"Pangeran Om" panggilku.
Dia melirikku sekilas lalu kembali melanjutkan membaca buku di perpustakaan yang ada di rumahnya.
"Pangeran Om" panggilku lagi dengan sedikit penekanan karena dia tidak menanggapinya sama sekali.
Lagi-lagi dia hanya melirikku sekilas tanpa menjawabnya. Aku benci jika di abaikan seperti ini.
Aku yang sedari tadi duduk di depannya langsung beralih menjadi duduk di sampingnya. Tetapi dia tetap diam dan terus membaca buku bersampul hijau tersebut.
Tanpa aba-aba aku mendekatkan wajahku kepadanya dan dia tetap diam tanpa pergerakan lagi, karena merasa sedikit kesal, Aku langsung mencium pipi kananya, 'cup' dengan sekilas.
Dia melirikku dengan tatapan aneh dan juga wajah polosnya. Aku langsung terkekeh geli melihatnya yang sedikit kaget, "Pangeran Om tuli, di panggil ngga mau jawab" kesalku dengan bibir yang sudah maju 1 cm.
"Iya" ucapnya sambil menggaruk tengkuk. Aku kembali terkekeh melihat tingkah lucu dan polosnya. Menurutku dia terlalu lugu untuk ukuran pangeran.
"Kamu baca apa sih Om, kayanya penting banget sampai-sampai Oom cuekin aku."
"Aku sedang baca buku tentang planet supaya tahu cara balikin kamu ke Bumi" katanya. Aku manggut-manggut mengerti sambil menatap kosong kedepan, "padahal aku ngga mau kembali ke Bumi Om" kataku diiringi kekehan kecil setelahnya.
Dia menatapku dengan kening yang berkerut, "kenapa?" Tanyanya. Aku mengangkat bahu acuh, "karena di Bumi ngga ada yang sayang sama Aku, beda seperti di sini," jawabku jujur.
"Om, main permainan yuk setelah itu Oom boleh kembali baca buku dan aku akan menunggunya sampai selesai," ajakku. Dia mengangguk menyetujuinya, "kita akan bermain Thruth Or Dare ya Om."
"Om, karena kita masih belum mengenal satu sama lain jadi pilihannya hanya T," lagi-lagi dia mengangguk tanpa berbicara.
"Jujur ya Om, sesuatu yang sangat Om impikan sekarang apa?" Tanyaku. Dia tampak berfikir sejenak, "menikah dengan orang yang selalu membuat jantung saya berdegup kencang."
Entah kenapa mendengar pernyataannya jantungku serasa hampir berhenti berdetak. Seperti ada sesatu yang menyakiti hatiku hingga aku merasa ingin menangis sekarang. Tapi dengan terpaksa aku menahannya dulu lalu kembali menatap Pangeran Om dengan senyuman, "wah, siapa namanya Om? Kenalin dong sama aku" ucapku.
Dia hanya menggeleng, "belum saatnya" katanya. Aku memajukan bibirku, "inisial aja deh Om," pintaku lagi.
"P" katanya singkat lalu entah kenapa aku kembali merasakan sakit itu. Aku merasa seperti menaruh harapan pada orang di sampingku ini.
"Sekarang giliran Aku Om, Om bisa tanyakan apapun sama aku" ucapku. Dia mengangguk sambil mengetukkan jarinya di meja, "jika ada seseorang yang mengajakmu menikah, apakah kamu akan menerimanya?"
"Ngga tahu Om, belum ada niat menikah karena saya masih pelajar" jawabku dengan jujur. Dia mengangguk lalu kembali membaca buku sesuai dengan perjanjian tadi.
"Om" aku kembali memanggilnya dan dia dengan cepat menoleh, mungkin dia takut jika aku kembali menciumnya.
"Kalo misalnya portal itu datang kembali dan aku langsung masuk kedalam portal tersebut tanpa pamit sama keluarga Zrugberk gimana Om?" Tanyaku lirih dengan tatapan sendu. Jujur saja aku ingin tinggal dan menetap di Pluto sampai kapanpun karena disini aku bisa merasakan yang namanya kasih sayang.
"Pasti kami akan merasa sangat kehilangan sosok makhluk aneh sepertimu" katanya. Aku terkekeh pelan mendengar jawabannya.
"Om salah besar, justru aku yang akan merasa sangat kehilangan kalian karena cuma kalian yang menyayangiku."
"Di Bumi, kamu masih memiliki masalah yang belum terselesaikan dan menghindari masalah bukan hal yang benar, lebih baik kamu kembali ke Bumi untuk menyelesaikan masalahmu terlebih dahulu barulah kamu bisa tinggal disini bersama kami semaumu."
Tanpa sadar sebulir air mata jatuh dan membasahi pipiku, "kalo aku kembali ke Bumi, apa aku bisa merasa bahagia seperti saat aku di sini?"
Dia mengangguk, "Tuhan punya rencana yang jauh lebih indah untukmu," aku memeluk orang yang sekarang sedang menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, sepertinya dia sangat tulus menatapku saat ini.
"Om, terimakasih karena telah memberikanku sebuah kebahagiaan, Aku sayang kamu Om."
Tanpa sadar, dua orang yang sedang berpelukan itu memiliki rasa lebih satu sama lain tapi mereka berdua belum menyadari perasaan aneh tersebut. Setiap bersama, jantung mereka berdegup lebih kencang dari biasanya. Setiap moment yang mereka ciptakan tentu akan ada hasilnya, entah itu cinta atau sebuah perasaan belaka. Entahlah, hanya dua makhluk itu yang mengetahuinya.
"Om belum punya pacar?" Tanyaku seraya melepaskan pelukan tersebut dengan enggan. Aku merasa ada sebuah magnet yang mengikatku untuk terus memeluknya.
Yang ditanya hanya menggeleng dengan lugunya. "Aku punya satu permintaan nih Om," ucapku sambil menaik turunkan alisku.
"Permintaan apa?"
"Sebelum Aku kembali ke Bumi, Aku pengen jika Aku bisa cubit pipi Pangeran Om" kataku dengan senyuman yang terus merekah di bibir.
Dia megerutkan kening, "untuk apa?" Tanyanya.
Aku merasa malu terlebih dahulu lalu aku menjawab pertanyaannya, "karena aku ngerasa gemes liat wajah Oom yang kalo bangun tidur gantengnya sepuluh kali lipat," jawabku dengan jujur.
Dia malah terdiam mematung. Tanpa ragu aku langsung mendekatkan wajahku dengannya "boleh kan Om?" Dia tetap diam. Karena dia tidak merespon, aku langsung mencubit kedua pipinya dengan gemas seraya berkata, "gemes banget liat Oom, pengen di bawa ke Bumi deh" kataku.
Tanpa sadar, mereka saling tersenyum satu sama lain dan mereka juga merasa jantungnya sedikit aneh karena terus berdegup kencang.
Menghindar dari masalah, bukan sesuatu yang pantas di lakukan karena sampai kapanpun masalah tersebut akan ada sebelum di selesaikan.

KAMU SEDANG MEMBACA
BAWA AKU KE PLUTO
Fantasy"Bawa aku ke Pluto" ucapnya dengan nada lirih diiringi air mata. Tiba-tiba terdapat sebuah cahaya yang menyilaukan indra pengelihatannya, "Portal?" Ucapnya tidak percaya. Menurutnya portal hanya ada di dunia fantasi, bukan di dunia nyata. Dengan pen...