VIII

6.4K 777 49
                                        

"Kenapa lo senyam-senyum sendiri? Dah gila ya?" Gandi bergidik ngeri melihat sahabatnya tersenyum memandang ponsel di tangannya. Orang yang disindir pun sewot.

"Paan sih. Sirik lo!"

"Halah palingan juga lo lagi chat sama cewek-cewek random di Hago. Cewek-cewek yang hobi main ludo. Iya kan?"

"Sembarangan! Biarpun gue hobi main Hago, gue gak pernah deketin cewek-cewek random disana, njir! Lagipula seorang Nathanael Lazuar udah punya tambatan hati!"

Laki-laki yang sedari tadi berdebat dengan Gandi tak lain adalah Nathan, satu-satunya manusia diantara Ali, Aldi, dan Gandi yang sangat menyukai Hago. Biasanya, jika Nathan senyum-senyum seperti sekarang, kemungkinan nya hanya dua; ia bertemu perempuan cantik di Hago atau ia memenangkan permainan Hago berkali-kali. Tapi sekarang sepertinya bukan kedua alasan itu yang membuat Nathan tersenyum, pikir Gandi. Apalagi beberapa kali Gandi mendengar ponsel Nathan berbunyi, tanda ada pesan masuk.

Gandi yang awalnya hanya duduk di kasur Nathan pun merebahkan tubuhnya sedangkan si empunya kamar justru asyik berdiri di dekat jendela, masih dengan wajah sumringah. Malam ini malam Minggu dan Gandi yang memang jomblo memutuskan untuk menginap di rumah Nathan. Tadinya Gandi mengajak Aldi dan Ali untuk ikut serta namun ternyata Aldi harus mengantar Mama nya pergi berbelanja sedangkan Ali bisa datang namun ia akan terlambat karena harus menemani Alya datang ke acara ulang tahun Nadia, teman SMP Alya.

"Jadi, siapa cewek itu?" tanya Gandi kemudian.

Bukannya menjawab, Nathan masih asyik mengetikkan sesuatu di ponsel nya. Karena tak sabar, Gandi pun bangkit dan mendekat tanpa Nathan sadari.

"Hahhh?!! Prilly?!!"

Nathan yang kaget pun segera menjauhkan ponselnya.

"Kepo lo!"

"Heh, Nat! Udah gila ya lo!" Gandi mendorong pelan bahu Nathan tapi Nathan tau, Gandi berniat untuk bicara serius.

"Kenapa sih? Gila gimana maksud lo?" tanya Nathan.

"Jangan bilang, cewek yang lo bilang tambatan hati lo tadi, Prilly?"

"Kalo iya, emang kenapa?"

"Nat!"

"Apasih, Gan. Gak jelas lo."

"Nat, selama ini lo buta ato gak peka ato emang lo nya aja yang bodoh sih?"

"Maksud lo? Sumpah, Gan. Gue gak ngerti apa yang lo bicarain."

"Alya, Nat. Alyaaa."

"Kenapa tuh anak?" Nathan masih juga tak mengerti.

"Dia suka sama lo, bodoh!"

"Hah? Gak mungkin lah!"

Gandi berdecak.

"Lo tau sendiri, dari dia masuk ke SMA kita, dia selalu nongkrong sama kita, tiap hari gak pernah absen."

"Ya itu kan karena Abang dia sahabat kita."

"Tapi Alya selalu merhatiin lo doang, Nat! Cuma elo! Tapi lo yang selalu sibuk main game. Entah Mobile Legends lah, Hago lah."

Nathan mulai tampak mengingat-ingat.

"Terus lo tau, setiap lo gak masuk, Alya selalu nanyain gue, lo kemana. Dia khawatir dia selalu ngira lo sakit parah sampe gak masuk sekolah. Bahkan kadang dia nitip obat buat lo ke gue. Obat yang gue bawa buat lo waktu itu, sebenernya bukan gue yang beli, tapi Alya, Nay. Alya." terang Gandi.

Nathan masih diam, sibuk menerawang. Ia ingat kala ia sakit typus lalu harus absen dari sekolah. Sore harinya, Gandi datang ke rumah Nathan masih dengan seragam SMA nya, untuk sekedar memberi Nathan obat. Saat itu Nathan tak berpikir macam-macam karena ia kira, Gandi memang berniat baik membelikan Nathan obat. Nathan tak pernah bertanya dan Gandi pun tak berani membocorkan karena dilarang oleh Alya.

UnrighteousTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang