PELAMPIASAN

299K 15.6K 800
                                        

Jam setengah enam sore, Salsa baru bisa pulang setelah rapat Osis. Kali ini Salsa pulang dengan mobilnya sendiri. Dia meminta Dandi untuk pulang bersama salah satu temannya tadi.

Salsa melajukan mobilnya dengan kecepatan normal. Melewati jalan yang masih ramai. Rintik hujan membasahi jalanan Jakarta sore hari.

Salsa merasakan ponselnya berdering, tanda bahwa ada yang menelponnya. Saat Salsa menatap layar ponselnya, yang dia lihat hanya digit angka saja. Tidak diketahui siapa penelponnya.

Salsa memutuskan untuk mengangkatnya saja. Siapa tau penting. "Halo, ini siapa?", tanya Salsa.

[Gue Lisa. Masih ingat?]

Salsa misuh-misuh di dalam hatinya.

"Mau apa lagi lo? Belum puas, udah ngambil dua harta berharga gue?", ucap Salsa sarkas.

[Santai lah, jangan kebawa emosi. Gue gak pengen ribut sama lo]

Salsa diam, memilih untuk mendengarkan ocehan gak penting dari saudari tirinya.

[Lo gak mau balik sama kita? Gue masih bisa kok, bujuk mama papa buat lo]

"Hah, gak kaget. Itu kan bakat lo", sindir Salsa.

[Jadi gimana? Lo mau balik gak, sama kita?]

"Sadar woi, yang seharusnya disebut 'kita' itu gue, mama, sama papa. Bukannya lo sama mereka. Lo ngerebut semuanya dari gue", Salsa kehilangan kesabarannya.

[Sal, bisa gak sih, lo gak ungkit itu lagi? Gue udah jadi bagian dari keluarga ini. Bahkan nama gue udah ada nama marga keluarga ini. Jadi, gue udah masuk dalam keluarga ini. Lo itu adek gue]

"Adek? Dan lo kakak gue gitu? Ogah. Lo pikir gue seneng gitu? Gue bangga gitu? Gue sama sekali gak bangga punya kakak kayak lo, Lisa. Kakak mana yang tega fitnah adeknya kayak apa yang dulu sering lo lakuin ke gue? Gak ada Lisa. Cuma lo yang se bangsat itu".

[Udah berapa kali gue minta maaf sama lo? Gue ngelakuin itu demi kita]

"Kita? Hahahaha. Cuma lo yang diuntungin, bukan gue. Bahkan gue dirugiin, Bangsat".

[Terserah, Sal. Gue capek ngomong sama lo. Jangan heran, kalo mama sama papa makin benci sama lo]

"Bangsat!!! Lo pikir gue gak capek apa? Jangan bersikap seolah lo yang dirugiin!!! Gue yang dirugiin di sini. Dan lo yang pura-pura sedih, lo yang pura-pura capek. Apa daya gue yang selama ini jadi korban muka dua lo? Coba lo pikir, baru ngomong!!!".

Tut Tut Tut
Sambungan itu diakhiri Salsa begitu saja. Dia muak dengan semua ini. Sejurus kemudian, Salsa menambah kecepatan mobilnya. Bisa kalian sebut ugal-ugalan.

Emosinya tak terkontrol kali ini. Beberapa kali dia mendapat bunyi klakson dari pengendara lain, karena cara mengendaranya. Salsa tak peduli lagi.

Tiba-tiba...

Untuk menghindari pengendara motor yang ada di depannya, Salsa membanting setir ke kiri. Dan...

Bruakkk...
Mobilnya mencium sebuah pohon besar yang ada di tepi jalan. Tubuh Salsa terhuyung ke depan, terbentur setir mobilnya. Darah segar mengucur deras dari keningnya. Bagian depan mobilnya mengeluarkan asap yang mengepul.

Perlahan, muncul beberapa orang membentuk kerumunan. Salah satu dari mereka mengeluarkan tubuh Salsa dari dalam mobil, dan membawanya ke rumah sakit terdekat.

🦄🦄🦄

Setelah dihubungi oleh pihak rumah sakit, Dandi terkejut dan segera menuju ke sana. Tentu bersama ketiga sahabatnya. Ketiganya juga tak kalah terkejutnya. Tidak ada yang menyangka kalau keadaan menjadi seperti ini.

ARJUNA [TERBIT DI GLORIOUS PUBLISHER]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang