan juga ada makanan kalau saja bapak lapar tengah malam.”

“Makasih ya bik.” Taufik memang tak mengizinkan siapapun masuk ke kamar pribadi nya. “Althaf sudah pulang?”

“Sudah pak, tapi tadi den Althaf ga makan lagi. Dia langsung masuk kamar.”

“Ya udah gapapa bik, yang penting dia sudah pulang. Bibik hati-hati pulang nya, kalau ada apa-apa langsung kabari saya.”

“Saya permisi pak, selamat malam.”

Taufik mengagguk lalu menuju kamar nya, sebelum itu Taufik menoleh ke lantai atas dimana kamar Althaf berada. Ia ingin mengatakan sesuatu namun sepertinya bukan waktu yang pas.

Taufik masuk ke kamar nya, menyalakan lampu, meletakan tas kantor yang hanya formalitas, melepaskan jas lalu menuju kamar mandi. Ini waktu tubuh dan otak nya disegarkan kembali karena bisa jadi besok beban yang di pikulnya semakin berat.

~A L T H A F~

Hanya dentingan sendok yang terdengar mengisi ruang makan pagi itu. Althaf berulang kali menolehkan kepala ke arah kamar Taufik. Tumben belum keluar kamar, fikirnya. Biasa nya sudah menghabiskan dua roti tawar dengan selai kacang.

“Papa gak kerja bik?” tanya Althaf kepada Bik Yuli yang membawa buah apel kupas dari dapur. “Kok belum keluar kamar.”

Bik Yuli mengikuti arah pandang Althaf. “Iya ya, biasa nya bapak sudah rapi jam segini. Bibik juga sudah selesai siapkan bekal makan siang. Coba kamu cek aja ke kamar nya, siapa tau kesiangan.” ucap Bik Yuli memerintah Althaf yang nampak hendak menyampaikan sesuatu kepada Taufik.

“Tapi..?”

“Kamu kan anak nya, bukan orang asing. Udah sana, bibik yakin bapak gak bakal marah.”

Althaf menimang sebentar, lantas ia beranjak dari kursi nya. Dengan perlahan mendekati kamar Taufik dan dengan sedikit ragu mengetuk pintu, “Pa udah siang, enggak ke kantor?” seru Althaf sedikit keras.

Hening. Tak ada jawaban dari arah dalam, membuat Althaf lagi-lagi mengetuk pintu. “Hari ini libur?” lanjut Althaf mulai sedikit merasa aneh.

“Udah masuk aja, kayak nya bapak beneran kesiangan. Kalo libur dia pasti bilang sama bibik semalam. ” sahut Bik Yuli dari arah belakang.

Untuk menghilangkan sedikit rasa cemas nya, Althaf memilih mengikuti saran Bik Yuli. Dengan cepat, Althaf memutar kenop pintu yang bahkan tidak dikunci dari dalam.

“Eh kok gak di kunci sama bapak?” gumam Bik Yuli, kemudian mengikuti langkah kaki Althaf ke dalam kamar.

Althaf memandang kamar Taufik yang terlihat suram, meskipun rapi namun aura sendu terlihat jelas disana. Kamar yang di dominasi warna coklat capucino dan diisi ranjang, meja kerja, sofa, dan juga sebuah lemari pakaian yang tak cukup besar. Di atas meja kerja sebuah figura foto keluarga nampak bersih meskipun telah lama di letakan disana.

ALTHAFCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang