08

50 6 0
                                    

Aku sudah mencoba ribuan posisi tidur, tetapi tidak kutemukan satupun posisi yang bisa membuatku sedikit nyaman tidur di ranjang empuk ini.

Mungkin penyebabnya karena tidak ada AC disini sehingga aku merasakan gerah yang berkepanjangan di dalam ruangan ini.

"Panas banget sih!" Kesalku lalu beranjak dari kasur. Aku berdiri kemudian pergi menuju kamar Pangeran Om.

'Tok tok tok'

Aku mengetuk pintuya dengan perlahan karena takut mengganggu tidur para pelayan.

'Ceklek'

Terbukalah pintu tersebut dan menampakkan wajah Pangeran Om yang masih terlihat ngantuk dan belum sadar sepenuhnya.

"Pangeran Om" panggilku dengan bibir yang sudah maju 1 cm.

Dia mengucek kedua matanya lalu menatapku, "kamu ingin ke kamar mandi lagi?" Tanyanya. Aku menggeleng kecil, "saya ngga bisa tidur" keluhku.

Dia mengerutkan kening, "kenapa?" Tanyanya. "Panas" jujurku. Aku maklum jika aku tamu yang tidak tahu diri, sudah dikasih tempat tinggal yang nyaman malah ngelunjak.

"Jadi saya harus apa?" Tanyanya dengan wajah polos. Lagi-lagi dia terlihat begitu menggemaskan dan aku sangat ingin mencubit pipinya.

Aku menatapnya dengan tatapan memohon, "kipasin ya" pintaku sambil memegang lengannya.

Dia mendengus pelan lalu mengangguk. Kami berdua langsung masuk ke dalam kamar tempat  biasa aku tidur. Jika di Indonesia, mungkin kami sudah di katakan mesum oleh banyak orang yang tidak tahu kenyataan yang sesungguhnya.

Aku naik ke atas ranjang lalu mengambil posisi tidur. Pangeran Om duduk di sampingku sambil mengipasku seperti dayang-dayang kerajaan. Dia sungguh baik padahal statusnya adalah Pangeran di kerajaan Zrugberk.

"Makasih Pangeran Om" kataku dengan senyuman manis yang terus terulur di bibirku. Rasanya penderitaanku sudah usai ketika aku tinggal di Pluto.

Dia tersenyum lalu kembali mengipasku dan aku juga memejamkan mata sambil berdoa kepada Tuhan jika takdirku selamanya akan berada di Pluto bersama Pangeran Om dan Aunty ZRUGBERK.

'You are so beautiful baby.'

***

Aku menatap wanita berisik di depanku ini dengan jantung yang terus berdegup kencang. Dia begitu cantik saat tertidur, walaupun setiap harinya dia juga terlihat cantik. Wajah lucunya membuatku selalu terbayang-bayang di setiap malamnya.

Dia memakai baju selutut berlengan panjang. Baju itu adalah baju pemberian dari Ibuku, entah kenapa ibuku sangat baik padanya, sampai-sampai dia rela menyewa pembuat baju untuk membuat baju yang di inginkan wanita di depanku ini.

Saat kurasakan dia sudah cukup terlelap dan mataku juga mulai terserang kantuk, aku langsung  menaruh kipas itu di meja sebelah kasurnya. Aku menatapnya sejenak, ada hasrat di hatiku untuk mencium keningnya terlebih dahulu.

'Cup'

Aku mencium keningnya lalu membisikkan sesuatu di telinganya, "are you a Princess?" Lalu aku bangkit dan keluar dari kamarnya.

Aku kembali ke kamarku dengan senyum bahagia yang terus terulur di wajah. Entah kenapa aku merasa sangat bahagia bisa mengenal wanita sepertinya.

"Is it a love?"

***

"Selamat pagi Aunty" sapaku dengan senyuman yang merekah di bibir.

Orang yang kusapa juga ikut tersenyum, "selamat pagi Honey" katanya.

Aku melihat area dapur yang bisa dibilang sangat luas dengan mata yang berbinar. Dapurnya sangat rapi dan juga besar seperti dapur istana yang pernah kulihat di TV.

"Aunty masak apa?"

"Masak Parasta" katanya. Aku mengangguk karena aku sudah tahu bagaimana bentuk makanan yang dibilangnya.

"Kenapa bukan pelayan yang memasak untuk Aunty?" Tanyaku lagi. Aku tidak bisa menahan bibirku untuk tidak berbicara.

Dia terkekeh kecil, "khusus buat Antonio dan Kamu, jadinya Aunty yang memasak."

Aku mengangguk kembali, "Aku boleh minta Aunty ajarin aku masak Parasta ngga?" Tanyaku. Aku sungguh ingin belajar masakan Pluto.

Dia mengangguk, "tentu saja" ucapnya. Aku bersorak senang lalu dia mulai mengajariku cara memasak Parasta.

"Pertama, kamu ambil daun Asta terlebih dahulu" aku mengangguk lalu mengambil daun yang dikatakan olehnya. Daun tersebut berwarna hijau muda seprti bayam.

"Daunnya kamu cuci kemudian kamu potong-potong menjadi empat bagian," aku mengikuti perintah yang dia ajarkan, aku mencuci daun tersebut dan memotongnya menjadi empat.

"Setelah itu kamu masukkan ke dalam alat masak ini" tunjuknya. Aku mengangguk lalu memasukkannya. Setelah itu Aunty ZRUGBERK memberikan sedikit air dan bumbu di dalam masakan tersebut hingga wanginyapun sudah tercium sebelum matang.

"Kita tunggu beberapa saat ya, setelah itu makanannya sudah jadi dan bisa untuk dinikmati" katanya. Aku bersorak senang karena aku bisa memasak masakan Pluto dengan mudah berkat Aunty.

"Makasih Aunty, Aunty sudah mau mengajarkan saya cara memasak masakan Pluto" kataku dengan ramah, dia mengangguk lalu mengelus pucuk kepalaku dengan halus. Aku merasakan kasih sayang dari Ibu ketika di elusannya.

"Aunty, di bumi ada banyak makanan juga loh."

"Ohya?"

"Iya Aunty, ada nasi goreng, ayam goreng, pecel lele, bakso, sate, bubur ayam, rendang, burger, pizza, roti, kue bolu dan masih banyak yang lainnya deh," jelasku. Dia tersenyum melihat aksi gadis berisik di depannya ini, dia terlihat unik di mata sang Ratu.

"Nanti deh, kalo aku sudah tahu cara balik ke Bumi, aku bakalan ajak Aunty sama Pangeran Om jalan-jalan kesana" wanita yang di ajaknya berbicara hanya mengangguk dan juga tersenyum.

Mereka berdua kembali menatap masakannya yang masih bertengger di kompor.

"Sudah jadi" kata Aunty, lalu mereka menghidangkannya di atas piring emas dan membawanya ke meja makan yang sudah di tempati oleh Pangeran Om. Yang kutahu, Ayah Pangeran Om sedang ada urusan di kerajaan lain makanya aku tidak pernah melihatnya semenjak berada di sini.

Sesuatu yang tidak pernah ku harapkan akan terjadi sebelumnya, nyatanya terjadi lebih indah daripada harapanku.

BAWA AKU KE PLUTOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang